Bung Nesare, saya menulis itu untuk bung Lin dan secara aktual
menggambarkan bagaimana kerasnya pertentangan antara pengusaha kaum
menengah ke bawah dengan klas pengusaha besar yang berkomplot dan
ikut mengendalikan roda pemerintahan Jerman dalam menghisap mulai
pengusaha menengah sampai lapisan paling bawah. Suatu gambaran yang
tidak akan dipresentasikan oleh koran-koran yang juga dimiliki oleh
lapisan kaum penguasa kapital besar itu.
Data yang saya kemukakan itu saya ambil dari perdebatan di dalam
parlemen Jerman (Reichstag) mengenai tidak adilnya suatu undang-undang
yang melindungi akal busuk pengusaha besar multi nasional dalam
melakukan manipulasi peraturan perpajakan yang telah dibuat oleh
pemerintahan di antara negara2 anggota Uni Eropa. Jadi yang jelek dan
ditentang itu yalah undang-undang resmi, artinya legal. Bukan urusan
legal-ilegal seperti yang bung pertanyakan itu. Siapa yang tidak ngerti
kalau ilegal dimana saja kan musti menjadi urusan badan pemberantasan
kriminalitas? 


> Nesare:

> Lusi: orang Jerman sekarang ini sedang giat membongkar penghisapan
> dlm bentuk Sistem Menghindarkan Pajak yang dinikmati terutama oleh
> perusahaan-perusahaan besar multinasional. nesare: yang ini saja yang
> saya komentari. Yang lain2 biarlah kalian berdua berdiskusi. Saya
> lihat bung ingin mengatakan “menghindar pajak” ini adalah kesalahan
> kapitalisme? Kalau ini asumsinya bung, saya katakan bung salah.
> Kenapa salah? Karena menghindari pajak ini adalah urusan bisnis. Di
> ideologi apa saja kalau ada bisnis dimana perusahaan beroperasi dan
> harus bayar pajak akan selalu terjadi “penghindaran pajak” ini. kalau
> bung bisa menciptakan negara komunis dimana perusahaan yang
> beroperasi tidak bayar pajak, argument saya tidak berlaku. 
> 
> Lalu “penghindaran pajak” itu adalah lazim. Konteksnya adalah
> mengerti tax code dan bermain dalam koridor tax law nya. Ini legal.
> Diseluruh dunia kapitalisme inilah pekerjaan yang dijalankan oleh
> semua perusahaan dan begitu juga para consultant (PWC, EY, deloitte,
> KPMG) yang membantu dan mengaudit perusahaan2 ini. 
> 


Lusi:

Saya ingin menggambarkan kerugian yang ditimpa pembayar pajak di Jerman
akibat peraturan yang salah itu dalam salah satu perdebatan di parlemen
Jerman sbb.: 

" . . . Kita (pembayar pajak - L.), menurut penjelasan Dinas
Kriminalitas Federal Pusat; Jerman ini telah menjadi sebuah paradis
bagi para gangster itu. Setiap tahun Jerman dirugikan 17.000.000.000
Euro oleh tipu muslihat pajak secara legal dari konsern-konsern.
Penjahat2 kriminal & kaum teroris mencuci uangnya di sektor perumahan
dan pertanahan, sementara pemerintah memblokir pengungkapan siapa
pemilik yang sebenarnya dari firma-firma & trust dan daftar registrasi
perumahan. Jan Böhmerman (seorang satiris tenar Jerman - L) akan
berkata: Saya punya polisi. Mafioso menyatakan: Saya punya Pemerintah
Pusat (Bundesregierung)!" 


> Nesare:
 
> Apakah bung menganggap “penghindaran pajak” ini illegal. Kalau
> illegal gampang sekali dituntut saja. Mereka2 ini perusahaan yang
> jelas dan kebanyakan perusahaan public serta diaudit oleh perusahaan
> konsultan pajak sebelum mereka file corporate tax mereka ke otoritas
> pajak dinegara masing2.

Lusi:
 
Saya ini sekedar melanjutkan perdebatan dlm parlemen Jerman itu,
tidak mempersoalkan pengertian sepele ttg legal-ilegal yg bung
omongkan itu. Tapi kalau bung ingin mempermasalahkannya, saya
persilahkan langsung pada anggota parlemen Jerman itu saja. Namanya
Fabio de Masi. Dia fasih beberapa bahasa selain Jerman, Perancis,
Inggris, Spanyol dan bahasa Itali. Alamat korespodensinya bisa dicari
di Google. Terserah bung pilih bahasa apa korespondansinya.






> Sent: Sunday, January 7, 2018 5:27 AM To: Hsin Hui Lin
> [email protected] [GELORA45] <[email protected]>;
> [email protected]; [email protected];
> [email protected]; Daeng <[email protected]>;
> Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Harry Singgih
> <[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>;
> Gol <[email protected]>; [email protected]; Mitri
> <[email protected]>; Lingkar Sitompul
> <[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>; Billy
> Gunadi <[email protected]>; Oman Romana
> <[email protected]>; Harsono Sutedjo <[email protected]>;
> [email protected]; N. Nugroho <[email protected]>; Roeslan
> <[email protected]>; Lusi.D <[email protected]>; Jonathan Goeij
> <[email protected]>; Sahala Silalahi <[email protected]>;
> Sie Tik Tan <[email protected]>; j.gedearka
> <[email protected]>; Tjoa <[email protected]>; A Awind
> <[email protected]> Cc: Jonathan Goeij <[email protected]>
> Subject: Re: [GELORA45] Re: [nasional-list] Made in China
> 
>  
> 
>   
> 
> Oh Selamat Tahun Baru 2018 dulu dongk.
> To the point saja deh.
> 
> Hsin Hui Lin:

> > > Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi
> > > kalau di banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia......
> > > Loo dari mana kesejahteraan yg di capai German...... datang dari
> > > sorga atau dari hasil penghisapan manusia oleh segelintir manusia
> > > yg menghadiri majority.... Tak langsung anda menikmati hasil
> > > penghisapan itu.... Nyaman kan??  
> 
> Lusi:
> 
> Saya hidup di Jerman dengan hasil kerja saya sesuai dengan tingkat
> ke-akademian technical university yang telah saya tamatkan di Jerman.
> Tidak mewah, tapi cukup untuk kebutuhan hidup normal sebagai orang
> Indonesia yang menjadi warganegara Jerman akibat perlakuan yang tidak
> manusiawi oleh rezim fasis Suharto atas hak sipil kewarganegaraan
> Indonesia saya. Lah Bg. Lin terdampar di negeri hunian sekarang ini
> sebagai apa? Setelah membaca jalan pikiran Bg. Lin di atas pada
> kalimat ".... Nyaman kan??", saya kok ingat semboyan di
> spanduk-spanduk pengikut orbanya Harto dlm kampanye pemilihan umum
> ". . . jamanku biyen kan enak tokh?" Apa metode berfikir bg. Lin
> sudah sejalan dengan orang-orang itu?
> 
> Nah kalau urusan kemakmuran Jerman yah yang aktual sajalah yang
> bersifat global. Sementara lapisan menengah orang Jerman sekarang ini
> sedang giat membongkar penghisapan dlm bentuk Sistem Menghindarkan
> Pajak yang dinikmati terutama oleh perusahaan-perusahaan besar multi
> nasional. 
> Contohnya: Suatu Firma seperti Apple mendapat keuntungan berdasar
> kegiatan penjualan iPhones yang dilakukannya di Jerman. Apple
> mendirikan satu firma-kotakpos di satu wilayah negara yang
> mengadabtasi sistim oase-pajak dan hak patent-nya dipindahkan ke
> firma kotak-pos itu. Kemudian Apple mengirim rekening untuk membayar
> hak-lisensi yang dibikin tinggi untuk setiap penjualan unit komoditi
> kepada perusahaannya sendiri ke Karibik atau negeri Belanda. Di
> Jerman berlaku hukum keringanan pajak kalau suatu firma mengalamiWir
> sind laut Bundeskriminalamt ein Paradies für #Gangster.
> 17.000.000.000 Euro entgehen Deutschland jedes Jahr durch legale
> #Steuertricks von Konzernen. Kriminelle & Terroristen waschen im
> Immobiliensektor Geld, während die Bundesregierung die Offenlegung
> der wahren Eigentümer von Firmen & Trusts und ein Immobilienregister
> blockiert. Jan Böhmermann würde sagen: ich hab Polizei, Mafioso sagt:
> ich hab Bundesregierung! Meine Rede im Bundestag, die mir fast meine
> erste Rüge verschaffte. Ich stehe zu meinem Wort. #ParadisePapers
> rugi, sedangkan di negeri sistim oase-pajak, keuntungan dipajak kecil
> sekali. Untuk tahun 2014 Apple dengan akal-akalan seperti itu Apple
> dikenai pajak hanya 0,005 prosen dari keuntungannya. Itu berarti
> Apple ditarik 50 Euro untuk setiap keuntungan satu miliun Euro dari
> hasil usahanya. Karena itu sekarang ini di Jermanpun sudah mulai
> timbul kesadaran melawan penghisapan terutama yang terlihat dalam
> praktek perekonomian neo-liberalisme.
> 
> Belum lagi kita bicarakan disini bagaimana langkah yang dilalui untuk
> membuat handphone itu sendiri yang sudah melalui proses kerja yang
> penuh penghisapan, termasuk yang made-in RRT. Jadi tahulah kita
> bagaimana proses untuk menentukan harga dalam proses pembuatan
> ditambah juga dalam bentuk-bentuk penghisapan setelah menjadi
> komoditi sesuai doktrin ekonomi neo-liberalisme. Karena itu tidak
> sulit untuk menggambarkan betapa besar proses penggelembungan antara
> nilai dan harga sesungguhnya komoditi dari rendahnya ongkos produksi
> komoditi itu.
> 
> Hsin Hui Lin:
> 
> > > Sebagai ahli teori Marxist, dari dasar "kebenaran berdasarkan
> > > fakta, kenyataan", bagimana menilai kemajuan Tiongkok.Ngelamun tak
> > > akan membawa kita ke masyarakat yg anda impikan Lin  
> 
> Lusi:
> 
> Nah ttg definisi apa yang dikategorikan kebenaran, itu tergantung dari
> pengetahuan dan pendirian tentang fakta-fakta dan kenyataan yang
> difahami dan dianut oleh seseorang yang mengungkapkan
> pandangannya.Wir sind laut Bundeskriminalamt ein Paradies für
> #Gangster. 17.000.000.000 Euro entgehen Deutschland jedes Jahr durch
> legale #Steuertricks von Konzernen. Kriminelle & Terroristen waschen
> im Immobiliensektor Geld, während die Bundesregierung die Offenlegung
> der wahren Eigentümer von Firmen & Trusts und ein Immobilienregister
> blockiert. Jan Böhmermann würde sagen: ich hab Polizei, Mafioso sagt:
> ich hab Bundesregierung! Meine Rede im Bundestag, die mir fast meine
> erste Rüge verschaffte. Ich stehe zu meinem Wort. #ParadisePapers
> 
> Ada dua segi sistim akumulasi kapitalisme: Satu melalui penghisapan
> kerja upahan di dalamnegeri dan dua melalui perampokan kekayaan alam
> dan hasil kerja kaum pekerja di seluruh penjuru dunia. Realisasi
> perkembangan kapitalisme ke tingkat imperialisme dlm sejarah dunia
> dibuktikan dengan perang penjajahan, penindasan dan perampokan
> terhadap negeri-negeri koloni dan kekayaan baik alam maupun
> manusianya. 
> 
> Kalau menurut bung Lin dari mana akumulasi kapital RRT periode sejarah
> perekonomian Tiongkok setelah RBKP? Apa pertumbuhan ekonomi yang di
> RRT sekarang ini masih mengikuti pandangan politik dan ideologi Ilmu
> Marxisme yang mengabdi rakyat itu atau mengabdi sejumlah lapisan orang
> yang berhak istimewa?
> 
> Bung bisa menjelaskan mengapa negeri-negeri imperialis waktu itu
> mensabot pembangunan dan menutup hubungan ekonominya dengan cara
> mengembargo RRT yang justru masih lemah ekonominya sebagai akibat
> tingkah-laku rezim Chiang Kai-shek yang korup dan menindas rakyat
> Tiongkok itu? Dan mengapa begitu Teng Hsiao-ping berkuasa kok kaum
> imperialis begitu antusias "membantu dan mendorong" perekonomian
> Tiongkok dan melepaskan kurungan embargo politik dan ekonomi terhadap
> RRT sejak lahirnya pada tahun 1949 yang dulunya ketat sekali?
> 
> Marxisme memandang arah maju tidaknya ekonomi suatu negeri dari sudut
> pandang yang bertolak-belakang dengan pandangan borjuasi. Yang
> disebut ekonomi baik itu tidak identik dengan baik untuk tingkat
> kemakmuran rakyat. Karena itu yang diperdebatkan bukanlah benda-benda
> atau material apa yang dihasilkan dalam suatu sistim produksi,
> tetapiWir sind laut Bundeskriminalamt ein Paradies für #Gangster.
> 17.000.000.000 Euro entgehen Deutschland jedes Jahr durch legale
> #Steuertricks von Konzernen. Kriminelle & Terroristen waschen im
> Immobiliensektor Geld, während die Bundesregierung die Offenlegung
> der wahren Eigentümer von Firmen & Trusts und ein Immobilienregister
> blockiert. Jan Böhmermann würde sagen: ich hab Polizei, Mafioso sagt:
> ich hab Bundesregierung! Meine Rede im Bundestag, die mir fast meine
> erste Rüge verschaffte. Ich stehe zu meinem Wort. #ParadisePapers
> masalah bagaimana sistim proses produksinya. Manusia akan selalu
> melakukan usaha berproduksi dalam masyarakat apapun untuk memenuhi
> kebutuhan hidupnya. Tetapi masalah kemakmuran dan kesejahteraan
> sosial itu ditentukan oleh bagaimana sistim pendistribusian hasil
> produksinya. 
> 
> Di dalam sistim politik ekonomi di seluruh dunia hukum yang berlaku
> universal yalah ditentukan oleh siapa yang memiliki kedudukan
> hegemoni; yang dalam prakteknya diwujudkan oleh kepemilikan atas
> alat-alat produksinya - milik individual atau milik masyarakat.
> Inilah yang kemudian melahirkan sistim ekonomi kapitalisme atau
> sistim ekonomi sosialisme. 
> 
> Mengapa kontradiksi dasar kepentingan dalam masyarakat kapitalis
> selalu antagonis, karena disatu pihak sistim produksi dalam suatu
> masyarakat itu senantiasa bersifat sosial seperti juga sifat manusia
> sebagai insan yang berwatak sosial, sedangkan karakter kapital itu
> individual, artinya tergantung si individu kapitalis yang memiliki
> alat produksi. Itulah sebabnya mengapa si kapitalis itu ideologinya
> egoistis dan tamak.
> 
> Soal lamunan yang bung singgung itu. Syarat ngelamun itu terjadi pada
> manusia yang sedang kebanyakan waktu tapi tidak punya kerjaan yang
> bersifat sosial lagi tapi juga tergantung apa yang dilamunkan.
> 
> Manusia yang sadar akan sejarah perkembangan masyarakatnya berusaha
> bertindak menciptakan syarat-syarat untuk mewujudkan keyakinannya itu,
> tergantung bidang sosial apa yang dikuasai dan syarat-syaratnya yang
> ada. Kecuali itu perkembangan masyarakat juga tergantung pada
> kesadaran seluruh masyarakatnya. Berhasilnya zaman yang dicita-citakan
> itu akan memakan waktu jangka panjang. Tidak tergantung pada masa
> hidup orang per orang. 
> 
> Kalau pendapat saya, yang pantas disebut ngelamun itu adalah mereka
> yang mengharapkan masyarakat sosialisme yang adil-makmur, tapi yang
> dibangun adalah sistim perekonomian turbo kapitalisme.
> 
> Ee ternyata banyak yang suka dan mapan ikut-ikut melahap nilai-lebih
> hasil perahan itu. Seandainya bg. Lin juga ikut krasan, yah nikmatilah
> untuk selamanya supaya mimpi-mimpi trauma bung tempo doeloe bisa
> sirna. Tidak ada yang terganggu karenanya.
> 
> Lusi.-
> 
> Am Thu, 4 Jan 2018 07:02:17 +0530
> schrieb "Hsin Hui Lin [email protected] <mailto:[email protected]>
> [GELORA45]" <[email protected]
> <mailto:[email protected]> >:
> 
> > Correction:Salah ketik, "segelintir manusia MENGHISAP majority"
> > 
> > On 4 Jan 2018 6:57 a.m., "Hsin Hui Lin" <[email protected]
> > <mailto:[email protected]> > wrote: 
> > > Bg. Lusi. Nah anda tinggal di German yn maju dan nyaman apalagi
> > > kalau di banding jika Anda tinggal di Tanah Air, Indonesia......
> > > Loo dari mana kesejahteraan yg di capai German...... datang dari
> > > sorga atau dari hasil penghisapan manusia oleh segelintir manusia
> > > yg menghadiri majority.... Tak langsung anda menikmati hasil
> > > penghisapan itu.... Nyaman kan??. Sebagai ahli teori Marxist, dari
> > > dasar "kebenaran berdasarkan fakta, kenyataan", bagimana menilai
> > > kemajuan Tiongkok. Ngelamun tak akan membawa kita ke masyarakat yg
> > > anda impikan Lin
> > >  
> 
> > > On 4 Jan 2018 1:21 a.m., "Jonathan Goeij [email protected]
> > > <mailto:[email protected]> [GELORA45]"
> > > <[email protected] <mailto:[email protected]> >
> > > wrote: 
> > >> Menarik juga ya bahkan Alquran-pun made in China, dan itu di
> > >> Mekkah. Mereka yang umrah, naik haji, dan pakai tasbih, sajadah,
> > >> kafiah, peralatan salat, bahkan Alquran buatan orang-orang kafir
> > >> itu bagaimana ya hukumnya, termasuk halal atau haram? Apakah ada
> > >> sertifikasi halal dari MUI?
> > >>
> > >> Terus bagaimana dgn Habib Rizieq Shihab, Ustad Abdul Somad,
> > >> ataupun Anies Baswedan waktu umroh di Mekkah itu, apakah juga
> > >> pakai barang buatan orang2 kafir itu?
> > >>
> > >> Kutipan berita:
> > >> Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun. Lihat sa­ja semua
> > >> pernak-pernik per­alat­an ibadah umat Islam yang ada, hampir
> > >> semua berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada tasbih, sa­ja­dah,
> > >> kafiah, peralatan salat,* ma­l­ah Alquran** sekalipun, se­mua
> > >> tertulis ”made in China”*.
> > >>
> > >>
> > >>
> > >> ---In [email protected]
> > >> <mailto:[email protected]> , <lusi_d@...
> > >> <mailto:lusi_d@...> > wrote :
> > >>
> > >> Made in China itu hanya menjelaskan: dibuat di Tiongkok. Yang
> > >> semacam itu baru menjelaskan produk apa yang dihasilkan dan belum
> > >> menjawab bagaimana produk itu dihasilkan. Sedangkan untuk
> > >> menjawab masalah kesejahteraan masyarakatnya harus jelas
> > >> bagaimana sistim produksi yang berlaku di dalam masyarakatnya,
> > >> apakah berwatak exploitation de l'home par l'home atau tidak
> > >> kata Bung Karno.
> > >>
> > >>
> > >>
> > >>
> > >> Am Wed, 3 Jan 2018 21:22:05 +0800
> > >> schrieb "'Chan CT' SADAR@... [nasional-list]"
> > >> <[email protected]
> > >> <mailto:[email protected]> >: 
> > >> > Made in China
> > >> > Koran Sindo
> > >> > Senin, 18 Desember 2017 - 07:08 WIB
> > >> > https://nasional.sindonews.com/newsread/1266546/18/made-in   
> > >> -china-1513533508   
> > >> >
> > >> > Joni Hermana
> > >> > Staf Pengajar ITS Surabaya
> > >> >
> > >> > SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan
> > >> > sa­ya, namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada
> > >> > hari tanpa produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?”
> > >> > Co­ba simak ba­gai­mana su­litnya s­e­orang ibu bernama Sa­ra
> > >> > Bo­­ngi­or­ni beserta ke­lua­r­ga­­nya di Ame­rika Serikat
> > >> > ber­­juang se­la­ma setahun un­tuk ti­dak meng­gu­na­kan barang
> > >> > yang berbau Chi­­na. Pe­nga­la­man luar bia­sa ini dia tulis
> > >> > da­lam bu­ku­nya yang be­r­judul A Year Wi­thout ”Made in
> > >> > Chi­na”. Atas eksperimennya itu, dia ter­nyata harus
> > >> > ber­­ji­ba­ku, ber­ken­daraan da­ri mal ke mal se­ke­dar
> > >> > me­n­cari se­buah ko­lam re­nang plastik un­tuk anaknya.
> > >> > Bayangkan! Ini sekadar un­­tuk menggambarkan bah­wa ti­dak
> > >> > mudahnya ki­ta melepaskan di­ri dari b­a­rang buatan China
> > >> > da­lam keh­idupan keseharian ki­ta, bahkan untuk negara ma­ju
> > >> > se­kelas AS sekalipun. Produk buatan negeri China su­dah
> > >> > merasuk ke da­lam semua sen­di ke­h­i­dup­an kita; di rumah, di
> > >> > se­ko­lah, tempat kerja, dan di mana-mana. Kalau bulan pun ada
> > >> > penduduknya, sudah dipas­ti­kan ada buatan negeri China di
> > >> > sa­na, he.. he.. Tak terkecuali kota suci Mekkah sekalipun.
> > >> > Lihat sa­ja semua pernak-pernik per­alat­an ibadah umat Islam
> > >> > yang ada, hampir semua berasal dari N­e­geri Naga ini! Ada
> > >> > tasbih, sa­ja­dah, kafiah, peralatan salat, ma­l­ah Alquran
> > >> > sekalipun, se­mua tertulis ”made in China ”. Anehnya, walaupun
> > >> > produk me­reka ini sudah menjadi kes­e­ha­ri­an dalam hidup
> > >> > kita, ma­yo­ri­tas bangsa kita pasti akan me­ra­sa gamang kalau
> > >> > diminta u­n­tuk memakai, apalagi membeli, pro­duk berteknologi
> > >> > cang­gih da­ri negeri China. Se­tidaknya ki­ta akan ber­ta­nya
> > >> > masygul apa be­neran ya ? Sebab, branding pro­duk buatan China
> > >> > yang ter­­ta­nam dalam benak ki­ta selama ini adalah untuk
> > >> > ba­rang remeh-t­e­meh dan - per­lu juga dicatat - yang mu­dah
> > >> > rusak. Wajarlah ketika kem­u­di­a­n Chi­na menampilkan
> > >> > produk-pro­duk mereka yang ber­tek­no­lo­gi tinggi dan modern
> > >> > di negara kita, ba­nyak orang yang me­ra­gu­­kan keandalannya.
> > >> > De­mi­­ki­an, orang-orang ber­ta­nya ke­ti­ka mulai banyak
> > >> > in­frastruktur di­ba­ngun oleh kontraktor Chi­n­a. La­lu,
> > >> > orang-orang juga ­ber­ta­nya ketika kereta cepat di­b­­a­ngun
> > >> > mereka. Tidak ke­ting­­gal­an orang-orang ju­ga bertanya
> > >> > ke­tika pem­bang­kit listrik di­ba­ngun me­reka... beneran
> > >> > nih ? Untuk menjawab ke­ra­gu­an se­p­erti ini, tidak sa­lah
> > >> > kalau di­rek­si PLN meng­ajak akademisi dan pa­ra insan media
> > >> > mengun­jungi pabrikan di China yang me­laksanakan pro­yek
> > >> > pem­bang­­kit di In­do­ne­sia saat awal De­sember b­e­be­rapa
> > >> > saat lalu. Apa yang di­li­hat memang sa­ngat berbeda de­ngan
> > >> > apa yang di­bayangkan se­be­lumnya.. Ne­ge­ri China telah
> > >> > men­jelma me­n­ja­di negara de­ngan kemampuan tek­n­ologi
> > >> > cang­gih dan terkini. Se­muanya te­lah mereka kuasai. Sung­guh
> > >> > luar biasa! Ini sesuai de­ngan misi mereka yang ingin
> > >> > men­ja­di­kan semuanya ”made in Chi­na ” pada 2025. China
> > >> > ingin meng­ubah wajah brandingnya ti­dak se­kadar negara
> > >> > penghasil ba­rang kelontongan, tetapi juga ba­­rang
> > >> > berkualitas dengan di­men­­si teknologi tinggi, cang­gih, dan
> > >> > terkini. Penguasaan yang bahkan menembus ke tek­no­­logi luar
> > >> > angkasa. Tam­pak­nya cita-cita itu akan mudah ter­wu­­jud
> > >> > dengan kesiapan in­fra­struk­­tur dan sumber daya ma­nu­­sia
> > >> > yang mereka miliki. Yang mengagumkan juga ada­lah peran
> > >> > pemerintah yang de­mikian besar (baca: negara ha­dir!) untuk
> > >> > menjamin ke­ber­lan­jutan produk-produk ind­us­tri­nya, China
> > >> > telah menggelar ga­ris imajiner ”New Silk Road ” un­tuk
> > >> > memastikan aktivitas eko­nomi mereka jalan dan ber­lan­jut.
> > >> > Ini semua dengan me­man­faatkan potensi pasar yang ada di
> > >> > negara-negara Jalur Sutra me­reka, dari barat sampai timur dan
> > >> > dari utara sampai selatan du­nia...(jadi ngiri melihat triple
> > >> > he­lix A-B-G mereka!) Melihat beragam teknologi mo­dern yang
> > >> > telah dikuasai bang­sa China, dapat disim­pul­kan bahwa dari
> > >> > aspek teknis, se­be­tulnya produk mereka tidak ada masalah..
> > >> > China hari ini bu­kan lagi China yang kemarin! Ar­ti­nya
> > >> > keraguan dalam ke­an­dal­an teknologi mereka akan hi­lang
> > >> > dengan sendirinya sejalan d­e­ngan waktu dan pengalaman. Toh,
> > >> > kita belajar, bagaimana k­e­tika tahun 1960-70an dunia
> > >> > nyi­nyir terhadap mobil ”ka­leng” buatan Jepang yang mulai
> > >> > ma­suk pasar ”menyaingi” mobil-mobil perkasa buatan Ame­rika
> > >> > dan Eropa yang saat itu me­rajai di jalan-jalan raya. Na­mun,
> > >> > seiring perjalanan waktu, ke­g­igihan dan inovasi yang te­rus
> > >> > dilakukan produsen Je­pang, mereka kemudian di­te­ri­ma bahkan
> > >> > digemari banyak orang. Sekarang Indonesia ter­ma­suk negara
> > >> > dengan pe­r­sen­ta­se pemakai mobil Jepang ter­be­sar di dunia
> > >> > di samping Jepang itu sendiri! Belajar dari pengalaman itu,
> > >> > tek­nologi tinggi buatan negeri Chi­na pun akan mengalami fase
> > >> > dan pola yang serupa dalam me­ma­suki pasar di negara kita..
> > >> >
> > >> > SAYA tidak terlalu ya­kin apa­­kah Anda se­pen­dapat de­­ngan
> > >> > sa­ya, namun per­ca­y­a­kah An­da dengan pen­da­pat ”ti­­ada
> > >> > hari tanpa produk ne­­ge­­ri Chi­na dalam ke­hi­dup­an ki­ta?”
> > >> >
> > >> > (kri)   
> > >>
> > >>
> > >> 
> > >>   
> > >   
> 
> 
> 

Kirim email ke