https://x.detik.com/detail/investigasi/20180102/Hidup-untuk-Tawuran-Para-Berandal-Depok/index.php

INVESTIGASI


 Hidup untuk Tawuran


 Para Berandal Depok

“Biasa, tiap /weekend/ buat cari musuh.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Selasa, 2 Januari 2018

Sebuah jembatan di atas Sungai Mampang, tepatnya di Jalan Pramuka, Kelurahan Mampang, Depok, Jawa Barat, menjadi cikal-bakal nama geng ‘Jepang’, yang beberapa waktu lalu bikin geger karena menjarah toko pakaian di Jalan Sentosa Raya, Sukmajaya, Depok.

Di ujung jembatan berukuran lebar 2 meter dan panjang 10 meter tersebut berdiri sebuah warung internet berlabel KTC. Warnet itulah yang menjadi magnet bagi puluhan remaja untuk berkumpul saban hari.

Namun kini suasana di jembatan itu lebih sepi ketimbang biasanya. Saat *detikX* menyambangi lokasi tersebut pekan lalu, hanya ada 5-6 pemuda tanggung yang /nongkrong/ di jembatan tersebut. Salah satunya Doni (bukan nama sebenarnya). Remaja 17 tahun itu masih terhitung anggota geng Jepang alias Jembatan Mampang.

Doni mengatakan kondisi saat ini berbeda dengan sebelum penangkapan delapan temannya oleh petugas Polresta Depok beberapa waktu lalu. Apalagi mayoritas anggota geng berasal dari luar wilayah. “Mereka kebanyakan orang luar. Anak sini (Mampang) yang ikut hanya beberapa,” ujar Doni.

Geng itu sendiri berdiri pada 2012 atas inisiatif para remaja tanggung yang sering bermain di warnet KTC. Namun Doni tidak tahu siapa yang menjadi inisiatornya. “Saat itu saya belum gabung. Masih kecil (usia 12 tahun),” tutur Doni.

Tersangka gang Jepang ditangkap Polres Depok.
*Foto: Gresnia Arela F/detikX*

Menurut Doni, pemuda tanggung banyak yang /nongkrong/ di Jembatan Mampang karena warnet KTC bertarif murah, yakni Rp 3.000 per jam, dengan kecepatan koneksi /ngebut/. Mereka biasanya bermain /game/ Point Blank atau Dota.

Bahkan pengelola kerap menggelar /event/ lomba yang mereka sebut Banuak Event dengan total hadiah jutaan rupiah. “Rencananya, tanggal 23 Desember pengin ada /event/, namanya Banuak Event. Karena yang punya warnet nggak ada, jadi diundur waktunya,” ujar Doni, yang mengaku sudah tak bersekolah lagi karena malas.

   Namanya pada nguap (mabuk), ya sudah, pada ngambil-ngambilin. Saya
sih nggak ikut ngambil.” Soal aksi geng Jepang yang menjarah distro Fernando, Doni mengaku tidak tahu. Alasannya, dia tidak ikut saat malam kejadian. Dia pun menunjuk Ryan (bukan nama sebenarnya), yang duduk di sampingnya. “Tuh, yang lebih tahu. Dia yang ikut dibawa polisi waktu itu,” ujar Doni.

Ryan hanya senyam-senyum saja. Saat ditanya mengenai keterlibatannya, remaja 16 tahun tersebut mengelak ikut menjarah. “Saya memang ikut konvoi, tapi nggak ikut /ngejarah/, Bang,” ujar Ryan mengelak.

Ryan pun mengisahkan, pada malam kejadian, 24 Desember 2017, sekitar pukul 24.00 WIB, mereka berkonvoi menggunakan sepeda motor. Jumlah anggota geng Jepang yang ikut sekitar 40 orang.

Tujuan konvoi mereka adalah berkeliling wilayah Depok sehabis menenggak minuman keras di Jembatan Mampang. “Biasa, tiap /weekend/ buat cari musuh,” kata Riyan enteng.

////

Kepala Polresta Depok AKBP Didik Sugiarto dengan barang bukti senjata tajam geng Jepang.
*Foto: Gresnia Arela F/detikX*

Target awal mereka adalah anak-anak tongkrongan yang ada di wilayah Depok, seperti Pejambon, Jalan Djuanda, Cimanggis, hingga Kelapa Dua. Namun, karena empat lokasi sasaran mereka sudah sepi alias tidak ada remaja yang /nongkrong/, mereka pun memilih berkeliling ke Sukmajaya.

Nah, begitu melintas di Jalan Sentosa, kata Ryan, mereka melihat distro yang buka 24 jam. Distro itu pun mereka jadikan pelampiasan. “Namanya pada /nguap/ (mabuk), ya sudah, pada /ngambil-ngambilin/. Saya sih nggak ikut /ngambil/,” kata Ryan.

Menurut dia, yang melakukan penjarahan delapan orang. Mereka jugalah yang mengancam penjaga distro hingga lari terbirit-birit ke dalam toko.

Diakui Ryan, setiap akhir pekan geng Jepang selalu berkonvoi untuk mencari musuh. Mereka pun membekali diri dengan senjata tajam yang mereka bikin sendiri. Begitu bertemu dengan kelompok lain, tawuran pun tak terhindarkan. “Kita ke Pejambon karena anggota kita ada yang dibacok sama anak daerah itu,” katanya.

Dendam yang tidak tersalurkan membuat puluhan remaja tanggung yang sudah terpengaruh alkohol tersebut akhirnya mencari pelampiasan.

Tempat nongkrong geng Jepang
*Foto: Gresnia Arela F/detikX*

Soal geng Jepang, Ryan menyebut nama Adit sebagai ketuanya. Adit, yang berusia 17 tahun, juga sebagai pencetus ide nama geng Jepang. “Tapi sekarang dia jadi buron, nggak tahu ke mana. Belum tertangkap. Memang susah /nyari/ dia (Adit),” ujarnya.

Dipilihnya Adit sebagai ketua geng karena dia punya nyali saat melakukan tawuran. Dan syarat menjadi anggota geng Jepang salah satunya adalah berani berkelahi alias tawuran.

Sebelumnya, informasi yang dirilis Polresta Depok menyebut geng Jepang dikomandani Habibi, 18 tahun, mahasiswa semester pertama salah satu universitas di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Habibi saat ditemui di Polresta Depok juga membantah menjadi ketua geng Jepang. Dia hanya mengaku sering /nongkrong/ di Jembatan Mampang.

“Saya dari geng DBR (Depok-Bogor) karena saya sering /nongkrong/ di Vitara dan Sawangan,” kata pria yang berasal dari Cibinong namun mengontrak di Vitara, Depok, itu.

Geng DBR pimpinan Habibi diakui sering /nongkrong/ dan berkonvoi bareng bersama geng Jepang. Hal ini pun diakui Ryan. Menurutnya, geng Jepang berinteraksi dengan sejumlah geng yang ada di kawasan Depok maupun wilayah tetangga, seperti Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Jaringan geng Jepang antara lain geng Gengster Amerika, yang berlokasi di Kalisari, Cijantung, Jakarta Timur, yang dibilang Ryan paling sadis saat tawuran. Juga ada DBG pimpinan Habibi.

Geng-geng tersebut melakukan interaksi dan koalisi. Musuh mereka hanya satu, yakni geng All Satar, yang terdiri atas geng Inggris (Independen Garis Selatan), SERDADU, dan KM 22.

Habibi (memakai baju tahanan) di Mapolres Depok.
*Foto: Gresnia Arela F/detikX*

Kedua kelompok geng tersebut sering terlibat tawuran bila bersua. Mereka tidak melakukan balapan motor liar. Alasannya, mereka bukan geng motor, melainkan anak tongkrongan yang kebetulan sering berkonvoi naik sepeda motor. “Nggak (balapan). ‘Kids zaman now’ /mah/ nggak, Bang. Ha-ha-ha…,” begitu kata Ryan.

Untuk menjadi anggota geng Jepang, tuturnya, tidak ada syarat khusus. Yang terpenting punya keberanian berkelahi dan sering /nongkrong /di Jembatan Mampang tersebut dan akhir pekan ikut konvoi mencari musuh.

Namun saat ini Ryan kapok ikut-ikutan geng lagi setelah ditahan tiga hari di Markas Polresta Depok. Ryan dicokok polisi berpakaian preman saat berada di bengkel tidak jauh dari Jembatan Mampang.

Dikatakan dia, meski saat ini Jembatan Mampang sudah sepi, diperkirakan hal itu tidak akan berlangsung lama. Beberapa waktu mendatang akan kembali ramai oleh anak-anak yang /nongkrong/.

Namun, belum banyak bercerita soal aktivitas geng Jepang pascapenangkapan, remaja itu bergegas meninggalkan pembicaraan karena sang ibu berteriak memanggil.

------------------------------------------------------------------------
*Reporter:* Ibad D, Gresnia AF, Syailendra HW
*Redaktur::* Deden Gunawan
*Editor:* Irwan Nugroho
*Desainer:* Luthfy Syahban






Kirim email ke