From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, December 29, 2017 2:50 AM
  



https://metro.tempo.co/read/1045762/sri-mulyani-mengkritik-jawaban-pemprov-dki-jakarta-tak-nyambung?PilihanUtama&campaign=PilihanUtama_Click_3


Sri Mulyani Mengkritik, 
Jawaban Pemprov DKI Jakarta Tak Nyambung 
Reporter: 
Friski Riana
Editor: 
Jobpie Sugiharto
Kamis, 28 Desember 2017 17:10 WIB 
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI 
Jakarta Tuty Kusumawati menanggapi kritik Menteri Keuangan Sri Mulyani soal 
anggaran perjalanan dinas PNS DKI Jakarta lebih tinggi ketimbang pemerintah 
pusat.

Alih-alih memberikan penjelasan yang tepat, Tuty justru membeberkan dasar hukum 
penyusunan anggaran perjalanan dinas.

"(Anggaran perjalanan dinas) ini didasari pada Peraturan Menteri Dalam Negeri 
Nomor 52 Tahun 2015 yang telah diubah dalam Permendagri Nomor 77 Tahun 2015," 
katanya di Balai Kota DKI pada Kamis, 28 Desember 2017.

Baca: Sri Mulyani Pertanyakan Anggaran Perjalanan Dinas DKI

Dalam peraturan itu, Tuty menerangkan, biaya perjalanan dinas daerah ditetapkan 
dengan keputusan kepala daerah berdasarkan asas-asas akuntabilitas, 
transparansi, kepatutan, kewajaran, dan asas ketersediaan atau kemampuan 
pendanaan daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri itu memberikan ruang kepada 
pemerintahan daerah untuk berhitung dan merasionalkan belanjanya, kemudian 
menyesuaikan dengan aspek-aspek tersebut.

Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RPJMD DKI Jakarta Tahun 
2017-2022 di Balai Kota, Jakarta, Rabu kemarin, Menteri Sri Mulyani mengkritik 
biaya perjalanan dinas pejabat di lingkungan pemerintah DKI Jakarta. Ia menilai 
angka yang dimasukkan ke mata anggaran itu terlalu gemuk.

Menurut Sri Mulyani, anggaran Rp 1,5 juta per orang per hari itu tiga kali 
lipat lebih besar dari anggaran serupa untuk pejabat pemerintah pusat, yaitu Rp 
480 ribu. Namun, dia tidak mempermasalahkan bagaimana anggaran itu digunakan.

"Mungkin pertanyaannya adalah apakah itu cara terbaik untuk memberikan 
insentif?”

Dia meminta sektor lain juga diperhatikan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies 
Baswedan. “Bagaimana dengan pengangguran, kemiskinan, kesenjangan, dan untuk 
tiga hal, infrastruktur, human capital investment, dan untuk reformasi 
(birokrasi)?" ucap Sri Mulyani.

Tuty lebih jauh menuturkan, berdasarkan kajian dari satuan kerja perangkat 
daerah (SKPD) dalam merumuskan biaya perjalanan dinas, maka ditetapkan anggaran 
perjalanan dinas sebesar Rp 1,5 juta per orang per hari. Ketetapan tersebut 
tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta pada 2016.

"Aspek-aspek yang ada di Permendagri ini dianggap sudah sangat terpenuhi ketika 
hal ini dibahas dan ditetapkan waktu bulan Mei 2016," ujarnya menanggapi kritik 
Sri Mulyani tanpa menjelaskan bagaimana perhitungan anggaran perjalanan dinas 
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.


--------------------------------------------------------------------------------

a.. Sri Mulyani 
a.. DKI Jakarta 

                                                                                
              ===============


https://metro.tempo.co/read/1045578/menteri-sri-mulyani-menantang-anies-sandi-di-tahun-2018-soal

Menteri Sri Mulyani Menantang Anies-Sandi di 

Tahun 2018 Soal... 
Reporter: 
Muhammad Hendartyo
Editor: 
Dwi Arjanto
Kamis, 28 Desember 2017 06:15 WIB 
 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani 
Indrawati di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 27 Desember 2017. Tempo/Hendartyo 
Hanggi

TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menantang Gubernur 
DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno atau 
Anies-Sandi untuk dapat mewujudkan ibukota Indonesia mendapatkan opini dari 
Badan Pemeriksa Keuangan, Wajar Tanpa Pengecualian(WTP) di 2018.

"Harusnya grade dari DKI itu harusnya invesment grade yang bahkan melebihi 
nasional. Karena kita banyak sekali di nasional itu ratingnya harus 
mempengaruhi banyak daerah yang lain. Jadi tolong pak Sandi sama pak Anies, 
kalau bisa kalahin saya dong dalam laporan keuangan," kata Sri Mulyani di Balai 
Kota DKI Jakarta, Rabu, 27 Desember 2017.
Baca : Sri Mulyan iPertanyakan Anggaran Perjalanan Dinas DKI

Hal tersebut Sri Mulyani sampaikan langsung saat sambutan pembukaan Musyawarah 
Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang Menengah Daerah(RPJMD). Dalam kesempatan 
tersebut juga hadir Anies Baswedan, Sandiaga Uno, dan wakil Ketua DPRD DKI 
Jakarta Mohamad Taufik. Sebelumnya juga dihadiri Menteri Dalam Negeri Tjahjo 
Kumolo dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 
(Menpan RB) Asman Abnur.

Menanggapi tantangan tersebut, Anies segera merespon beberapa jam kemudian. 
"Insya Allah paling tidak untuk tahun ke depan, kita tata dari sekarang 
sehingga tidak memunculkan masalah. Bahkan saya sampaikan juga realisasi pajak 
kita itu Alhamdulillah sudah mencapai bukan mencapai, sudah melampaui target," 
ujar Anies Baswedan.

Di bagian lain, Menteri Sri Mulyani juga mengkritisi biaya perjalanan dinas DKI 
Jakarta. Ia menilai perlu merasionalisasi dan mempertanyakan kembali apakah itu 
benar-benar cara terbaik untuk mengalokasikan anggaran.

"Daerah ini kalau bikin standar biaya lebih mahal dari pemerintah pusat. Kalau 
saya di luar DKI barang kali mengerti, ada perjalanan, kemahalan, dan yang 
lain. Tapi satuan harian biaya perjalanan dinas di DKI ini sama pusat hampir 
tiga kali lipat, Rp 1,5 juta per orang per hari di DKI. Standar nasional itu 
hanya Rp 480.000 per orang per hari. Padahal kita juga ada di DKI," kata Sri 
Mulyani.
Simak juga : Harga Solar Tak Naik, Menteri Jonan Minta Sri Mulyani Bayar 
Subsidi 

Sri Mulyani mengatakan tidak mempermasalahkan bagaimana anggaran digunakan. 
"Mungkin pertanyaannya adalah apakah itu cara terbaik untuk memberikan 
insentif, untuk memberikan insentif untuk perform. Untuk mengkaitkan dengan 
tujuan tadi, pengangguran kemiskinan, kesenjangan dan untuk tiga hal, 
infrastruktur, human capital investment, dan untuk reformasi (birokrasi)," ujar 
Sri Mulyani.

"Jadi mungkin di rasionalisasi dari sisi is it really the good way to spend 
your money?," tanya Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang 
masih tersimpan di perbankan sampai dengan November posisinya DKI Jakarta punya 
Rp 20 triliun, dari Rp 60 triliun. "Sepertiga masih di sana," kata Sri Mulyani 
lagi.


--------------------------------------------------------------------------------








Kirim email ke