From: mj [email protected] [GELORA45] 
Sent: Wednesday, January 17, 2018 2:18 AM
Subject: [GELORA45] Beras impor buktikan kegagalan Bulog

  

Impor Beras Buktikan Pemerintah Gagal
Senin, 16 November 2015 | 11:41

Ilustrasi beras impor. [www.liputan6.com] 

Berita Terkait

  a.. Sudirman Said: Impor Beras Bukan Solusi Tapi karena Malas Mencari Jalan 
Keluar 
  b.. Stok Mencukupi, Pemprov Banten Keberatan Kebijakan Impor Beras Pemerintah 
Pusat 
  c.. Gubernur Gorontalo Dukung Penghentian Impor Beras 
  d.. Sebut Data BPS Tak Dapat Dipercaya, JK Katakan Pemerintah Tetap Impor 
Beras 
  e.. Mentan: Indonesia 2015 Tidak Ada Impor Beras
[JAKARTA] Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) memandang 
kebijakan impor beras yang barus saja dilakukan oleh pemerintah merupakan bukti 
kegagalan Badan Urusan Logitisk (Bulog) dalam menyerap produksi beras nasional.

Jika mekanisme kinerja ini terus berlanjut, sebesar apapun produksi beras 
nasional, maka pada akhirnya hanya akan membebani petani dan menguntungkan 
tengkulak.

“Faktor eksternal seperti El-nino, kekeringan, besarnya alokasi beras ke 
bencana alam, dan operasi pasr seakan menjadi rasionalisasi efektif terkait 
kebijakan importasi beras yang dilakukan pemerintah. Padahal sejatinya, ini 
merupakan karena lemahnya faktor internal yaitu kegagalan Bulog dalam menyerap 
produksi petani sehingga menyebabkan cadangan beras nasional menipis, jalan 
paling singkat tentu saja dengan melegalisasi impor,” disampaikan oleh Anggota 
Komisi Pangan DPR RI Rofi Munawar dalam keterangan pers pada hari Senin, 
(16/11).

Setelah bantahan dari berbagai pejabat soal impor beras, akhirnya pemerintah 
benar-benar memasukkan beras impor ke Indonesia. Beras asal Vietnam itu bahkan 
sudah mulai masuk ke Jakarta dan daerah-daerah lainnya.

Pada hari Rabu (4/11/2015), sebanyak 4.800 ton beras asal Vietnam tiba di 
Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Kemudian Minggu (8/11/2015), Bulog Merauke 
berencana mendatangkan beras impor dari Vietnam karena persediaan menipis 
akibat petani yang tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Pemerintah dengan kebijakan impor beras seakan-akan sedang menyalahkan petani 
Indonesia yang tidak mampu memenuhi kebutuhan beras nasional, padahal kelemahan 
tersebut diakibatkan dari rendahnya serapan dan lemahnya redistribusi beras 
lokal oleh perum Bulog.

Selain itu manajemen produksi dan stok beras nasional juga lemah, seharusnya 
daerah yang surplus beras kelebihan produksinya didistribusikan ke daerah yang 
kurang. Kebijakan impor ini menunjukan pemerintah malas untuk menghimpun, 
menseleksi dan mendistribusi beras nasional, karena lebih mudah dan murah 
melakukan impor beras dari Vietnam.

“Jika pemerintah mau berpikir jernih dan berpihak kepada petani, sebenarnya 
mereka pasti memiliki peta sentra produksi beras nasional dan bagaimana 
produksinya. Dari situ dipetakan bagaimana kondisi kebutuhan di daerah 
tersebut, sekiranya berlebih segera lakuan redistribusi kepada daerah yang 
gagal panen atau kurang baik hasilnya. Usaha jangka pendek itu bisa dilakukan, 
sembari dalam jangka panjang mengembalikan  pola konsumsi dengan program 
diversifikasi pangan nasional,” usul Rofi.

Prediksi el-nino sudah diketahui jauh-jauh hari, pun demikian dengan potensi 
kekeringan. Seharusnya ada alternative solusi yang sudah disiapakan oleh 
pemerintah untuk menjaga produksi beras nasional.

Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan antara lain peningkatan produktivitas 
padi sawah dan padi gogo, peningkatan intensitas tanam, baik pada sawah irigasi 
maupun tadah hujan, peningkatan pemanfaatan lahan yang tidak produktif, 
peremajaan sumber daya pertanian (petani dll) dan penanganan pascapanen secara 
tepat guna menekan kehilangan hasil serta meningkatkan rendemen beras.

“Untuk itu diperlukan peningkatan koordinasi dan interaksi dari para pemangku 
kepentingan mulai dari tingkat pusat sampai kecamatan, utamanya antara lembaga 
teknis, litbang, dan penyuluhan pertanian dalam mendukung penerapan teknologi 
maju.” Pungkas Rofi. [PR/L-8]



Kirim email ke