Keterangan sekolah pada berita dibawah "Ijazah belum diberikan karena Fadila tidak pernah datang untuk cap tiga jari dan tidak ada iktikad mengambil ijazah" sedang keterangan dari pihak murid seperti pada berita Kompas wali kelas mengatakan "Malah dia jawab, sampean (Anda) punya uang berapa, terus kira-kira bisa diangsur sampai kapan, karena ini uang buat operasional sekolah" ha ha ha tak tahulah. http://regional.kompas.com/read/2018/01/02/19340591/kenapa-setelah-saya-bawa-surat-dari-pak-ahok-baru-bilangnya-gitu http://regional.kompas.com/read/2018/01/02/19340591/kenapa-setelah-saya-bawa-surat-dari-pak-ahok-baru-bilangnya-gitu
--- Fakta Menohok Terkait Usaha Ahok Menebus Ijazah Seorang Lulusan SMAN 3 Lamongan http://www.tribunnews.com/regional/2018/01/03/fakta-menohok-terkait-usaha-ahok-menebus-ijazah-seorang-lulusan-sman-3-lamongan?page=all Rabu, 3 Januari 2018 06:05 WIB Surya./Hanif Manshuri Plt Kacabdindik Wilayah Lamongan, Puji Hastuti, Kepsek dan Kasubag TU Heru Herijanto saat menjawab berita viral Fadilah Marreta, Selasa (2/1/2018) TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN - Beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan oleh adanya sebuah surat yang ditulis seorang siswi di di Lamongan. Isi surat itu adalah sang siswi meminta bantuan kepada mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau untuk biaya sekolah. Belakangan, kabar itu kemudian mendapatkan respon dari pihak sekolah. Berita Fadila Marreta, siswi SMA Negeri 3 Lamongan Jawa Timur terkait ijazah yang menurut pengakuannya ditahan pihak lembaga dan viral, mendapat respon Plt Kacabdindik Wilayah Kabupaten Lamongan, Puji Hastuti dan Kasek SMAN 3 Lamongan, Wiyono. Menurut penjelasan Wiyono seperti diungkapkan Puji kepada wartawan, Selasa (2/1/2018), Fadila memang siswa SMA Negeri 3 lulusan Mei 2017. Sejak pengumuman kelulusan, siswa ini tidak pernah lagi untuk cap tiga jari dan pengambilan ijazah. "Memang benar pada 28 Desember Fadila datang ke sekolah untuk menenui Tata Usaha, Sulistiyowati Fitriyah," kata Puji. Kedatangannya kemudian dilaporkan ke kepala sekolah. Fadilah datang bersama seorang perempuan yang diakui sebagai wali murid. "Mereka menanyakan nomor rekening sekolah dan minta rincian tunggakan sekolah," ungkap Wiyono. Fadila dan perempuan itu kemudian dipersilakan TU untuk masuk ke ruang kepala sekolah. Perempuan itu mengatakan, kalau Fadila menang lomba puisi Ahok. Tanpa menyebut kirim surat ke Ahok. Penasaran, Wiyonopun tanya kepada perempuan itu, untuk apa minta nomor rekening sekolahan. Dijawab perempuan itu, kalau rekening itu untuk menerima hadiah lomba puisi Ahok. Dan uang itu akan dipakai untuk mengambil ijazah dan membayar tunggakan sekolah, sembari perempuan itu menyodorkan HP ke Kepsek yang menunjukkan adanya percakapan dengan seseorang. Namun Wiyono menolak membaca tulisan percakapan dalam HP itu. Dan menandaskan kepala sekolah tidak perlu takut kalau berita ini menjadi viral. Namun Wiyono menolak membaca tulisan percakapan yang disodorkan perempuan itu karena tidak ada kaitannya dengan pengambilan ijazah dan sekolah. Kemudian Wiyono mengantar Fadilah dan perempuan itu ke TU. Barulah saat itu Fadilah membubuhkan cap sidik tiga jari dan ijazah diserahkan tanpa biaya apapun. Wiyonopun berpesan pada Fadila kalau menerima hadiah uang sebaiknya untuk modal atau melanjutkan pendidikan. Dalam catatan memang Fadila, ada tunggakan Rp 2 juta. Namun dengan disepakati oleh Komite, siswa yang lulus dianggap lunas. "Ijazah belum diberikan karena Fadila tidak pernah datang untuk cap tiga jari dan tidak ada iktikad mengambil ijazah," ungkapnya. Permintaan nomor rekening sekolah tidak diberikan karena Dinas Pedidikan Jatim tidak memperkenankan memberikan nomor rekening pada pihak lain yang tidak berkepentingan. Kalau ada siswa mendapat hadiah diminta membuka rekening atas nama pribadi.(Surya/Hanif Manshuri)
