*Agaknya rezim neo-Mojopahit senang orang utan dibasmikan, karena dianggap
binatang kafir ciptaan setan bin iblis maka oleh karena itu keberadaan
orang utan terus terdesak. Yang penting ialah fulus, jadi sana sini dimana
ada hutan harus dibabat untuk tanam kelapa sawit.*


http://www.mediaindonesia.com/news/read/142039/keberadaan-orang-utan-terus-terdesak/2018-01-23



Keberadaan Orang Utan Terus Terdesak

Selasa, 23 January 2018 23:46 WIB Penulis: *(AT/N-3) *

<http://www.mediaindonesia.com/files/news/2018/01/ota.jpg>
<http://www.mediaindonesia.com/files/news/2018/01/ota.jpg>

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

KONDISI orang utan di Indonesia terus terdesak. Padahal, saat ini populasi
orang utan di dunia hanya ada di Sumatra dan Kalimantan. Dari hasil
penelitian yang dilakukan Dr Ike Nurjuita Nayasilanan dari Program
Pascasarjana Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, tentang diseminasi
adaptasi orang utan di hutan lindung, disebutkan bahwa populasi orang utan
terus berkurang karena habitatnya semakin mengecil. Berdasarkan estimasi
terakhir sekitar 14.470 orang utan masih tersisa di Sumatra, dan 57.350
orang utan di Kalimantan.
“Orang utan memiliki perilaku suka hidup di daerah dataran rendah.
Kesukaannya mencari makan di dataran rendah ini menyebabkan sering
berhadapan dengan manusia. Di Kalimantan mereka terfragmentasi karena di
sana da­taran tinggi hanya 700 mdpl-800 mdpl, sedangkan di Sumatra, sekitar
75% orang utan berada di luar kawasan konservasi,” ujarnya dalam ujian
doktoral di Program Pascasarjana Fakultas Biologi UGM di Yogyakarta, akhir
pekan lalu.

Ike menilai kesukaan orang utan hidup di dataran rendah menyebabkan
populasi mereka terus menyusut. Apalagi, satwa yang dilindungi ini juga
suka mengonsumsi pakan berupa buah-buahan, daun, rotan, dan serangga.
“Orang utan memang mengeksplora­si habitat alaminya. Namun, pergerakan
mereka meng­ikuti sebaran pohon sarang dan pohon pakan,” lanjut Ike saat
membacakan hasil ujian doktoralnya. Berdasarkan penelitiannya, kemungkinan
orang utan awalnya hanya satu spesies. Namun, saat ini ditemukan dua
spesies di Sumatra, yakni Pongo tapanuliensis dan orangutan sumatra (Pongo
abelii). Selain itu, ada satu spesies lagi, yakni orang utan kalimantan
(Pongo pygmaeus).

Munculnya dua spesies ­orang utan di Sumatra, kata Ike, besar dugaan
perubahan genetik akibat letusan Gunung Toba. “Dugaan awal karena adanya
Gunung Toba meletus sehingga ada barier dari letus­an itu,” lanjutnya. Ike
manambahkan, dahulu orang utan juga terdapat di Jawa, terbukti dengan
ditemukannya fosil orang utan di Pacitan. Namun, kepunahan orang utan di
Jawa diduga konversi lahan akibat populasi manusia. Dari hasil
penelitiannya terhadap 16 orang utan yang dilepas di Bukit Batikap,
Kalimantan Tengah, usia hidup mereka rata-rata sama dengan manusia, yakni
60 tahun-65 tahun. Bahkan, ada yang berumur 70 tahun. Namun, orang utan
yang berada di hutan rata-rata berumur 55 tahun. (AT/N-3)

Kirim email ke