----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada:
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Rabu, 27 Desember 2017 16.30.59
GMT+1Judul: [GELORA45] Trump Bakal Jadi Nama Stasiun Kereta di Yerusalem
Trump Bakal Jadi Nama Stasiun Kereta di Yerusalem
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Trump Bakal Jadi Nama Stasiun Kereta di Yerusalem - Kompas.com
Kompas Cyber Media
Jika disetujui stasiun kereta bawah tanah di Yerusalem tersebut akan memakan
waktu empat tahun dan anggaran hing...
|
|
|
AGNI VIDYA PERDANAKompas.com - 27/12/2017, 21:07 WIB
Tembok Barat yang ada di Kota Tua Yerusalem. Di lokasi tersebut rencananya akan
dibangun stasiun kereta yang akan menghubungkan Tel Aviv dengan
Yerusalem.(Thomas Coex / AFP)
YERUSALEM, KOMPAS.com - Menteri Transportasi Israel Yisrael Katz, berencana
memberi nama stasiun kereta cepat baru yang akan dibangun di Yerusalem dengan
nama Presiden Amerika Serikat.
Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Presiden Donald Trump
yang telah membuat langkah bersejarah dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu
kota Israel.
Dilansir dari The Guardian,Rabu (27/12/2017), stasiun baru yang akan dibangun
tersebut terletak di Tembok Barat, Yerusalem.
Baca juga: Terkait Yerusalem, Ada 10 Negara yang Disebut Siap Ikuti Jejak AS
Nantinya, stasiun bawah tanah itu akan dibangun lebih dari tiga kilometer di
bawah kota suci Yerusalem. Dan Tembok Barat menjadi tempat paling suci yang
digunakan kaum Yahudi untuk beribadah.
Juru bicara kementerian transportasi, Avner Ovadia mengatakan, proyek
perpanjangan jalur kereta cepat dan stasiun di Tembok Barat itu akan menelan
dana hingga 700 juta dolar AS (sekitar Rp 9,4 triliun).
Jika disetujui, proyek pengerjaan diperkirakan akan memakan waktu sekitar empat
tahun.
Rencana pembangunan stasiun bawah tanah tersebut diprediksi bakal mendapat
tentangan dari masyarakat internasional.
Terlebih pasca-resolusi Majelis Umum PBB yang menolak pengakuan Trump atas
Yerusalem. Selain itu masyarakat Palestina yang menginginkan Yerusalem Timur
sebagai ibu kota mereka di masa depan.
Penggalian terowongan menuju Tembok Barat juga harus dilakukan penggalian di
Kota Tua yang tentu bakal berdampak pada sisa arkeologi dan bangunan bersejarah
yang telah berusia 3.000 tahun, yang akan memancing reaksi dari organisasi
cagar budaya, selain masalah politik dan agama.
Baca juga: Ini Dia Pasukan Tank Tempur Perempuan Pertama Milik Israel
Namun, kementerian transportasi Israel tetap optimis rencana pembangunan bakal
disetujui.
"Tidak ada alasan mengapa stasiun kereta ini tidak dibangun. Kami telah
mengetahui bagaimana menghadapi oposisi yang tidak kalah sulit," kata Ovadia.