Doktor UI temukan deteksi kanker melalui napas
 Rabu, 10 Januari 2018 21:34 WIB
 
Arsip: Lungcancersymptoms. (lungcancersymptoms.spotlightr.)

Jakarta (ANTARA News) - Doktor Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas 
Indonesia (FKUI) Achmad Hudoyo menciptakan inovasi deteksi dini kanker paru 
melalui hembusan napas dengan menggunakan balon karet.

Dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, Achmad mengatakan ia mendapatkan 
inspirasi dari penelitian tentang kemampuan anjing dalam melacak keberadaan 
kanker paru dalam tubuh seseorang.

"Anjing pelacak yang sudah terlatih, dapat membedakan napas pasien yang 
menderita kanker paru dan yang tidak dengan tingkat keakuratan mencapai 93 
persen.

Ini mengindikasikan bahwa ada suatu zat tertentu yang hanya terdapat di napas 
para penderita kanker paru. Inilah yang kemudian menginspirasi saya memulai 
penelitian ini," kata Achmad.

Ia mengembangkan sebuah deteksi dini kanker dengan cara "memerangkap" napas 
hembusan pasien terduga kanker paru ke dalam sebuah balon karet yang kemudian 
didinginkan dalam lemari es atau direndam dalam air es agar napas-hembusan di 
dalam balon karet mengalami proses pendinginan. 

Tahap berikutnya, napas hembusan tersebut disemprotkan ke kertas saring khusus 
untuk menyimpan DNA. 

Media kertas saring inilah yang akan dikirim ke laboratorium biomolekular untuk 
pemeriksaan lebih lanjut terkait vonis kanker paru.

Metode ini dinilai memiliki keunggulan karena menggunakan alat yang sederhana 
dan murah, yaitu berupa balon karet yang sering dimainkan anak-anak yang dapat 
dengan mudah ditemukan di Indonesia. Tingkat keakuratan metode ini juga 
mencapai diatas 70 persen.

Ada pun kanker paru merupakan salah satu penyakit penyebab kematian utama di 
Indonesia dan dunia. 

Menurut laporan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas 
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada 2015, dari 668 kasus keganasan 
rongga torak yang tercatat, sebesar 75 persen merupakan kasus kanker paru. 

Selain itu, angka kelangsungan hidup kanker paru juga rendah. Tercatat, hanya 
15 persen penderita pasien kanker paru yang bisa bertahan hidup sampai 5 tahun. 
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan angka tahan hidup kanker kolon (61 
persen), kanker payudara (86 persen), dan kanker prostat (96 persen).

Salah satu penyebab rendahnya angka kelangsungan hidup ini adalah keterlambatan 
diagnosis. Tercatat, hampir 70 persen pasien kanker paru ditemukan di tahap 
stadium lanjut, sehingga pilihan pengobatan menjadi terbatas dan tidak 
maksimal. 

Menurut Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Anwar 
Jusuf, deteksi dini kanker paru menjadi sulit karena paru-paru tidak mempunyai 
syaraf sehingga penderita terkadang tidak merasakan sakit sama sekali sampai 
akhirnya kondisi penderita sudah parah. 

Menurutnya, selama ini dokter paru menggunakan dua metode untuk mendeteksi dini 
kanker paru, yaitu melalui pemeriksaan dahak, dan foto rontgen, tetapi semua 
metode tersebut memerlukan biaya yang tidak murah dan tidak mudah dilakukan.

Achmad berharap metode yang ia temukan ini dapat meningkatkan harapan hidup 
para penderita kanker paru dengan cara mendeteksi dini kanker paru sedini 
mungkin. 

Selain itu, ia juga ingin membantu para penderita pasien paru di daerah-daerah 
yang belum terjangkau pelayanan kesehatan karena dengan metode ini deteksi dini 
kanker paru dapat dilakukan melalui pengiriman pos.

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ruslan Burhani

Kirim email ke