http://www.suara-islam.com/read/kolom/opini/24598/Cahaya-Islam-Menerangi-Langit-Eropa
Cahaya Islam Menerangi Langit Eropa

28 Desember 10:49 | Dilihat : 2442

[image: Cahaya Islam Menerangi Langit Eropa] Ilustrasi: Umat Islam di Eropa

*Ariefdhianty Vibie H. *
*(Pengamat Sosial dan Politik)*

Pew Research Center, sebuah lembaga *think tank* Amerika, dalam studinya
mengemukakan bahwa perkembangan Islam di Eropa akan meningkat dua kali
lipat hingga 2050 mendatang. Lembaga tersebut telah melakukan survey kepada
28 negara Uni Eropa, serta Swiss dan juga Norwegia. Ada tiga skenario yang
digunakan. Pertama, pertumbuhan populasi biasa, artinya tanpa imigran dan
pengungsi. Kedua, pertumbuhan populasi dengan migrasi sedang dan ketiga,
perumbuhan populasi dengan migrasi dan arus pengungsi.

Dalam skenario zero migration, populasi muslim di Eropa diperkirakan
meningkat dari 4,9 persen menjadi 7,4 persen. Selain Siprus -- yang
memiliki jumlah muslim yang tinggi (25,4 persen) karena sejarah keberadaan
keturunan Turki di utara pulau itu-- Prancis akan memiliki pangsa populasi
muslim besar di Eropa dengan 12,7 persen, naik dari 8,8 persen. Dalam
skenario migrasi menengah - yang paling mungkin terjadi - Swedia akan
memiliki pangsa populasi muslim terbesar di 20,5 persen. Inggris akan
meningkat dari 6,3 persen pada 2016 menjadi 16,7 persen. Sementara itu,
muslim Finlandia akan tumbuh dari 2,7 persen menjadi 11,4 persen dan
sebagian besar negara Eropa bagian barat akan menghadapi lompatan besar.
Jika migrasi tinggi berlanjut sampai 2050, pangsa muslim Swedia akan tumbuh
menjadi 30,6 persen, lalu Finlandia sampai 15 persen, dan Norwegia mencapai
17 persen (news.detik.com, 01/12)

Terlepas dari migrasi, jumlah umat Islam di Eropa dipastikan akan tumbuh
dengan pesat melalui peningkatan yang alami. Muslim Eropa memiliki lebih
banyak anak daripada anggota kelompok agama lain, atau orang-orang yang
tidak beragama, demikian hasil penelitian tersebut. Tingkat kesuburan
rata-rata Eropa adalah 2,6 untuk umat Islam dibandingkan dengan 1,6 untuk
non-muslim. Populasi muslim juga jauh lebih muda dari non-muslim. Proporsi
muslim di bawah usia 15 tahun adalah 27 persen, hampir dua kali lipat
proporsi di bawah 15 tahun orang non-muslim yang sebesar 15 persen. Survey
ini menunjukkan bahwa populasi Kaum Muslimin di Eropa akan mendominasi di
10 tahun kedepan. (global.liputan6.com, 30/11)

Masuknya Islam di Eropa pada Masa Khilafah

Islam masuk ke Spanyol (Cordoba) pada tahun 93 H (711 M) melalui jalur
Afrika Utara di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad yang memimpin angkatan
perang Islam untuk membuka Andalusia. Sebelum penaklukan Spanyol, umat
Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu
provinsi dari Dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara
itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M).

Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat
dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka
adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Tharif
dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Sedangkan Thariq ibn Ziyad
lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar
dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku
Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab
yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat di
bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq
dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama
Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah
pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di Bakkah, Raja
Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya menaklukkan
kota-kota penting seperti Cordova, Granada dan Toledo (Ibu kota kerajaan
Goth saat itu).

Dari ekspansi inilah, Islam memasuki Eropa yang kala itu sedang berada
dalam zaman kegelapan (Dark Age). Kota-kota mereka kotor dan kumuh.
Masyarakat mereka miskin, sakit, dan menderita akibat pajak. Aqidah agama
mereka tergerus oleh sikap intoleran para penguasa kerajaan yang memaksakan
keyakinan pada setiap penduduknya. Kedatangan Islam seperti angin segar
bagi para penduduk Spanyol kala itu. Islam tidak memaksakan keyakinan para
penduduk Spanyol yang kebanyakan beragama Nasrani dan Yahudi.

Islam membawa cahaya dan kemakmuran di Spanyol di bawah naungan
kekhilafahan Bani Umayyah dan Abbasiyyah. Bahkan, Spanyol menjadi pusat
peradaban Islam nan megah. Sejak pertama kali Islam menginjakkan kakinya di
tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana sekitar tujuh
setengan abad lamanya, Islam memainkan peranan yang besar, baik dalam
bidang kemajuan intelektual (filsafat, sains, fikih, kesenian, bahasa dan
sastra), kesejahteraan hidup di bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan,
serta  kemegahan bangunan fisik dan taman-taman kota yang indah dan bersih,
tepatnya di Cordova dan Granada. Spanyol juga memiliki perpustakaan besar
yang bisa diakses oleh siapa pun yang ingin mencari ilmu, tak terkecuali
orang-orang Eropa di luar Spanyol, dimana ketika itu mereka masih berada
dalam kegelapan ilmu akibat dogma gereja. Islam menerangi Spanyol yang saat
ini termasuk ke dalam bagian wilayah Eropa Selatan selama kurang lebih
tujuh abad.

Berkat tegaknya syariat Islam, Spanyol yang berada di dalam masa kegelapan
bisa menjadi terang. Begitu pula dengan negara-negara yang dahulu bersatu
di bawah naungan kekhilafahan. Islam menjadi pemersatu berbagai bangsa,
kaum, etnis, budaya, dan negara melesat maju dalam peradaban manusia di
dunia selama kurang lebih 1300 tahun. Namun, adanya upaya konspirasi para
pembenci Islam dan kaum munafik, serta lemahnya penjagaan atas penerapan
syariat Islam, Khilafah runtuh pada tahun 1924. Hingga saat ini, cahaya itu
redup di tangan kaum Muslimin sendiri yang kalah oleh kegemilangan Barat.
Padahal Islam menjadi jalan bagi majunya perkembangan ilmu dan teknologi
yang ada di Barat.

“Balas Budi” terhadap Islam

Ibarat pepatah, air susu dibalas dengan air tuba, itulah yang dilakukan
oleh Eropa (kaum Barat) kepada Islam. Padahal telah disebutkan, Islam dan
Daulah adalah pintu bagi majunya peradaban, sains, dan teknologi Barat
hingga hari ini. Sejak Daulah Islam mengalami puncak kejayaannya, banyak
para kaum terpelajar yang bersekolah dan menimba ilmu di Daulah Islam,
sementara di dunia Barat mereka terjebak oleh kebodohan bangsanya. Dari
sanalah para ilmuwan Barat muncul dan menciptakan revolusi Industri bagi
bangsanya di Eropa. Namun setelah itu, justru Daulah Islam yang mengalami
kemunduran dari berbagai aspek. Ditambah adanya konspirasi oleh kaum kafir
Barat yang bersekutu dengan para munafik, sehingga terjadilah kehancuran
Daulah Islam yang menyengsarakan kaum Muslimin di belahan dunia manapun
hingga saat ini.

Barat juga yang menyebarkan teror dan fitnah keji terhadap kaum Muslimin,
mereka memutarbalikan fakta yang terjadi. Kaum Muslimin menjadi korban.
Saat ini kita melihat kaum Muslimin menderita oleh penjajahan Barat
(imperialisme) baik yang dilakukan secara fisik seperti yang terjadi di
sebagian negara di Timur Tengah, maupun secara pemikiran dan budaya seperti
yang terjadi di negeri Indonesia yang kita cintai ini. Islam difitnah
sebagai agama teror, intoleran, radikal, dan keras. Fitnah, kriminalisasi
dan persekusi ulama, serta islamofobia tengah marak di tengah-tengah
masyarakat saat ini. Namun, hal itu semua tentu tidak menyurutkan cahaya
Islam.

Islam adalah Fitrah Manusia

Begitu halnya di Eropa, sungguh, cahaya Islam tidak akan pernah redup
meskipun di sana masyarakat Muslim masih minoritas. Jumlah mu’alaf
meningkat di tengah-tengah ancaman Islamofobia. Dengan adanya data ini,
menunjukkan Islam adalah agama yang mudah diterima oleh semua pihak.  Islam
adalah untuk semua manusia. Islam sangat sesuai untuk fitrah manusia,
memuaskan akal, dan menenangkan jiwa. Selain itu, islam berbeda dari agama
lainnya, Islam bukan sekedar agama ritual belaka, melainkan agama sempurna
yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Mulai aktivitas kecil semacam bangun
tidur, masuk ke kamar mandi, tata cara makan, hingga hal besar termasuk
bagaimana menata keuangan negara, mengurusi kepemilikan negara, mengurusi
hajat hidup masyarakat yang heterogen, serta hubungan internasional, Islam
memiliki aturan. Tentu saja, aturan itu bukan dari akal manusia yang
terbatas, banyak kepentingan serta dipenuhi hawa nafsu, melainkan aturan
itu datang langsung dari Sang Khaliq, Allah Swt., yang menciptakan alam
semesta, manusia, dan kehidupan ini.

Oleh karena itu, Islam amatlah sempurna. Tidak ada yang bisa menghalau
cahaya Islam meski dengan cara canggih apapun. Allah Swt berfirman:

*“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-
ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan
cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.”* (QS.
At-Taubah: 32)

Saat ini dengan semakin jelasnya mana kaum munafik dan mana Muslim yang
hanif menunjukan bahwa kaum Muslimin semakin dekat dengan pertolongan
Allah. Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin sebentar lagi akan terwujud jika
masyarakat menuntut penengakan syariat Islam secara sempurna dalam seluruh
aspek kehidupan.* Wallahu’alam bisshawab*

Kirim email ke