10 Tahun Kematian SoehartoCitra Lamtoro Gung, Humpuss, Bimantara Citra adalah perusahaan yang terkenal sebagai usaha milik keluarga Soeharto. Apakah kini masih dikuasai Cendana? Reporter: Mawa Kresna 26 Januari, 2018a.. Lamtoro Gung Persada, Humpuss dan Bimantara Citra adalah ikon bisnis keturunan Soeharto
Citra Lamtoro Gung, Humpuss, Bimantara Citra adalah perusahaan yang terkenal sebagai usaha milik keluarga Soeharto. Apakah kini masih dikuasai Cendana?tirto.id - Kedai Kopi Cikini 049 di lantai 3 gedung Cikini Gold Center tampak sepi. Sampai sekitar pukul 12 siang, pada Kamis 24 Januari 2018, belum ada konsumen yang mampir. “Banyak pesanan lewat Go-Food saja,” kata Fadli, barista yang saat itu sedang meracik segelas kopi (baca: Berapa Lama Start Bisa Membakar Uang?). Kedai Kopi Cikini 049 tidak seperti kedai kopi pada umumnya yang menyediakan tempat duduk yang nyaman. Kedai kopi ini hanya menempati sepetak kios berukuran 3 x 4 meter saja. Jika ada konsumen, mereka harus duduk bercampur dengan konsumen gerai yang lain di food court tersebut. Meski terlihat sempit, kecil, dan tak menyolok, pelanggan Kopi Cikini 049 bukan orang sembarangan. Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, adalah salah satu konsumen kopi Cikini 049. Begitu pula Rachel Maryam, artis yang kini menjadi politikus. Juga ustad Erick Yusuf yang kerap tampil di televisi. Ketiganya pernah meng-endorse Kopi Cikini 049. Jika melihat menu kopi, sebenarnya tidak jauh berbeda dari kedai kopi lainnya, katakanlah Starbucksatau kedai kopi di daerah Cikini lain. Harganya pun biasa saja, tidak kelewat mahal walau juga tidak murah-murah amat. segelas Oreo Coffee dihargai Rp 25ribu. Lantas apa yang spesial dari kedai ini? Jawabannya: Gendis Siti Hatmanti, si pemilik kedai. Dia adalah cucu Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Baca juga: Kongsi Dagang Keluarga Soeharto dan Junta Militer Myanmar Bisnis Masa Lalu Gendis baru terjun ke bisnis ini pada awal 2017. Sebelumnya ia sudah lebih dulu terjun di dunia properti dan memiliki sebuah hotel di Bandung. Jika dibandingkan dua bisnis tersebut, apalagi dibandingkan bisnis yang pernah dijalankan oleh ayah, paman dan bibinya, kedai kopi ini jelas tidak sebanding. Bandingkan dengan PT Citra Lamtoro Gung Persada milik Siti Hardiyanti Rukamana yang akrab dipanggil Tutut, putri pertama Soeharto. Di puncak kejayaannya, perusahaan ini menjadi perusahaan sapu jagad. Hampir semua bidang usaha digarap perusahaan ini, mulai konstruksi, perdagangan, pertanian sampai kerajinan tangan. Baca juga: Mustahil Tommy Soeharto Menjadi Presiden Berdasar data profil perusahaan di Ditjen Ahu, Kementerian Hukum dan HAM, Danty Indriastuti Purnamasari, putri ketiga Tutut, juga dilibatkan di perusahaan ini. Ia menjadi salah satu pemegang saham dengan nilai sebesar Rp3 miliar, sedangkan ibu dan bapaknya masing-masing memegang saham Rp13,5 miliar. Selain Citra Lamtoro Gung, ada juga PT Humpuss yang memiliki banyak anak perusahaan yang berbeda bidang usaha. Humpuss adalah miliki Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Untuk urusan bisnis properti dan konstruksi, Humpuss memiliki anak perusahaan PT Humpuss Land, bisnis transportasi digarap PT Humpuss Intermoda Transportasi, untuk pengemboran minyak dan gas ada PT Humpuss Karbometil Selulosa, PT Humpuss Aromatik memproduksi minyak tanah dan solar, PT Humpuss Pengolahan Minyak menggarap kilang minyak, PT Humpuss Petragas bidang eksplorasi minyak dan deretan anak perusahaan lain. Tomy tidak sendiri. Sigit Harjojudanto, anak kedua Soeharto, juga turut memiliki saham di sana. Di PT Humpuss, Tommy memiliki saham senilai Rp374,9 miliar, Humpuss Trading senilai Rp1,5 miliar, Humpuss Aromatik Rp415,8 miliar, PT Humpuss Land Rp3,6 miliar dan PT Humpuss Patragas Rp1 miliar. Sedangkan Sigit memiliki saham di PT Humpuss sebesar Rp231 miliar. Baca juga: a.. Cinta dan Benci untuk Soeharto b.. Dosa dan Jasa Soeharto untuk Indonesia share infografik PT Lamtoro Gung Persada dan Humpuss Grup ini sampai kini masih aktif. Keduanya berkantor di Gedung Granadi, aset Yayasan Supersemar yang akan disita oleh pengadilan. Perusahaan lain yang identik dengan Cendana adalah PT Bimantara Citra. Perusahaan ini bergerak di bidang industri media. Pendirinya Bambang Trihatmodjo, juga anak Soeharto. Pada 1989, PT Bimantara Citra ini mendirikan RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Pada 2007 perusahaan ini diakuisisi MNC lalu mengubah nama menjadi PT Global Mediacom. Sejak perubahan itu, Bambang tidak lagi memiliki saham di sana. Ia sempat menjadi komisaris untuk beberapa waktu, akan tetapi pada tahun 2008 namanya menghilang dari jajaran Dewan Komisaris dari perusahaan yang kini dikuasai konglomerat media, Hary Tanoesoedibjo. Sementara putri bungsu Soeharto, Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto, mendirikan PT Manggala Kridha Yudha yang bergerak di bidang pertanian. Ia memiliki taman buah Mekar Sari seluas 3.000 hektare di Bogor dan juga beberapa perkebunan. Masuk Paradise Papers Fakta lain yang menarik dari bisnis keturunan Soeharto adalah masuknya nama Tommy dan Mamiek dalam Paradise Papers. Paradise Papers berisi daftar pengusaha yang diduga menyembunyikan kekayaan di negara bebas pajak. Dokumen dirilis pertama kali pada 2017 oleh koran Jerman Süddeutsche Zeitung. Berkas itu lalu disebarkan oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Dalam dokumen itu, dua anak Soeharto disebut menyimpan uang di luar negeri. Tommy tercatat sebagai direktur dan komisaris di Asia Market Investments Ltd. Perusahaan itu terdaftar pada 1997 lalu tutup pada 2000. Perusahaan itu merupakan hasil kongsi anak perusahaan Humpuss dengan NLD, sebuah perusahaan periklanan asal Australia. Baca juga: Di Luar Paradise Papers, Berapa Banyak Harta Keluarga Soeharto? Sementara Mamiek dalam berkas itu disebut menjadi Wakil Presiden Golden Spike Pasiriaman Ltd dan pemilik Golden Spike South Sumatera Ltd. Kedua perusahaan itu terdaftar di sana pada 1990 dan sudah tutup. Baca juga artikel terkait HARTA SOEHARTO atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna (tirto.id - krs/zen) Laporan 1: Modus Soeharto Mencatut Uang Publik Lewat Yayasan Laporan 2: Gurita Bisnis Keluarga Soeharto Laporan 3: Harta Soeharto: Lika-Liku Penyitaan Aset Yayasan Supersemar Laporan 4: "Kalau Kami Terus yang Bangun Masjid, Kami Dikira Memonopoli Amal"
