----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected]
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: GELORA_In
<[email protected]>Terkirim: Kamis, 11 Januari 2018 01.50.31 GMT+1Judul:
[nasional-list] Doktor UI temukan deteksi kanker melalui napas
Doktor UI temukan deteksi kanker melalui napas
Rabu, 10 Januari 2018 21:34 WIB
Arsip: Lungcancersymptoms. (lungcancersymptoms.spotlightr.)
Jakarta (ANTARA News) - Doktor Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia (FKUI) Achmad Hudoyo menciptakan inovasi deteksi dini kanker paru
melalui hembusan napas dengan menggunakan balon karet.
Dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, Achmad mengatakan ia mendapatkan
inspirasi dari penelitian tentang kemampuan anjing dalam melacak keberadaan
kanker paru dalam tubuh seseorang.
"Anjing pelacak yang sudah terlatih, dapat membedakan napas pasien yang
menderita kanker paru dan yang tidak dengan tingkat keakuratan mencapai 93
persen.
Ini mengindikasikan bahwa ada suatu zat tertentu yang hanya terdapat di napas
para penderita kanker paru. Inilah yang kemudian menginspirasi saya memulai
penelitian ini," kata Achmad.
Ia mengembangkan sebuah deteksi dini kanker dengan cara "memerangkap" napas
hembusan pasien terduga kanker paru ke dalam sebuah balon karet yang kemudian
didinginkan dalam lemari es atau direndam dalam air es agar napas-hembusan di
dalam balon karet mengalami proses pendinginan.
Tahap berikutnya, napas hembusan tersebut disemprotkan ke kertas saring khusus
untuk menyimpan DNA.
Media kertas saring inilah yang akan dikirim ke laboratorium biomolekular untuk
pemeriksaan lebih lanjut terkait vonis kanker paru.
Metode ini dinilai memiliki keunggulan karena menggunakan alat yang sederhana
dan murah, yaitu berupa balon karet yang sering dimainkan anak-anak yang dapat
dengan mudah ditemukan di Indonesia. Tingkat keakuratan metode ini juga
mencapai diatas 70 persen.
Ada pun kanker paru merupakan salah satu penyakit penyebab kematian utama di
Indonesia dan dunia.
Menurut laporan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada 2015, dari 668 kasus keganasan
rongga torak yang tercatat, sebesar 75 persen merupakan kasus kanker paru.
Selain itu, angka kelangsungan hidup kanker paru juga rendah. Tercatat, hanya
15 persen penderita pasien kanker paru yang bisa bertahan hidup sampai 5 tahun.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan angka tahan hidup kanker kolon (61
persen), kanker payudara (86 persen), dan kanker prostat (96 persen).
Salah satu penyebab rendahnya angka kelangsungan hidup ini adalah keterlambatan
diagnosis. Tercatat, hampir 70 persen pasien kanker paru ditemukan di tahap
stadium lanjut, sehingga pilihan pengobatan menjadi terbatas dan tidak
maksimal.
Menurut Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Anwar
Jusuf, deteksi dini kanker paru menjadi sulit karena paru-paru tidak mempunyai
syaraf sehingga penderita terkadang tidak merasakan sakit sama sekali sampai
akhirnya kondisi penderita sudah parah.
Menurutnya, selama ini dokter paru menggunakan dua metode untuk mendeteksi dini
kanker paru, yaitu melalui pemeriksaan dahak, dan foto rontgen, tetapi semua
metode tersebut memerlukan biaya yang tidak murah dan tidak mudah dilakukan.
Achmad berharap metode yang ia temukan ini dapat meningkatkan harapan hidup
para penderita kanker paru dengan cara mendeteksi dini kanker paru sedini
mungkin.
Selain itu, ia juga ingin membantu para penderita pasien paru di daerah-daerah
yang belum terjangkau pelayanan kesehatan karena dengan metode ini deteksi dini
kanker paru dapat dilakukan melalui pengiriman pos.
Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ruslan Burhani