Dilihat dari TUJUAN UTAMA menjaga kedaulatan wilayah RI, perairan Indonesia 
dimana harus berkemampuan mencegah kapal-asing masuk mencuri ikan, ... tentu 
pemerintah harus membuktikan berkemampuan menjaga dengan sebaik-baiknya. 
Bagaimana kebijakan setelah berhasil menangkap kapal-kapal asing pelanggar itu, 
urusan kedua, ...

Nah, sekarang kalau kita lihat dari sudut meningkatkan hasil produksi ikan 
laut. Pertama, tentu harus dengan lebih TEGAS mencegah kapal-asing masuk 
keperairan Indonesia mencuri ikan dengan teknologi yang lebih canggih, 
bagaimanapun juga NELAYAN Indonesia kalah saing. PASTI produksi ikan akan 
merosot kalau membiarkan ikan2 diperairan Indonesia diCURI kapal2 asing; kedua, 
kalau tenggelamkan kapal terlalu banyak, entah sudah berapa ratus kapal 
diledakkan dan tenggelam diperairan laut Indonesia, ... tentu akan mencemarkan 
dan mengganggu kehidupan ikan disitu. Sangat tidak menguntungkan dan tentu akan 
memerosotkan produksi ikan Indonesia juga!

Jadi, nampaknya lebih baik, ambil kebijakan TANGKAP nakoda kapal-asing itu dan 
denda seberat-beratnya saja! Biar mereka kapok dan hasil denda itu boleh 
belikan kapal penangkap ikan dengan teknologi canggih untuk NELAYAN Indonesia 
sendiri, ...! Dengan demikian juga tidak perlu menyita kapal-asing yang mungkin 
juga sudah banyak kerusakan atau hampir rusak, lalu menjual/dikasihkan pada 
nelayan Indonesia yang sidikit banyak mencoreng muka RI, ... sendiri.

Salam,
ChanCT



From: mj [email protected] [GELORA45] 
Sent: Thursday, January 11, 2018 3:20 AM
Subject: [GELORA45] Jokowi Tanggapi Pendapat JK, Luhut, dan Susi soal 
Penenggelaman Kapal

  

Kebijakan emosionil. Cuma buat pencitraan.. Apa malunya disita kemudian dijual 
kepada nelayan kita sendiri?
Sama seperti drug yang disita kenapa kudu dimusnahkan, bukannya diberikan 
kepada yang sakit yang miskin yang membutuhkan tapi ga punya duit buat belinya?
mj

Jokowi Tanggapi Silang Pendapat JK, Luhut, dan Susi 
soal Penenggelaman Kapal



IHSANUDDIN
Kompas.com - 10/01/2018, 18:53 WIB
Presiden Joko Widodo saat hadir pada perayaan HUT PDI-P ke-45, di Jakarta 
Convention Center, Jakarta, Rabu (10/1/2018).(KOMPAS.com/ MOH NADLIR)
JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo angkat bicara soal silang pendapat 
di kabinet kerja terkait kebijakan penenggelaman kapal asing pencuri ikan di 
wilayah perairan Indonesia.

Silang pendapat terjadi antara Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator 
bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, dan Menteri Kelautan dan Perikanan 
Susi Pudjiastuti.

Luhut meminta langkah Susi menenggelamkan kapal dihentikan dan meminta 
Kementerian Kelautan dan Perikanan fokus meningkatkan ekspor.

Pernyataan Luhut kemudian didukung Wapres Kalla.

(Baca: Penenggelaman Kapal ala Susi Dipuji Jokowi, Dikritik JK dan Luhut)

Namun, Susi menyatakan tetap konsisten pada kebijakannya karena merasa hal 
tersebut  sesuai ketentuan undang-undang.

Presiden mengatakan sempat meminta Susi untuk fokus meningkatkan ekspor ikan. 
Permintaan itu disampaikan Presiden kepada Susi dalam rapat kabinet.

"Saya sampaikan ke Bu Susi, Bu sekarang konsentrasinya ke industri pengolahan 
ikan terutama yang mendorong untuk ekspor, ikan untuk ekspor karena ekspor kita 
turun. Itu saja," kata Presiden di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (10/1/2018).

(Baca: Wapres Minta Menteri Susi Hentikan Penenggelaman Kapal)

Namun, Presiden Jokowi tetap menilai bahwa penenggelaman kapal yang selama tiga 
tahun terakhir dilakukan untuk kebaikan negara.

Ia menyatakan tetap mendukung kebijakan tersebut sebagai bentuk penegakan hukum.

"Jadi, penenggelaman ini bentuk law enforcement yang kita tunjukkan bahwa kita 
ini tidak main-main terhadap ilegal fishing, terhadap pencurian ikan. Enggak 
main-main," kata Presiden Jokowi.

"Oleh karena yang paling serem ditenggelamkan. Yang paling serem itu. Untuk 
efek jera," tambah dia.



Kirim email ke