----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada:
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Rabu, 3 Januari 2018 01.29.50
GMT+1Judul: [GELORA45] Tiongkok Kembangkan Rudal Hipersonik
Rabu 3/1/2018 | 00:00Teknologi Senjata - Bisa Hancurkan Radar THAAD
Tiongkok Kembangkan Rudal Hipersonik
Foto : istimewa
Misil balistik hipersonik ini bukan hanya ditujukan untuk menantang pertahanan
AS, tetapi juga agar lebih akurat dalam menyerang target-target militer yang
ada di Jepang dan India.
BEIJING – Pemerintah Tiongkok mengembangkan rudal hipersonik tingkat tinggi
untuk menghadapi pertahanan Amerika Serikat (AS). Para analis militer menyebut
ini artinya perang hulu ledak baru dengan teknologi mutakhir suatu saat nanti
akan dilakukan Beijing dalam menghadapi sistem antimisil AS, Terminal High
Altitude Area Defence (THAAD).
Menurut analis militer Tiongkok, misil balistik hipersonik yang baru bukan
hanya ditujukan untuk menantang pertahanan AS, tetapi juga agar lebih akurat
dalam menyerang target-target militer yang ada di Jepang dan India.
Penilaian para analis itu muncul setelah majalah asal Jepang, The Diplomat,
mewartakan mengenai kekuatan roket Tiongkok ketika melakukan dua kali uji coba
“hypersonic glide vehicle” (HGV) pada akhir 2017.
HGV atau dikenal pula sebagai DF-17, tidak berawak dan bisa menembus hingga ke
lapisan atmosfer bumi dengan kecepatan super.
Angkatan bersenjata Tiongkok (PLA) menjalankan uji coba peluncuran misil
balistik hipersonik pertama kali pada 1 November 2017, sedangkan uji coba kedua
dilakukan dua pekan setelah uji coba pertama. Total kedua uji coba tersebut
berjalan sukses dan DF-17 diproyeksi bisa beroperasi sekitar 2020.
Lebih Cepat
Dibanding sistem balistik konvensional, hulu ledak HGV bisa melaju dengan
kecepatan jauh lebih tinggi, lower altitudes dan lintasan yang tak mudah
dilacak.. Pendekatan gaya baru ini membuat sistem pertahanan lebih efisien
dalam mencegat hulu ledak sebelum menjatuhkan bebannya.
Sejumlah analis militer khusus Tiongkok mengatakan DF-17 merupakan satu dari
beberapa iterasi sistem peluncur yang dikembangkan oleh PLA, termasuk DF-ZF,
yang telah melalui setidaknya tujuh kali uji coba.
Menurut Song Zhongping, mantan anggota Pasukan Altileri Kedua PLA, DF-17 yang
dipersenjatai merupakan prototipe DF-ZF. Sistem HGV bisa digunakan pada
beberapa jenis misil balistik, termasuk misil balistik lintas benua dengan
jangkauan setidaknya 5.500 kilometer..
Song pun menjelaskan beberapa hulu ledak HGV bisa digunakan pada DF-41, yang
jangkauannya setidaknya 12.000 kilometer dan bisa menghantam wilayah daratan AS
mana pun dalam tempo kurang dari satu jam.
Sedangkan pengamat militer, Antony Wong Dong, mengatakan HGV dapat digunakan
untuk menyasar dan menghancurkan sebuah sistem antimisil AS atau yang disebut
THAAD.
Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengunduh sistem pertahanan antirudal THAAD
pada tahun lalu untuk menangkal ancaman program nuklir Korea Utara (Korut) yang
membahayakan. Akan tetapi, pemerintah Tiongkok melihat keberadaan THAAD ini
sebagai sebuah ancaman terhadap sistem pertahanannya.
“HGV milik Tiongkok bisa menghancurkan sistem radar THAAD jika terjadi perang
antarkedua negara (Tiongkok dan AS). Sekali saja radarradar THAAD gagal
berfungsi pada level awal, maka ini bisa mengurangi kemampuannya untuk
meningkatkan alarm sehingga membuat AS tidak memiliki banyak waktu untuk
mencegatnya,” kata Wong.
Dalam laporan The Diplomat, uji coba peluncuran misil DF-17 dilakukan di
Jiuquan, wilayah Mongolia dan terbang sejauh 1.400 kilometer selama uji coba
tersebut.
Sebelumnya, The Diplomat memublikasi pemberitaan ini, pada Oktober 2017, Xinhua
telah mewartakan teknologi yang ada pada HGV, yang dilengkapi dengan sebuah
terowongan angin dengan berbagai antena.
Analis militer, Zhou Chenming, mengatakan teknologi HGV telah menjadi bagian
dari strategi nuklir antara tiga negara kekuatan nuklir terbesar dunia, yakni
Tiongkok, AS dan Russia. Dibanding dengan misil balistik konvensional HGV jauh
lebih kompleks dan sulit untuk ditangkis.
“AS, Jepang, dan India seharusnya khawatir dengan pengembangan teknologi HGV
karena bisa menjangkau target lebih cepat dan lebih akurat,” kata Zhou.
uci/scmp/P-4