Rabu 3/1/2018 | 00:00Teknologi Senjata - Bisa Hancurkan Radar THAAD
Tiongkok Kembangkan Rudal Hipersonik



Foto : istimewa

Misil balistik hipersonik ini bukan hanya ditujukan untuk menantang pertahanan 
AS, tetapi juga agar lebih akurat dalam menyerang target-target militer yang 
ada di Jepang dan India.
 

BEIJING – Pemerintah Tiongkok mengembangkan rudal hipersonik tingkat tinggi 
untuk menghadapi pertahanan Amerika Serikat (AS). Para analis militer menyebut 
ini artinya perang hulu ledak baru dengan teknologi mutakhir suatu saat nanti 
akan dilakukan Beijing dalam menghadapi sistem antimisil AS, Terminal High 
Altitude Area Defence (THAAD).

Menurut analis militer Tiongkok, misil balistik hipersonik yang baru bukan 
hanya ditujukan untuk menantang pertahanan AS, tetapi juga agar lebih akurat 
dalam menyerang target-target militer yang ada di Jepang dan India.

Penilaian para analis itu muncul setelah majalah asal Jepang, The Diplomat, 
mewartakan mengenai kekuatan roket Tiongkok ketika melakukan dua kali uji coba 
“hypersonic glide vehicle” (HGV) pada akhir 2017.

HGV atau dikenal pula sebagai DF-17, tidak berawak dan bisa menembus hingga ke 
lapisan atmosfer bumi dengan kecepatan super.

Angkatan bersenjata Tiongkok (PLA) menjalankan uji coba peluncuran misil 
balistik hipersonik pertama kali pada 1 November 2017, sedangkan uji coba kedua 
dilakukan dua pekan setelah uji coba pertama. Total kedua uji coba tersebut 
berjalan sukses dan DF-17 diproyeksi bisa beroperasi sekitar 2020.

Lebih Cepat

Dibanding sistem balistik konvensional, hulu ledak HGV bisa melaju dengan 
kecepatan jauh lebih tinggi, lower altitudes dan lintasan yang tak mudah 
dilacak. Pendekatan gaya baru ini membuat sistem pertahanan lebih efisien dalam 
mencegat hulu ledak sebelum menjatuhkan bebannya.

Sejumlah analis militer khusus Tiongkok mengatakan DF-17 merupakan satu dari 
beberapa iterasi sistem peluncur yang dikembangkan oleh PLA, termasuk DF-ZF, 
yang telah melalui setidaknya tujuh kali uji coba.

Menurut Song Zhongping, mantan anggota Pasukan Altileri Kedua PLA, DF-17 yang 
dipersenjatai merupakan prototipe DF-ZF. Sistem HGV bisa digunakan pada 
beberapa jenis misil balistik, termasuk misil balistik lintas benua dengan 
jangkauan setidaknya 5.500 kilometer.

Song pun menjelaskan beberapa hulu ledak HGV bisa digunakan pada DF-41, yang 
jangkauannya setidaknya 12.000 kilometer dan bisa menghantam wilayah daratan AS 
mana pun dalam tempo kurang dari satu jam.

Sedangkan pengamat militer, Antony Wong Dong, mengatakan HGV dapat digunakan 
untuk menyasar dan menghancurkan sebuah sistem antimisil AS atau yang disebut 
THAAD.

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengunduh sistem pertahanan antirudal THAAD 
pada tahun lalu untuk menangkal ancaman program nuklir Korea Utara (Korut) yang 
membahayakan. Akan tetapi, pemerintah Tiongkok melihat keberadaan THAAD ini 
sebagai sebuah ancaman terhadap sistem pertahanannya.

“HGV milik Tiongkok bisa menghancurkan sistem radar THAAD jika terjadi perang 
antarkedua negara (Tiongkok dan AS). Sekali saja radarradar THAAD gagal 
berfungsi pada level awal, maka ini bisa mengurangi kemampuannya untuk 
meningkatkan alarm sehingga membuat AS tidak memiliki banyak waktu untuk 
mencegatnya,” kata Wong.

Dalam laporan The Diplomat, uji coba peluncuran misil DF-17 dilakukan di 
Jiuquan, wilayah Mongolia dan terbang sejauh 1.400 kilometer selama uji coba 
tersebut.

Sebelumnya, The Diplomat memublikasi pemberitaan ini, pada Oktober 2017, Xinhua 
telah mewartakan teknologi yang ada pada HGV, yang dilengkapi dengan sebuah 
terowongan angin dengan berbagai antena.

Analis militer, Zhou Chenming, mengatakan teknologi HGV telah menjadi bagian 
dari strategi nuklir antara tiga negara kekuatan nuklir terbesar dunia, yakni 
Tiongkok, AS dan Russia. Dibanding dengan misil balistik konvensional HGV jauh 
lebih kompleks dan sulit untuk ditangkis.

“AS, Jepang, dan India seharusnya khawatir dengan pengembangan teknologi HGV 
karena bisa menjangkau target lebih cepat dan lebih akurat,” kata Zhou. 
uci/scmp/P-4

Kirim email ke