http://nasional.kompas.com/read/2018/01/24/21555471/gus-mus-kiai-pertama-peraih-penghargaan-
yap-thiam-hien
Gus Mus, Kiai Pertama Peraih Penghargaan
Yap Thiam Hien
Kristian Erdianto
Kompas.com - 24/01/2018, 21:55 WIB
KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus menerima penghargaan
Yap Thiam Hien tahun 2017. Penghargaan diberikan dalam acara malam
penganugerahan Yap Thiam Hien Award 2017 di Aula Perpustakaan Nasional,
Jakarta Pusat, Rabu (24/1/2018). Dalam acara penganugerahan tersebut
hadir Menkumham Yasonna Laoly, Menteri KKP Susi Pudjiastuti, Wakil Ketua
KPK Laode M. Syarief, Komisioner Komnas HAM Beka Hapsara dan Wakil Ketua
Komisi Yudisial Sukma Violetta.
KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus menerima penghargaan
Yap Thiam Hien tahun 2017. Penghargaan diberikan dalam acara malam
penganugerahan Yap Thiam Hien Award 2017 di Aula Perpustakaan Nasional,
Jakarta Pusat, Rabu (24/1/2018). Dalam acara penganugerahan tersebut
hadir Menkumham Yasonna Laoly, Menteri KKP Susi Pudjiastuti, Wakil Ketua
KPK Laode M. Syarief, Komisioner Komnas HAM Beka Hapsara dan Wakil Ketua
Komisi Yudisial Sukma Violetta. (KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)
*JAKARTA, KOMPAS.com* - KH Ahmad Mustofa Bisri
<http://indeks.kompas.com/tag/Mustofa-Bisri> atau akrab disapa Gus Mus
<http://indeks.kompas.com/tag/Gus-Mus> menerima penghargaan Yap Thiam
Hien <http://indeks.kompas.com/tag/Yap-Thiam-Hien> tahun 2017. Kiai
pengasuh pondok pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, ini dinilai
memiliki perhatian yang besar terhadap perjuangan dan tegaknya
nilai-nilai hak asasi manusia
<http://indeks.kompas.com/tag/hak-asasi-manusia>.
Baca juga: Profil Gus Mus, Peraih Yap Thiam Hien Award 2017
<http://nasional.kompas.com/read/2018/01/24/22274201/profil-gus-mus-peraih-yap-thiam-hien-award-2017>
Penghargaan diberikan dalam acara malam penganugerahan Yap Thiam Hien
Award 2017 di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (24/1/2018).
Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Award, Todung Mulya Lubis mengatakan, Gus
Mus memang tidak pernah dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia
seperti Yap Thiam Hien atau Munir Said Thalib.
Gus Mus lebih dikenal sebagai tokoh Nadhatul Ulama (NU), kiai, pimpinan
pondok pesantren, dan budayawan.
"Namun buat saya, Gus Mus dengan semua karyanya, dengan semua sepak
terjangnya, keterlibatannya, adalah seorang pejuang hak asasi manusia,"
ujar Todung saat ditemui sebelum acara.
Baca juga: Gus Mus, Keteduhan Sang Pejuang Keberagaman...
<http://nasional.kompas.com/read/2018/01/24/23081341/gus-mus-keteduhan-sang-pejuang-keberagaman>
Menurut Todung, Gus Mus telah banyak berkontribusi untuk merawat
keberagaman di Indonesia. Perjuangan Gus Mus memang tidak ia perlihatkan
melalui demonstrasi atau aksi-aksi lainnnya.
Namun, Gus Mus menorehkan pemikiran dan gagasannya soal keberagaman
lewat tulisan serta tutur kata yang ia sampaikan ke seluruh santrinya.
"Gus Mus memang tidak berdemonstrasi tapi lewat menulis puisi,
disalurkan ke santri-santrinya dan juga masyarakat," ucap Todung.
Todung menuturkan, saat ini masyarakat sangat membutuhkan sosok seperti
Gus Mus di tengah menguatnya paham radikalisme dan sektarianisme. Kedua
paham tersebut, kata Todung, sangat mengganggu situasi masyarakat yang
beragam dan majemuk.
*Baca juga : Gus Mus: Tuhan, Islamkah Aku?
<http://nasional.kompas.com/read/2016/01/29/05000091/Gus.Mus.Tuhan.Islamkah.Aku.>
*
Gus Mus dinilai tidak pernah rela keberagaman dirusak oleh
kelompok-kelompok tertentu.
"Kita sangat butuh sosok yangkuat konsisten dan jujur seperti Gus Mus.
Beliau tidak ikhlas jika kemajemukan dicabik oleh ideologi yang anti
kemajemukan," kata Todung.
Gus Mus merupakan ulama pertama yang menerima penghargaan Yap Thiam Hien.
Todung mengatakan, terpilihnya Gus Mus juga mempertimbangkan konteks
politik Indonesia kekinian. Kondisi di mana agama kerap dijadikan alat
politik untuk meraih kekuasaan.
"Ini memang pertama kali ulama menerima Yap Thiam Hien award. Ia tak
suka melihat agama dipolitisasi, dijadikan alat politik," tuturnya.
Yap Thiam Hien award merupakan penghargaan yang diberikan kepada
orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan HAM di Indonesia.
Nama penghargaan ini diambil dari nama pengacara dan pejuang HAM, Yap
Thiam Hien.
*Baca juga : Tangisan Gus Mus yang Menyadarkan
<http://nasional.kompas.com/read/2015/08/04/15000021/Tangisan.Gus.Mus.yang.Menyadarkan>
*
Proses penentuan peraih Yap Thiam Hien Award 2017 diawali dengan
mengumpulkan kandidat yang dihimpun dari jaringan/komunitas dan
masyarakat luas sejak Mei 2017.
Ada 5 orang dewan juri Yap Thiam Hien Award pada tahun ini. Mereka
adalah Makarim Wibisono (diplomat senior), Siti Musdah Mulia (Ketua Umum
ICRP), Yoseph Stanley Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Zumrotin K Susilo
(aktivis perempuan dan anak), serta Todung Mulya Lubis.
Dalam acara penganugerahan tersebut hadir Menkumham Yasonna Laoly,
Menteri KKP Susi Pudjiastuti, Wakil Ketua KPK Laode M. Syarief,
Komisioner Komnas HAM Beka Hapsara dan Wakil Ketua Komisi Yudisial Sukma
Violetta.