Rencana Amerika Serikat untuk mengurangi jumlah dan membatasi kemampuan senjata nuklir di dunia memang kedengaran indah. Sebab, kata AS, persediaan senjata nuklir yang sekarang ada di dunia dianggap sangat mematikan dan jumlahnya terlalu banyak. Sialnya, rencana AS ini dilandasi niat pengembangan baru senjata nuklir yang berdaya ledak rendah saja supaya, katakanlah, bisa digunakan - ulang: bisa digunakan "sehari-hari". Termasuk untuk membalas serangan non-nuklir.
Begitu lebih kurangnya isi bocoran dokumen NPR (Nuclear Posture Review) yang dirilis Huffington Post pekan lalu. Adalah tugas orang Amerika untuk menghentikan segala pikiran, niat, dan tradisi konyol pemerintahnya yang terus-menerus menyeret dunia ke dalam situasi bahaya. - Russia’s nuclear underwater drone is real and in the Nuclear Posture Review Drone Bawah Laut Rusia Mampu Bawa Nuklir 100 Megaton MuhaiminSenin, 15 Januari2018 – 21:45 WIB WASHINGTON - Sebuah dokumen Pentagonyang bocor ke media mengungkap bahwa Rusia memiliki sebuah kendaraan nirawak (drone) bawah laut yangmampu membawa hulu ledak nuklir 100 megaton. Dokumen Pentagon tentang “NuclearPosture Review” itu lengkap dengan data grafis kendaraan autonomous underwater vehicle(AUV) tersebut. Pentagon telah mengonfirmasi dokumen yang bocor itu asli. Pejabat Pentagon memperingatkan dalam tinjauannya itu bahwa Rusia telah secaraaktif melakukan diversifikasi kemampuan nuklirnya. Selain modernisasi ”warisan” sistem nuklir Soviet, Rusia sedang mengembangkandan mengerahkan hulu ledak nuklir dan peluncur baru. Upaya ini mencakupbeberapa peningkatan untuk setiap kaki triad nuklir Rusia dari pesawat pembomstrategis, rudal berbasis laut dan rudal berbasis darat. Rusia juga mengembangkan setidaknya dua sistem jangkauan antarbenua baru,kendaraan luncur hipersonik dan torpedo bawah laut bertenaga nuklir antarbenuayang baru. Dokumen draf review itu diperoleh dan dipublikasikan oleh Huffington Post. Dalamsebuah pernyataan, Pentagon tidak menyangkal bahwa rancangan tersebut memangasli. “Diskusi kami telah kuat dan beberapa draf telah ditulis. Namun, Nuclear Posture Review belumselesai dan pada akhirnya akan ditinjau dan disetujui oleh Presiden dan MenteriPertahanan. Seperti menyangkut hal umum, kami tidak membahas pra-keputusan,draf salinan strategi dan ulasan,” bunyi pernyataan Pentagon, yang dikutip Newsweek, Senin(15/1/2018).
