Lusi: orang Jerman sekarang ini sedang giat membongkar penghisapan dlm bentuk 
Sistem Menghindarkan Pajak yang dinikmati terutama oleh perusahaan-perusahaan 
besar multinasional. 
nesare: yang ini saja yang saya komentari. Yang lain2 biarlah kalian berdua 
berdiskusi. Saya lihat bung ingin mengatakan “menghindar pajak” ini adalah 
kesalahan kapitalisme? Kalau ini asumsinya bung, saya katakan bung salah. 
Kenapa salah? Karena menghindari pajak ini adalah urusan bisnis. Di ideologi 
apa saja kalau ada bisnis dimana perusahaan beroperasi dan harus bayar pajak 
akan selalu terjadi “penghindaran pajak” ini. kalau bung bisa menciptakan 
negara komunis dimana perusahaan yang beroperasi tidak bayar pajak, argument 
saya tidak berlaku. 

 

Lalu “penghindaran pajak” itu adalah lazim. Konteksnya adalah mengerti tax code 
dan bermain dalam koridor tax law nya. Ini legal. Diseluruh dunia kapitalisme 
inilah pekerjaan yang dijalankan oleh semua perusahaan dan begitu juga para 
consultant (PWC, EY, deloitte, KPMG) yang membantu dan mengaudit perusahaan2 
ini. 

 

Apakah bung menganggap “penghindaran pajak” ini illegal. Kalau illegal gampang 
sekali dituntut saja. Mereka2 ini perusahaan yang jelas dan kebanyakan 
perusahaan public serta diaudit oleh perusahaan konsultan pajak sebelum mereka 
file corporate tax mereka ke otoritas pajak dinegara masing2.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, January 7, 2018 5:27 AM
To: Hsin Hui Lin [email protected] [GELORA45] <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; Daeng <[email protected]>; Rachmat 
Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Harry Singgih 
<[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>; Gol 
<[email protected]>; [email protected]; Mitri <[email protected]>; 
Lingkar Sitompul <[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>; 
Billy Gunadi <[email protected]>; Oman Romana <[email protected]>; 
Harsono Sutedjo <[email protected]>; [email protected]; N. Nugroho 
<[email protected]>; Roeslan <[email protected]>; Lusi.D 
<[email protected]>; Jonathan Goeij <[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; Sie Tik Tan <[email protected]>; j.gedearka 
<[email protected]>; Tjoa <[email protected]>; A Awind 
<[email protected]>
Cc: Jonathan Goeij <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Re: [nasional-list] Made in China

 

  

Oh Selamat Tahun Baru 2018 dulu dongk.
To the point saja deh.

Hsin Hui Lin:

> > Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi
> > kalau di banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia......
> > Loo dari mana kesejahteraan yg di capai German...... datang dari
> > sorga atau dari hasil penghisapan manusia oleh segelintir manusia
> > yg menghadiri majority.... Tak langsung anda menikmati hasil
> > penghisapan itu.... Nyaman kan??

Lusi:

Saya hidup di Jerman dengan hasil kerja saya sesuai dengan tingkat
ke-akademian technical university yang telah saya tamatkan di Jerman.
Tidak mewah, tapi cukup untuk kebutuhan hidup normal sebagai orang
Indonesia yang menjadi warganegara Jerman akibat perlakuan yang tidak
manusiawi oleh rezim fasis Suharto atas hak sipil kewarganegaraan
Indonesia saya. Lah Bg. Lin terdampar di negeri hunian sekarang ini
sebagai apa? Setelah membaca jalan pikiran Bg. Lin di atas pada kalimat
".... Nyaman kan??", saya kok ingat semboyan di spanduk-spanduk pengikut
orbanya Harto dlm kampanye pemilihan umum ". . . jamanku biyen kan enak
tokh?" Apa metode berfikir bg. Lin sudah sejalan dengan orang-orang itu?

Nah kalau urusan kemakmuran Jerman yah yang aktual sajalah yang
bersifat global. Sementara lapisan menengah orang Jerman sekarang ini
sedang giat membongkar penghisapan dlm bentuk Sistem Menghindarkan
Pajak yang dinikmati terutama oleh perusahaan-perusahaan besar multi
nasional. 
Contohnya: Suatu Firma seperti Apple mendapat keuntungan berdasar
kegiatan penjualan iPhones yang dilakukannya di Jerman. Apple
mendirikan satu firma-kotakpos di satu wilayah negara yang mengadabtasi
sistim oase-pajak dan hak patent-nya dipindahkan ke firma kotak-pos
itu. Kemudian Apple mengirim rekening untuk membayar hak-lisensi yang
dibikin tinggi untuk setiap penjualan unit komoditi kepada
perusahaannya sendiri ke Karibik atau negeri Belanda. Di Jerman berlaku
hukum keringanan pajak kalau suatu firma mengalami rugi, sedangkan di
negeri sistim oase-pajak, keuntungan dipajak kecil sekali. Untuk tahun
2014 Apple dengan akal-akalan seperti itu Apple dikenai pajak hanya
0,005 prosen dari keuntungannya. Itu berarti Apple ditarik 50 Euro
untuk setiap keuntungan satu miliun Euro dari hasil usahanya. Karena
itu sekarang ini di Jermanpun sudah mulai timbul kesadaran melawan
penghisapan terutama yang terlihat dalam praktek perekonomian
neo-liberalisme.

Belum lagi kita bicarakan disini bagaimana langkah yang dilalui untuk
membuat handphone itu sendiri yang sudah melalui proses kerja yang
penuh penghisapan, termasuk yang made-in RRT. Jadi tahulah kita
bagaimana proses untuk menentukan harga dalam proses pembuatan ditambah
juga dalam bentuk-bentuk penghisapan setelah menjadi komoditi sesuai
doktrin ekonomi neo-liberalisme. Karena itu tidak sulit untuk
menggambarkan betapa besar proses penggelembungan antara nilai dan harga
sesungguhnya komoditi dari rendahnya ongkos produksi komoditi itu.

Hsin Hui Lin:

> > Sebagai ahli teori Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan
> > fakta, kenyataan", bagimana menilai kemajuan Tiongkok.Ngelamun tak
> > akan membawa kita ke masyarakat yg anda impikan Lin

Lusi:

Nah ttg definisi apa yang dikategorikan kebenaran, itu tergantung dari
pengetahuan dan pendirian tentang fakta-fakta dan kenyataan yang
difahami dan dianut oleh seseorang yang mengungkapkan pandangannya.

Ada dua segi sistim akumulasi kapitalisme: Satu melalui penghisapan
kerja upahan di dalamnegeri dan dua melalui perampokan kekayaan alam dan
hasil kerja kaum pekerja di seluruh penjuru dunia. Realisasi
perkembangan kapitalisme ke tingkat imperialisme dlm sejarah dunia
dibuktikan dengan perang penjajahan, penindasan dan perampokan terhadap
negeri-negeri koloni dan kekayaan baik alam maupun manusianya. 

Kalau menurut bung Lin dari mana akumulasi kapital RRT periode sejarah
perekonomian Tiongkok setelah RBKP? Apa pertumbuhan ekonomi yang di RRT
sekarang ini masih mengikuti pandangan politik dan ideologi Ilmu
Marxisme yang mengabdi rakyat itu atau mengabdi sejumlah lapisan orang
yang berhak istimewa?

Bung bisa menjelaskan mengapa negeri-negeri imperialis waktu itu
mensabot pembangunan dan menutup hubungan ekonominya dengan cara
mengembargo RRT yang justru masih lemah ekonominya sebagai akibat
tingkah-laku rezim Chiang Kai-shek yang korup dan menindas rakyat
Tiongkok itu? Dan mengapa begitu Teng Hsiao-ping berkuasa kok kaum
imperialis begitu antusias "membantu dan mendorong" perekonomian
Tiongkok dan melepaskan kurungan embargo politik dan ekonomi terhadap
RRT sejak lahirnya pada tahun 1949 yang dulunya ketat sekali?

Marxisme memandang arah maju tidaknya ekonomi suatu negeri dari sudut
pandang yang bertolak-belakang dengan pandangan borjuasi. Yang
disebut ekonomi baik itu tidak identik dengan baik untuk tingkat
kemakmuran rakyat. Karena itu yang diperdebatkan bukanlah benda-benda
atau material apa yang dihasilkan dalam suatu sistim produksi, tetapi
masalah bagaimana sistim proses produksinya. Manusia akan selalu
melakukan usaha berproduksi dalam masyarakat apapun untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Tetapi masalah kemakmuran dan kesejahteraan sosial
itu ditentukan oleh bagaimana sistim pendistribusian hasil produksinya. 

Di dalam sistim politik ekonomi di seluruh dunia hukum yang berlaku
universal yalah ditentukan oleh siapa yang memiliki kedudukan hegemoni;
yang dalam prakteknya diwujudkan oleh kepemilikan atas alat-alat
produksinya - milik individual atau milik masyarakat. Inilah yang
kemudian melahirkan sistim ekonomi kapitalisme atau sistim ekonomi
sosialisme. 

Mengapa kontradiksi dasar kepentingan dalam masyarakat kapitalis selalu
antagonis, karena disatu pihak sistim produksi dalam suatu masyarakat
itu senantiasa bersifat sosial seperti juga sifat manusia sebagai insan
yang berwatak sosial, sedangkan karakter kapital itu individual, artinya
tergantung si individu kapitalis yang memiliki alat produksi. Itulah
sebabnya mengapa si kapitalis itu ideologinya egoistis dan tamak.

Soal lamunan yang bung singgung itu. Syarat ngelamun itu terjadi pada
manusia yang sedang kebanyakan waktu tapi tidak punya kerjaan yang
bersifat sosial lagi tapi juga tergantung apa yang dilamunkan.

Manusia yang sadar akan sejarah perkembangan masyarakatnya berusaha
bertindak menciptakan syarat-syarat untuk mewujudkan keyakinannya itu,
tergantung bidang sosial apa yang dikuasai dan syarat-syaratnya yang
ada. Kecuali itu perkembangan masyarakat juga tergantung pada
kesadaran seluruh masyarakatnya. Berhasilnya zaman yang dicita-citakan
itu akan memakan waktu jangka panjang. Tidak tergantung pada masa hidup
orang per orang. 

Kalau pendapat saya, yang pantas disebut ngelamun itu adalah mereka yang
mengharapkan masyarakat sosialisme yang adil-makmur, tapi yang dibangun
adalah sistim perekonomian turbo kapitalisme.

Ee ternyata banyak yang suka dan mapan ikut-ikut melahap nilai-lebih
hasil perahan itu. Seandainya bg. Lin juga ikut krasan, yah nikmatilah
untuk selamanya supaya mimpi-mimpi trauma bung tempo doeloe bisa sirna.
Tidak ada yang terganggu karenanya.

Lusi.-

Am Thu, 4 Jan 2018 07:02:17 +0530
schrieb "Hsin Hui Lin [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45]"
<[email protected] <mailto:[email protected]> >:

> Correction:Salah ketik, "segelintir manusia MENGHISAP majority"
> 
> On 4 Jan 2018 6:57 a.m., "Hsin Hui Lin" <[email protected] 
> <mailto:[email protected]> > wrote:
> 
> > Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi
> > kalau di banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia......
> > Loo dari mana kesejahteraan yg di capai German...... datang dari
> > sorga atau dari hasil penghisapan manusia oleh segelintir manusia
> > yg menghadiri majority.... Tak langsung anda menikmati hasil
> > penghisapan itu.... Nyaman kan??. Sebagai ahli teori Marxist, dari
> > dasar "kebenaran berdasarkan fakta, kenyataan", bagimana menilai
> > kemajuan Tiongkok. Ngelamun tak akan membawa kita ke masyarakat yg
> > anda impikan Lin
> >

> > On 4 Jan 2018 1:21 a.m., "Jonathan Goeij [email protected] 
> > <mailto:[email protected]> 
> > [GELORA45]" <[email protected] <mailto:[email protected]> > 
> > wrote:
> >
> >> Menarik juga ya bahkan Alquran-pun made in China, dan itu di
> >> Mekkah. Mereka yang umrah, naik haji, dan pakai tasbih, sajadah,
> >> kafiah, peralatan salat, bahkan Alquran buatan orang-orang kafir
> >> itu bagaimana ya hukumnya, termasuk halal atau haram? Apakah ada
> >> sertifikasi halal dari MUI?
> >>
> >> Terus bagaimana dgn Habib Rizieq Shihab, Ustad Abdul Somad,
> >> ataupun Anies Baswedan waktu umroh di Mekkah itu, apakah juga
> >> pakai barang buatan orang2 kafir itu?
> >>
> >> Kutipan berita:
> >> Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua
> >> pernak-pernik per­alat­an ibadah umat Islam yang ada, hampir semua
> >> berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada tasbih, sa­ja­dah, kafiah,
> >> peralatan salat,* ma­l­ah Alquran** sekalipun, se­mua tertulis
> >> ”made in China”*.
> >>
> >>
> >>
> >> ---In [email protected] <mailto:[email protected]> , 
> >> <lusi_d@... <mailto:lusi_d@...> > wrote :
> >>
> >> Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang
> >> semacam itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan belum
> >> menjawab bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk menjawab
> >> masalah kesejahteraan masyarakatnya harus jelas bagaimana sistim
> >> produksi yang berlaku di dalam masyarakatnya, apakah berwatak
> >> exploitation de l'home par l'home atau tidak kata Bung Karno.
> >>
> >>
> >>
> >>
> >> Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800
> >> schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]"
> >> <[email protected] <mailto:[email protected]> >:
> >> 
> >> > Made in China
> >> > Koran Sindo
> >> > Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB
> >> > https://nasional.sindonews.com/newsread/1266546/18/made-in 
> >> -china-1513533508 
> >> >
> >> > Joni Hermana
> >> > Staf Pengajar ITS Surabaya
> >> >
> >> > SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan
> >> > sa­ya, namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada
> >> > hari tanpa produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?”
> >> > Co­ba simak ba­gai­mana su­litnya s­e­orang ibu bernama Sa­ra
> >> > Bo­­ngi­or­ni beserta ke­lua­r­ga­­nya di Ame­rika Serikat
> >> > ber­­juang se­la­ma setahun un­tuk ti­dak meng­gu­na­kan barang
> >> > yang berbau Chi­­na. Pe­nga­la­man luar bia­sa ini dia tulis
> >> > da­lam bu­ku­nya yang be­r­judul A Year Wi­thout ”Made in
> >> > Chi­na”. Atas eksperimennya itu, dia ter­nyata harus
> >> > ber­­ji­ba­ku, ber­ken­daraan da­ri mal ke mal se­ke­dar
> >> > me­n­cari se­buah ko­lam re­nang plastik un­tuk anaknya.
> >> > Bayangkan! Ini sekadar un­­tuk menggambarkan bah­wa ti­dak
> >> > mudahnya ki­ta melepaskan di­ri dari b­a­rang buatan China
> >> > da­lam keh­idupan keseharian ki­ta, bahkan untuk negara ma­ju
> >> > se­kelas AS sekalipun. Produk buatan negeri China su­dah merasuk
> >> > ke da­lam semua sen­di ke­h­i­dup­an kita; di rumah, di
> >> > se­ko­lah, tempat kerja, dan di mana-mana. Kalau bulan pun ada
> >> > penduduknya, sudah dipas­ti­kan ada buatan negeri China di
> >> > sa­na, he.. he.. Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun.
> >> > Lihat sa­ja semua pernak-pernik per­alat­an ibadah umat Islam
> >> > yang ada, hampir semua berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada
> >> > tasbih, sa­ja­dah, kafiah, peralatan salat, ma­l­ah Alquran
> >> > sekalipun, se­mua tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun
> >> > produk me­reka ini sudah menjadi kes­e­ha­ri­an dalam hidup
> >> > kita, ma­yo­ri­tas bangsa kita pasti akan me­ra­sa gamang kalau
> >> > diminta u­n­tuk memakai, apalagi membeli, pro­duk berteknologi
> >> > cang­gih da­ri negeri China. Se­tidaknya ki­ta akan ber­ta­nya
> >> > masygul apa be­neran ya ? Sebab, branding pro­duk buatan China
> >> > yang ter­­ta­nam dalam benak ki­ta selama ini adalah untuk
> >> > ba­rang remeh-t­e­meh dan - per­lu juga dicatat - yang mu­dah
> >> > rusak. Wajarlah ketika kem­u­di­a­n Chi­na menampilkan
> >> > produk-pro­duk mereka yang ber­tek­no­lo­gi tinggi dan modern di
> >> > negara kita, ba­nyak orang yang me­ra­gu­­kan keandalannya.
> >> > De­mi­­ki­an, orang-orang ber­ta­nya ke­ti­ka mulai banyak
> >> > in­frastruktur di­ba­ngun oleh kontraktor Chi­n­a. La­lu,
> >> > orang-orang juga ­ber­ta­nya ketika kereta cepat di­b­­a­ngun
> >> > mereka. Tidak ke­ting­­gal­an orang-orang ju­ga bertanya ke­tika
> >> > pem­bang­kit listrik di­ba­ngun me­reka... beneran nih ? Untuk
> >> > menjawab ke­ra­gu­an se­p­erti ini, tidak sa­lah kalau di­rek­si
> >> > PLN meng­ajak akademisi dan pa­ra insan media mengun­jungi
> >> > pabrikan di China yang me­laksanakan pro­yek pem­bang­­kit di
> >> > In­do­ne­sia saat awal De­sember b­e­be­rapa saat lalu. Apa yang
> >> > di­li­hat memang sa­ngat berbeda de­ngan apa yang di­bayangkan
> >> > se­be­lumnya.. Ne­ge­ri China telah men­jelma me­n­ja­di negara
> >> > de­ngan kemampuan tek­n­ologi cang­gih dan terkini. Se­muanya
> >> > te­lah mereka kuasai. Sung­guh luar biasa! Ini sesuai de­ngan
> >> > misi mereka yang ingin men­ja­di­kan semuanya ”made in Chi­na ”
> >> > pada 2025. China ingin meng­ubah wajah brandingnya ti­dak
> >> > se­kadar negara penghasil ba­rang kelontongan, tetapi juga
> >> > ba­­rang berkualitas dengan di­men­­si teknologi tinggi,
> >> > cang­gih, dan terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke
> >> > tek­no­­logi luar angkasa. Tam­pak­nya cita-cita itu akan mudah
> >> > ter­wu­­jud dengan kesiapan in­fra­struk­­tur dan sumber daya
> >> > ma­nu­­sia yang mereka miliki. Yang mengagumkan juga ada­lah
> >> > peran pemerintah yang de­mikian besar (baca: negara ha­dir!)
> >> > untuk menjamin ke­ber­lan­jutan produk-produk ind­us­tri­nya,
> >> > China telah menggelar ga­ris imajiner ”New Silk Road ” un­tuk
> >> > memastikan aktivitas eko­nomi mereka jalan dan ber­lan­jut. Ini
> >> > semua dengan me­man­faatkan potensi pasar yang ada di
> >> > negara-negara Jalur Sutra me­reka, dari barat sampai timur dan
> >> > dari utara sampai selatan du­nia...(jadi ngiri melihat triple
> >> > he­lix A-B-G mereka!) Melihat beragam teknologi mo­dern yang
> >> > telah dikuasai bang­sa China, dapat disim­pul­kan bahwa dari
> >> > aspek teknis, se­be­tulnya produk mereka tidak ada masalah..
> >> > China hari ini bu­kan lagi China yang kemarin! Ar­ti­nya
> >> > keraguan dalam ke­an­dal­an teknologi mereka akan hi­lang dengan
> >> > sendirinya sejalan d­e­ngan waktu dan pengalaman. Toh, kita
> >> > belajar, bagaimana k­e­tika tahun 1960-70an dunia nyi­nyir
> >> > terhadap mobil ”ka­leng” buatan Jepang yang mulai ma­suk pasar
> >> > ”menyaingi” mobil-mobil perkasa buatan Ame­rika dan Eropa yang
> >> > saat itu me­rajai di jalan-jalan raya. Na­mun, seiring
> >> > perjalanan waktu, ke­g­igihan dan inovasi yang te­rus dilakukan
> >> > produsen Je­pang, mereka kemudian di­te­ri­ma bahkan digemari
> >> > banyak orang. Sekarang Indonesia ter­ma­suk negara dengan
> >> > pe­r­sen­ta­se pemakai mobil Jepang ter­be­sar di dunia di
> >> > samping Jepang itu sendiri! Belajar dari pengalaman itu,
> >> > tek­nologi tinggi buatan negeri Chi­na pun akan mengalami fase
> >> > dan pola yang serupa dalam me­ma­suki pasar di negara kita..
> >> >
> >> > SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan
> >> > sa­ya, namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada
> >> > hari tanpa produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?”
> >> >
> >> > (kri) 
> >>
> >>
> >> 
> >> 
> > 



Kirim email ke