Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang semacam
itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan belum menjawab
bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk menjawab masalah
kesejahteraan masyarakatnya harus jelas bagaimana sistim produksi yang
berlaku di dalam masyarakatnya, apakah berwatak exploitation de l'home
par l'home atau tidak kata Bung Karno.
 



Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800
schrieb "'Chan CT' [email protected] [nasional-list]"
<[email protected]>:

> Made in China
> Koran Sindo
> Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB
> https://nasional.sindonews.com/newsread/1266546/18/made-in-china-1513533508
>  
> Joni Hermana
> Staf Pengajar ITS Surabaya
> 
> SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan sa­ya,
> namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada hari tanpa
> produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?” Co­ba simak
> ba­gai­mana su­litnya s­e­orang ibu bernama Sa­ra Bo­­ngi­or­ni
> beserta ke­lua­r­ga­­nya di Ame­rika Serikat ber­­juang se­la­ma
> setahun un­tuk ti­dak meng­gu­na­kan barang yang berbau Chi­­na.
> Pe­nga­la­man luar bia­sa ini dia tulis da­lam bu­ku­nya yang
> be­r­judul A Year Wi­thout ”Made in Chi­na”. Atas eksperimennya itu,
> dia ter­nyata harus ber­­ji­ba­ku, ber­ken­daraan da­ri mal ke mal
> se­ke­dar me­n­cari se­buah ko­lam re­nang plastik un­tuk anaknya.
> Bayangkan! Ini sekadar un­­tuk menggambarkan bah­wa ti­dak mudahnya
> ki­ta melepaskan di­ri dari b­a­rang buatan China da­lam keh­idupan
> keseharian ki­ta, bahkan untuk negara ma­ju se­kelas AS sekalipun.
> Produk buatan negeri China su­dah merasuk ke da­lam semua sen­di
> ke­h­i­dup­an kita; di rumah, di se­ko­lah, tempat kerja, dan di
> mana-mana. Kalau bulan pun ada penduduknya, sudah dipas­ti­kan ada
> buatan negeri China di sa­na, he.. he.. Tak terkecuali kota suci
> Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua pernak-pernik per­alat­an ibadah
> umat Islam yang ada, hampir semua berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada
> tasbih, sa­ja­dah, kafiah, peralatan salat, ma­l­ah Alquran
> sekalipun, se­mua tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun produk
> me­reka ini sudah menjadi kes­e­ha­ri­an dalam hidup kita,
> ma­yo­ri­tas bangsa kita pasti akan me­ra­sa gamang kalau diminta
> u­n­tuk memakai, apalagi membeli, pro­duk berteknologi cang­gih da­ri
> negeri China. Se­tidaknya ki­ta akan ber­ta­nya masygul apa be­neran
> ya ? Sebab, branding  pro­duk buatan China yang ter­­ta­nam dalam
> benak ki­ta selama ini adalah untuk ba­rang remeh-t­e­meh dan -
> per­lu juga dicatat - yang mu­dah rusak. Wajarlah ketika kem­u­di­a­n
> Chi­na menampilkan produk-pro­duk mereka yang ber­tek­no­lo­gi tinggi
> dan modern di negara kita, ba­nyak orang yang me­ra­gu­­kan
> keandalannya. De­mi­­ki­an, orang-orang ber­ta­nya ke­ti­ka mulai
> banyak in­frastruktur di­ba­ngun oleh kontraktor Chi­n­a. La­lu,
> orang-orang juga ­ber­ta­nya ketika kereta cepat di­b­­a­ngun mereka.
> Tidak ke­ting­­gal­an orang-orang ju­ga bertanya ke­tika pem­bang­kit
> listrik di­ba­ngun me­reka... beneran nih ? Untuk menjawab
> ke­ra­gu­an se­p­erti ini, tidak sa­lah kalau di­rek­si PLN meng­ajak
> akademisi dan pa­ra insan media mengun­jungi pabrikan di China yang
> me­laksanakan pro­yek pem­bang­­kit di In­do­ne­sia saat awal
> De­sember b­e­be­rapa saat lalu. Apa yang di­li­hat memang sa­ngat
> berbeda de­ngan apa yang di­bayangkan se­be­lumnya. Ne­ge­ri China
> telah men­jelma me­n­ja­di negara de­ngan kemampuan tek­n­ologi
> cang­gih dan terkini. Se­muanya te­lah mereka kuasai. Sung­guh luar
> biasa! Ini sesuai de­ngan misi mereka yang ingin men­ja­di­kan
> semuanya ”made in Chi­na ” pada 2025. China ingin meng­ubah wajah
> brandingnya ti­dak se­kadar negara penghasil ba­rang kelontongan,
> tetapi juga ba­­rang berkualitas dengan di­men­­si teknologi tinggi,
> cang­gih, dan terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke
> tek­no­­logi luar angkasa. Tam­pak­nya cita-cita itu akan mudah
> ter­wu­­jud dengan kesiapan in­fra­struk­­tur dan sumber daya
> ma­nu­­sia yang mereka miliki. Yang mengagumkan juga ada­lah peran
> pemerintah yang de­mikian besar (baca: negara ha­dir!) untuk menjamin
> ke­ber­lan­jutan produk-produk ind­us­tri­nya, China telah menggelar
> ga­ris imajiner ”New Silk Road ” un­tuk memastikan aktivitas eko­nomi
> mereka jalan dan ber­lan­jut. Ini semua dengan me­man­faatkan potensi
> pasar yang ada di negara-negara Jalur Sutra me­reka, dari barat
> sampai timur dan dari utara sampai selatan du­nia...(jadi ngiri
> melihat triple he­lix  A-B-G mereka!) Melihat beragam teknologi
> mo­dern yang telah dikuasai bang­sa China, dapat disim­pul­kan bahwa
> dari aspek teknis, se­be­tulnya produk mereka tidak ada masalah..
> China hari ini bu­kan lagi China yang kemarin! Ar­ti­nya keraguan
> dalam ke­an­dal­an teknologi mereka akan hi­lang dengan sendirinya
> sejalan d­e­ngan waktu dan pengalaman. Toh, kita belajar, bagaimana
> k­e­tika tahun 1960-70an dunia nyi­nyir terhadap mobil ”ka­leng”
> buatan Jepang yang mulai ma­suk pasar ”menyaingi” mobil-mobil perkasa
> buatan Ame­rika dan Eropa yang saat itu me­rajai di jalan-jalan raya.
> Na­mun, seiring perjalanan waktu, ke­g­igihan dan inovasi yang te­rus
> dilakukan produsen Je­pang, mereka kemudian di­te­ri­ma bahkan
> digemari banyak orang. Sekarang Indonesia  ter­ma­suk negara dengan
> pe­r­sen­ta­se pemakai mobil Jepang ter­be­sar di dunia di samping
> Jepang itu sendiri! Belajar dari pengalaman itu, tek­nologi tinggi
> buatan negeri Chi­na pun akan mengalami fase dan pola yang serupa
> dalam me­ma­suki pasar di negara kita.
> 
> SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan sa­ya,
> namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada hari tanpa
> produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?”
> 
> (kri)

Kirim email ke