Asal Mula Emas Tugu Monas Jakarta / The Origin of Gold Monument Monument Jakarta
bukhairidin (53) in wraiting •  3 months ago
Tugu Monas


[sumber]()


Teuku Markam, salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya di 
Indonesia. Dia menyumbang 38 kilogram emas untuk puncak Tugu Monumen Nasional 
(Monas). Kejayaannya runtuh pada masa Orde Baru. Teuku Markam merupakan salah 
satu saudagar Aceh yang sukses dimasanya. Ada 38 kilogram emas yang dia 
sumbangkan untuk membalut puncak Tugu Monas Jakarta, yang merupakan simbol 
kebesaran Indonesia. Masyarakat hanya mengetahui, emas tersebut memang benar 
sumbangan saudagar Aceh. Namun, tak banyak yang tahu, kalau Teuku Markamlah 
yang dimaksud. Itu baru segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri 
ini. Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat 
olah raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan Teuku Markam lainnya 
yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, 
hingga menempatkan Teuku Markam dalam sebuah legenda. Di masa Orde Baru (Orba), 
karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan 
Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan dan 
lainnya adalah karya dari Teuku Markam yang didanai Bank Dunia. Sampai 
sekarang, jalan-jalan itu tetap awet. Teuku Markam pernah memiliki sejumlah 
kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, Palembang. Dia tercatat sebagai 
eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor 
plat baja, besi beton sampai senjata untuk militer. Mengingat perannya yang 
begitu besar dalam kancah bisnis dan perekonomian Indonesia, Teuku Markam 
pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan pemerintahan Soekarno. 
Peran Teuku Markam menjadi hancur dan runtuh seiring dengan berkuasanya 
pemerintahan Soeharto. Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat 
Partai Komunis Indonesia (PKI).. Harta kekayaannya diambil alih begitu saja 
oleh Rezim Orba. Pernah mencoba bangkit setelah keluar dari penjara, tapi tidak 
sempat bertahan lama.Teuku Markam lahir tahun 1925. Dia merupakan salah satu 
turunan ulee balang. Ayahnya Teuku Marhaban, berasal dari Kampung Seuneudon dan 
Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi 
yatim piatu. Ketika usia sembilan tahun, Teuku Marhaban meninggal dunia. 
Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh 
kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap pendidikan sampai kelas empat Sekolah 
Rakyat (SR). Teuku Markam tumbuh dewasa menjadi pemuda dan memasuki pendidikan 
wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat 
letnan satu.. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan 
ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jenderal Bejo, 
Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain.Selama bertugas di Sumatera 
Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut 
mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis. Teuku 
Markam sebagai prajurit penghubung, lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke 
Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinannya, Teuku Markam 
diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu 
dijalankan dan diemban Teuku Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia. 
Jenderal Gatot Soebroto juga yang mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu 
dengan Presiden Soekarno. Waktu itu, Bung Karno memang menginginkan adanya 
pengusaha pribumi (pengusaha putra daerah-red) yang betul-betul mampu 
menghendel masalah perekonomian Indonesia. Ketika 1957, Teuku Markam berpangkat 
Kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan mendirikan PT Karkam. Ia sempat bentrok 
dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam Iskandar Muda—red) karena ada orang tidak 
senang kepadanya dengan membuat berita buruk. Akibatnya Teuku Markam ditahan 
dan baru keluar 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan oleh 
Sjamaun Gaharu. Sejak keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta 
dengan membawa PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya Pemerintah RI mengelola 
pampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Setelah itu, Teuku Markam 
benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan 
beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar dan Surabaya. Bisnis 
Teuku Markam, semakin luas karena ia juga terjun dalam ekspor-impor dengan 
sejumlah negara. Diantaranya mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi 
beton, plat baja dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan 
Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden. Komitmen dan tekad 
Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI, sepenuhnya termasuk pembebasan 
Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot 
habis-habisan oleh Soekarno. Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi 
sumber Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), serta mengumpulkan sejumlah 
28 kilogram emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Seperti 
kita tahu, proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan 
harkat dan martabat bangsa. Peran Teuku Markam, menyukseskan Konferensi Tingkat 
Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil dana yang dikeluarkan, berkat bantuan 
sejumlah dana untuk keperluan KTT itu.





Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat 
dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain seperti Menteri PU Ir 
Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil 
Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo dan lain-lain. Pada masa Soekarno, 
nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah 
dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno. Sejarah kemudian berbalik. Peran 
dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan 
menjadi tiada artinya di mata pemerintahan Orba. Ia difitnah terlibat PKI dan 
dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme. Tuduhan itulah yang kemudian 
mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel 
tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia dimasukkan dalam tahanan bersama 
Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara 
Salemba, Jalan Percetakan Negara. Lalu dipindahkan lagi ke tahanan Cipinang, 
dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di Kawasan 
Pondok Gede Jakarta Timur. Pada 1972, ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di 
RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun. Semua terjadi begitu cepat. 
Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto membuat hidup Teuku Markam 
menjadi sulit dan prihatin. Dia baru bebas 1974. Ini pun, kabarnya, berkat 
jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya. Teuku Markam dilepaskan begitu 
saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orde barua. “Memang betul, 
saat itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak- haknya. Tapi waktu itu ia 
tertindas dan teraniaya,” kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku 
Markam. Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966 
mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain-lain yang 
kemudian dikelola PT. PP Berdikari yang di dirikan Suhardiman untuk dan atas 
nama pemerintahan RI. Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang 
terakhir ini adalah tokoh Aceh di Jakarta) termasuk teman-teman Teuku Markam. 
Namun, tidak banyak menolong mengembalikan aset PT Teuku Karkam. Justru mereka 
ikut mengelola aset-aset tersebut di bawah bendera PT. PP Berdikari. Suhardiman 
adalah orang pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur 
tertera Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya PP Berdikari 
dipimpin Letjen Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin 
SH.Pada 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974. Isinya antara 
lain penegasan status harta kekayaan eks PT. Teuku Karkam atau PT. Aslam atau 
PT. Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus 
“pinjaman” yang nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai penyertaan modal negara di 
PT. PP Berdikari. Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku 
Markam dari tahanan. Proyek Bank Dunia saat dia keluar dari penjara (1974), 
Teuku Markam mendirikan PT. Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia 
untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari 
proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT. Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa 
Barat, mau diresmikan pemerintahan Soeharto. Proyek PT. Marjaya di Aceh antara 
lain pembangunan Jalan Bireuen - Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, 
Medan-Banda Aceh, PT. PIM dan lain-lain. Teuku Syauki menduga, Rezim Orba 
sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku 
Syauki, proyek-proyek Markam “dianggap” angin lalu. Teuku Markam meninggal 
tahun 1985 akibat komplikasi berbagai penyakit di Jakarta. Sampai akhir 
hayatnya, pemerintah tidak pernah merehabilitasi namanya. Bahkan sampai 
sekarang. “Air susu dibalas air tuba,” itulah nasib ayah kami, kata Teuku 
Syauki mengenai perilaku penguasa Orba. Untuk mengembalikan aset PT. Karkam 
yang dikuasai pemerintah. Selaku ahli waris, Teuku Syauki Markam menyurati 
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Wapres Megawati Soekarno putri, ketika 
itu. Kekayaan Teuku Markam yang diambil alih itu ditaksir bernilai Rp 40 
triliun lebih. Sejak Teuku Markam meninggal dunia, aktivitas bisnisnya ditekan 
habis-habisan. Ahli warisnya hidup terlunta-lunta sampai ada yang menderita 
depresi mental. Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tidak 
pernah direhabilitir. Anak-anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya 
upaya dan memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Teuku Markam. Dan kini, 
ahli waris Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.

Demikian sedikit saya ceritakan asal mula sejarah berdirinya tugu monas 
jakarta, semoga bangsa kita tidak melupakan sejarah perjuangan para leluhur.

Terimakasih telah membaca postingan saya, semoga bermanfaat, salam 
bukhairidin...

Monas Monument


[sumber]()


Teuku Markam, one of Aceh's traders who once became the richest man in 
Indonesia. He donated 38 kilograms of gold for the top of the National Monument 
Monument (Monas). His glory collapsed during the New Order. Teuku Markam is one 
of the successful Acehnese merchants of his time. There are 38 kilograms of 
gold that he donated to wrap the top of Monas Monument Jakarta, which is a 
symbol of the greatness of Indonesia. Society only know, the gold is true 
contribution of the Acehnese merchants. However, not many know, if Teuku 
Markamlah referred. That's just a handful of Teuku Markam's works for the 
benefit of this country. Other works, he also helped to free the land of 
Senayan to become Indonesia's largest sports center. Of course, many other 
Teuku Markam aids are worthy of note in advancing the Indonesian economy in the 
Soekarno era, to put Teuku Markam in a legend. In the New Order (Orba), his 
monumental monumental work was the development of infrastructure in Aceh and 
West Java. Medan-Banda Aceh Road, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan and 
others are works from Teuku Markam funded by the World Bank. Until now, the 
streets remain durable. Teuku Markam once owned a number of ships, boat docks 
in Jakarta, Makassar, Medan, Palembang. He was listed as the first exporter of 
Toyota Hardtop cars from Japan. Another attempt was to import steel plates, 
concrete iron to weapons for the military. Given his enormous role in the 
business and economic scene of Indonesia, Teuku Markam was once mentioned as a 
member of the shadow cabinet of Soekarno's government.. The role of Teuku 
Markam became devastated and collapsed with the reign of Soeharto. He was 
detained for eight years on charges of involvement with the Indonesian 
Communist Party (PKI). His wealth was taken over by the New Order regime. Ever 
tried to get up after getting out of jail, but did not have time to survive 
lama.Teuku Markam born in 1925. He is one of the ulee derivatives of the 
balang. His father Teuku Marhaban, originally from Seuneudon and Alue Capli 
villages, Panton Labu Aceh Utara. Since childhood Teuku Markam has become an 
orphan. When the age of nine, Teuku Marhaban died. While his mother had already 
died. Teuku Markam was later raised by his brother Cut Nyak Putroe. Had tasted 
education until the fourth grade of Sekolah Rakyat (SR). Teuku Markam grew up 
to be a young man and entered a compulsory military education in Koeta Radja 
(Banda Aceh now) and graduated with the rank of first lieutenant. Teuku Markam 
joined the Indonesian People's Army (TRI) and joined the battle in Tembung, 
North Sumatra together with General Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin 
and others. During his stint in North Sumatra, Teuku Markam was active in 
various battlefields. He even reconciled the clash between Simbolon and Manaf 
Lubis forces. Teuku Markam as a liaison officer, then sent by Commander General 
Bejo to Jakarta to meet the government leaders. By his leadership, Teuku Markam 
was sent again to Bandung to become the adjutant of General Gatot Soebroto. The 
task was carried out and carried Teuku Markam until Gatot Soebroto passed away. 
General Gatot Soebroto also entrusted Teuku Markam to meet with President 
Soekarno. At that time, Bung Karno did want the indigenous businessmen 
(entrepreneurs son of the region-red) who really could handle the problems of 
the Indonesian economy. When 1957, Teuku Markam held the rank of Captain (NRP 
12276), returned to Aceh and established PT Karkam. He had clashed with Teuku 
Hamzah (Commander of Kodam Iskandar Muda-red) because there are people not 
happy with him by making bad news. As a result, Teuku Markam was arrested and 
only out of 1958. The conflict with Teuku Hamzah was successfully reconciled by 
Sjamaun Gaharu. Since getting out of detention, Teuku Markam returned to 
Jakarta with PT Karkam. The company is trusted by the Government of RI to 
manage the war reparation to be used as revolution fund. After that, Teuku 
Markam really wrestle the business world with a number of assets in the form of 
ships and some boat docks in Palembang, Medan, Jakarta, Makassar and Surabaya. 
Business Teuku Markam, increasingly widespread because he also plunged in 
export-import with a number of countries. Among others are importing Toyota 
Hardtop cars from Japan, concrete iron, steel plate and even had time to import 
weapons with the approval of the Ministry of Defense and Security (Dephankam) 
and the President. The commitment and determination of Teuku Markam is to 
support the struggle of RI, including the liberation of West Irian as well as 
the eradication of illiteracy which at that time was spurred by Soekarno. The 
business results of Teuku Markam are also said to be the source of the State 
Budget (APBN), and collect 28 kilograms of gold to be placed at the top of the 
National Monument (Monas). As we know, the Monas project is one of Soekarno's 
dreams in improving the nation's dignity. The role of Teuku Markam, the success 
of the Asia Africa Summit is not a small amount of money spent, thanks to the 
assistance of some funds for the purposes of the Summit.





Teuku Markam is one of the Indonesian conglomerates known closely to the 
Soekarno government and other officials such as Minister of Public Works Ir 
Sutami, politicians Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil 
Arifin, Suhardiman, Probosutedjo businessmen and others. In the time of 
Soekarno, the name of Teuku Markam was amazingly popular. To the extent that 
Teuku Markam once said as a shadow cabinet of Sukarno. History then turned 
around. The role and contribution of Teuku Markam in building the Indonesian 
economy seemed to be meaningless in the eyes of the New Order government. He 
was vilified against the PKI and accused as corrupt and Sukarnoisme. The 
allegations later led Teuku Markam to prison in 1966. He was thrown into a cell 
without trial. First he was put in custody with Budi Utomo, then transferred to 
Guntur, then moved to Salemba prison, Jalan Percetakan Negara. Then transferred 
again to Cipinang prisoner, and lastly transferred to Nirbaya prison, detainee 
for politician in Pondok Gede Area, East Jakarta. In 1972, he fell ill and was 
forced to be treated at RSPAD Gatot Subroto for about two years. It all 
happened so fast. The transition of power from Soekarno to Suharto made the 
life of Teuku Markam difficult and concerned. He was newly released 1974. This, 
too, was reportedly, thanks to the good merit of his loyal friends. Teuku 
Markam was released unceremoniously without any compensation from the New Order 
government. "It is true that Teuku Markam will not claim his rights at that 
time. But at that time he was oppressed and persecuted, "said Teuku Syauki 
Markam, one of Teuku Markam's sons. Soeharto as Chairman of the Presidium of 
Ampera Cabinet, on August 14, 1966 took over the assets of Teuku Markam in the 
form of offices, land and others which then managed by PT. PP Berdikari that 
established Suhardiman for and on behalf of the government of Indonesia. 
Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (the last two are Aceh figures in 
Jakarta) including Teuku Markam friends. However, not much help to restore the 
assets of PT Teuku Karkam. Instead they manage the assets under the banner of 
PT. PP Berdikari. Suhardiman was the first person to lead the company. In the 
board of directors listed Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, and Amran Zamzami. Next 
PP Berdikari led by Lieutenant Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, and 
Bustanil Arifin SH.Pada 1974, Suharto issued Presidential Decree No. 31 Year 
1974. The contents include assertion of the status of wealth ex PT. Teuku 
Karkam or PT. Aslam or PT. Sinar Pagi taken over the government of Indonesia in 
1966 status "loan" whose value Rp 411.314.924.29 as state equity in PT. PP 
Berdikari. The presidential decree was published exactly in the year of Teuku 
Markam's release from detention. The World Bank project when he was released 
from prison (1974), Teuku Markam established PT. Marjaya and working on World 
Bank projects for infrastructure development in Aceh and West Java. But none of 
the giant projects PT. Marjaya, both in Aceh and West Java, would be 
inaugurated by the Soeharto government. Project PT. Marjaya in Aceh includes 
the construction of Bireuen - Takengon Road, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan - 
Banda Aceh, PT. PIM and others. Teuku Syauki guessed that the New Order regime 
was very afraid if Teuku Markam got up again. For that reason, said Teuku 
Syauki, Markam projects "considered" the wind ago. Teuku Markam died in 1985 
due to complications of various diseases in Jakarta. Until his death, the 
government had never rehabilitated his name. Even now. "The milk is returned to 
the tuba," that is the fate of our father, Teuku Syauki said of the behavior of 
the New Order authorities. To return the assets of PT. Government-controlled 
Karkam. As an heir, Teuku Syauki Markam wrote to President Abdurrahman Wahid 
(Gus Dur) and Vice President Megawati Soekarno, at that time. The acquired 
Teuku Markam wealth is estimated to be worth Rp 40 trillion more. Since Teuku 
Markam passed away, his business activities have been squeezed out. His heirs 
live in a daze until someone suffers from mental depression. Until the power of 
the New Order came to an end, the good name of Teuku Markam was never 
rehabilitated. Her children try to survive with all effort and utilize the 
former business connections Teuku Markam. And now, Teuku Markam's heir is 
struggling to restore the rights of his parents.

So little I tell the origin of the history of monas monument Jakarta, hopefully 
our nation does not forget the history of the struggle of the ancestors.

Thank you for reading my post, hopefully useful, regards [bukhairidin ...] 
(https://steemit.com/@bukhairidin)














wraitingstorylifeacehindonesia3 months ago by bukhairidin (53)$1.26   
   - 
   - 
   - 
62 votes   
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
Reply 6 23   
   -  
   -  
   -  
Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning 
FREE STEEM!
Sign up. Get STEEMSort Order:  trending[-]minnowpond1 (48)  ·  3 months ago
@minnowpond1 has voted on behalf of @minnowpond. If you would like to recieve 
upvotes from minnowponds team on all your posts, simply FOLLOW @minnowpond.
        To receive an upvote send 0.25 SBD to @minnowpond with your posts url 
as the memo
        To receive an reSteem send 0.75 SBD to @minnowpond with your posts url 
as the memo
        To receive an upvote and a reSteem send 1.00SBD to @minnowpond with 
your posts url as the memo$0.00   
Reply·[-]bukhairidin (53)  ·  3 months ago
Terima kasih @minnowpond..
$0.00   
Reply[-]hidayani (46)  ·  3 months ago
Sebuah sejarah yang bagus bang @bukhairidin, sejarah seperti ini harus selalu 
di update setiap tahunnya kalau perlu setiap 6 bulan. Supaya masyarakat dan 
khususnya generasi muda tidak lupa akan sejarah ini sepanjang masa sampai mata 
terlelap selamanya.
$0.00   
Reply·[-]bukhairidin (53)  ·  3 months ago
Terima kasih @hidayani..
Saya sangat sependapat, bilamana generasi kita bisa membacanya bisa tau sejarah 
bangsa kita ini. Jika tidak ditulis sejarah akan hilang termakan oleh usia, 
jadi harapan saya semoga sejarah-sejarah yang penting untuk segera ditulis atau 
dicatat dalam buku.
$0.00   
Reply[-]screenname (66)  ·  3 months ago
This post has been ranked within the top 80 most undervalued posts in the 
second half of Oct 19. We estimate that this post is undervalued by $13.75 as 
compared to a scenario in which every voter had an equal say.

See the full rankings and details in The Daily Tribune: Oct 19 - Part II. You 
can also read about some of our methodology, data analysis and technical 
details in our initial post.

If you are the author and would prefer not to receive these comments, simply 
reply "Stop" to this comment.
$0.00   
Reply·[-]bukhairidin (53)  ·  3 months ago
Thank @screenname..
$0.00   
Reply

Kirim email ke