" Menciptakankemandirian , bukannya hanya lewat restruktur APBN dan Hutang tapi 
jugarevolusi mental dengan menghapus semua bisnis rente yang melahirkan 
mafiadisemua lini. Negeri para gangster diubahnya menjadi negeri para pekerja 
keras.Status quo didobraknya, menghentakan tatanan politik yang terbiasa hidup 
manjamenipu rakyat. Dan apa hasilnya ? Hanya dua tahun berkuasa semua 
ratinginternational berkaitan dengan index korupsi, pembangunan, ekonomi 
membaik.Indonesia termasuk negara peringkat tiga terbaik ekonominya diantara 
anggota G20." ini kata-kata JK.
Ada yang bisa menampilkan hasil dari "revolusi mental"nya Jokowi? Benarkah 
sudah hapus semua bisnis rente yang melahirkan mafia di semua lini? Di mana 
"kemandirian" pemerintah Indonesia sekarang??  Betul, Indonesia negeri para 
pekerja keras, kalau yang dimaksud dengan pekerja keras adalah kaum buruh dan 
tani serta kelas pekerja lainnya di tingkat paling bawah, tapi bukan 
pemerintahnya!!! Bla---bla---bla.... tong kosong nyaring bunyinya! 

    On Friday, January 26, 2018 5:57 AM, "Chalik Hamid [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

     
AGENDA

PERJUANGAN MORAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA JOKOWI....



Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)  dalam sambutan acara Simposium Ekonomi di 
gedung MPR, Senayan, mengatakan ada 2 kebijakan keliru yang dilakukan 
pemerintah sehingga menghabiskan anggaran Rp 6000 triliun. Kebijakan itu 
menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Indonesia dari negara-negara 
tetangga. Satu kebijakan era Soeharto dan satu lagi era SBY.*** 32 tahun 
Soeharto berkuasa, tidak ada riak yang berarti untuk menghentikannya dan 
barulah Soeharto jatuh ketika fundamental ekonomi yang di simpan rapat bertahun 
tahun terbuka lebar oleh aksi George Sorros. Nyatanya berpuluh tahun kita 
menyimpan data busuk dan kebohongan. Tidak ada sesungguhnya kekuatan ekonomi. 
Tidak ada. Soeharto tidak punya rencana hebat kecuali menggali lubang sedalam 
dalamnya lewat hutang tanpa recana real untuk merubah indonesia menjadi lebih 
baik. Jumlah hutang yang digalinya hanya 30% yang digunakan untuk membangun. 
Selebihnya habis dikorup oleh mereka yang menopangnya menjadi penguasa selama 
32 tahun. Akibat kebijakan yang diambilnya sebelum jatuh adalah menanda tangani 
LOI dengan IMF sebagai blank Cheque yang  harus diselesaikan oleh rezim 
setelahnya. Beban masalah yang di tinggalkan Soeharto kalau di kurs sekarang 
dan ditambah dengan bungan obligasi rekap mencapai mencapai Rp, 3000 triliun. 
Era Habibie, Gus Dur, Megawati adalah era tersulit bagi kita untuk berdamai  
dengan kenyataan. Indonesia dinyakan negara insolvent dan semua financial 
resource tertutup. Pemasukan lebih kecil daripada pengeluaran. Kehidupan 
politik tidak jelas. Enam tahun proses transisi dari legislasi Era Soeharto ke 
era Reformasi seakan waktu terpanjang dalam sejarah. Selama itu tidak ada 
pembangunan real. Negara stuck. Namun akhirnya indonesia bisa keluar dari 
proses transisi itu dengan terpilihnya SBY sebagai Preseden secara demokrasi 
langsung. Harapan di pagut dan masa depan disongsong dengan ceria.  Tapi apa 
yang terjadi ? selama 10 tahun SBY berkuasa, untuk mempertahankan kekuasaanya 
dia membakar  uang sebesar Rp. 3000 triliun untuk subsidi. Pada periode 
2004-2014, subsidi energi rata-rata memiliki porsi sebesar 21% dari APBN dan 
mengalami porsi terbesar pada tahun 2008 yang mencapai 28%. Di dalam subsidi 
energi, alokasi subsidi BBM adalah yang terbesar dengan mencaplok 80% dari 
seluruh subsidi energi. Dan menciptakan mega skandal dengan korupsi tak 
terbilang. Andaikan uang sebanyak itu dia gunakan untuk membangun jalan toll 
maka kita sudah punya jalan toll trans sumatera dan trans jawa, juga kereta 
cepat Jakarta Surabaya dan puluhan kawasan industri beskala international, 
puluhan bendung dan irigasi untuk ketahanan pangan, bahkan setiap kota besar 
sudah punya MRT. SBY hanya bekerja membuat rencana dan membuang uang begitu 
saja untuk ongkos politik agar kekuasaanya stabil selama dua periode. Era 
Soeharto kita abai karena salah memilih pemimpin dan takdir kita berhasil 
mengubah tatanan politik yang diktator menjadi demokrasi tapi setelah demokrasi 
kita justru melahirkan gerombolan maling yang menjarah lebih dahysat dari 32 
tahun Soeharto berkuasa. Selama itu tidak ada gerakan agama yang hebat hendak 
menggulingkan Soeharto atau SBY. Tidak ada demo berjilid jilid hendak 
menjatuhkannya. Mengapa ? karena baik partron agama maupun politik mendapat 
berkah uang dan konsesi bisni dari politik lendir tebar uang oleh penguasa.  Di 
era Jokowi, seorang yang bukan elite politik di tubuh partai, bukan jenderal 
yang berkaliber nasional, bukan konglomerat yang kaya dari bisnis rente, bukan 
pula tokoh budayawan atau agama yang selebritis. Dia muncul kepanggung politik 
karena kehendak Tuhan. Tak ada satupun kekuatan yang menghentikannya ketika 
situkang kayu yang krempeng itu masuk ke istana. ini takdir indonesia dan Tuhan 
berbuat sesukanya. Ketika dia berkuasa, subsidi yang memanjakan rakyat di 
hentikan.  Anggaran di reformasi secara fundamental dari berorientasi konsumsi 
ke produksi. Efisiensi anggaran dilakukan dengan keras.  Walau diawali dengan 
fundamental ekonomi yang retak karena Current Account yang defisit,Jokowi tetap 
melaju dengan agenda besarnya. Menciptakan kemandirian , bukannya hanya lewat 
restruktur APBN dan Hutang tapi juga revolusi mental dengan menghapus semua 
bisnis rente yang melahirkan mafia disemua lini. Negeri para gangster diubahnya 
menjadi negeri para pekerja keras. Status quo didobraknya, menghentakan tatanan 
politik yang terbiasa hidup manja menipu rakyat. Dan apa hasilnya ? Hanya dua 
tahun berkuasa semua rating international berkaitan dengan index korupsi, 
pembangunan, ekonomi membaik. Indonesia termasuk negara peringkat tiga terbaik 
ekonominya diantara anggota G20. Saya membayangkan setiap langkah Jokowi tidak 
lah mudah dan penuh resiko. Karena semua elite politik yang kini ada adalah 
bagian dari kekuasaan Orde baru yang pernah merampok indonesia meninggalkan 
beban kerugian sebesar Rp. 3000 triliun dan juga bagian dari kekuasaan era SBY 
yang membakar uang negara sebesar Rp. 3000 triliun demi melanggengkan 
kekuasanya. Semua mereka ingin agar situkang kayu ini dihentikan. Karena jokowi 
bukan hanya menghancurkan kekuasaan sebagai ladang bisnis mendatang harta tapi 
juga menjadikan rakyat cerdas berpolitik , dan mempermalukan elite politik 
dengan banyaknya elite politik terancam masuk bui karena aksi KPK. Pesta usai. 
Dulu Ahok dijadikan pintu gerbang menjatuhkan Jokowi dengan alasan menistakan 
agama. Dan dari keadaan ini Jokowi berhasil keluar dengan selamat. Dan kini 
PERPPU pembubaran Ormas Radikal dijadikan alasan untuk menjatuhkannya karena 
dibilang anti demokrasi dan anti Islam. Padahal tidak ada ada dalam PERPPU itu 
yang menyebut Islam atau ormas tertentu. Namun oleh para gangster mafia 
meng-create semua kegaduhan ini agar pesta kekuasaan kembali marak. Dan karena 
itu emosi agama kembali dibenturkan. Andaikan PERPPU itu ditolak DPR maka 
tahulah kita bahwa agenda menjatuhkan Jokowi memang datang dari segala penjuru 
mata angin. Apakah jokowi akan jatuh? Tuhanlah yang berhak menentukan siapa 
yang pantas berkuasa dan setiap orang yang berkuasa adalah cobaan bagi rakyat.  
Usia saya lebih dari 50 tahun. Saya generasi yang gagal karena tak bisa berbuat 
banyak menghentikan Soeharto dan penikmat subsidi BBM era SBY yang membakar 
uang ribuan triliun. Apa yang saya lakukan sekarang adalah berusaha setiap hari 
berbuat kebaikan agar negara ini lebih baik.  lewat tulisan, lewat interaski 
denga teman teman politisi dan aktifis , saya berusaha menyampaikan pesan moral 
bahwa bukan sistem yang jadi masalah tapi akhlak kita yang buruk, Mari perbaiki 
moral dan sudahilah niat mengubah sistem agar impian makmur jadi kenyataan. 
Perbaiki akhlak dan perbaiki etos kerja maka rahmat Tuhan akan datang by the 
time. Mari kita bersama sama menjadi kekuatan moral menghadang semua niat 
mereka yang ingin merusak negeri ini dengan alasan agama budaya atau apalah. 
Kita membela Jokowi bukan bertujuan politik tapi demi moral. Jadilah gerakan 
moral, mendukung orang baik agar berprestasi baik.
  #yiv7002115333 #yiv7002115333 -- #yiv7002115333ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-mkp #yiv7002115333hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-mkp #yiv7002115333ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-mkp .yiv7002115333ad 
{padding:0 0;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-mkp .yiv7002115333ad p 
{margin:0;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-mkp .yiv7002115333ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-sponsor 
#yiv7002115333ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-sponsor #yiv7002115333ygrp-lc #yiv7002115333hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-sponsor #yiv7002115333ygrp-lc .yiv7002115333ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7002115333 #yiv7002115333actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7002115333
 #yiv7002115333activity span {font-weight:700;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7002115333 #yiv7002115333activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7002115333 #yiv7002115333activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7002115333 #yiv7002115333activity span 
.yiv7002115333underline {text-decoration:underline;}#yiv7002115333 
.yiv7002115333attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7002115333 .yiv7002115333attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7002115333 .yiv7002115333attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7002115333 .yiv7002115333attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7002115333 .yiv7002115333attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7002115333 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7002115333 .yiv7002115333bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7002115333 
.yiv7002115333bold a {text-decoration:none;}#yiv7002115333 dd.yiv7002115333last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7002115333 dd.yiv7002115333last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7002115333 
dd.yiv7002115333last p span.yiv7002115333yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7002115333 div.yiv7002115333attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7002115333 div.yiv7002115333attach-table 
{width:400px;}#yiv7002115333 div.yiv7002115333file-title a, #yiv7002115333 
div.yiv7002115333file-title a:active, #yiv7002115333 
div.yiv7002115333file-title a:hover, #yiv7002115333 div.yiv7002115333file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7002115333 div.yiv7002115333photo-title a, 
#yiv7002115333 div.yiv7002115333photo-title a:active, #yiv7002115333 
div.yiv7002115333photo-title a:hover, #yiv7002115333 
div.yiv7002115333photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7002115333 
div#yiv7002115333ygrp-mlmsg #yiv7002115333ygrp-msg p a 
span.yiv7002115333yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7002115333 
.yiv7002115333green {color:#628c2a;}#yiv7002115333 .yiv7002115333MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7002115333 o {font-size:0;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333photos div {float:left;width:72px;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7002115333
 #yiv7002115333reco-category {font-size:77%;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333reco-desc {font-size:77%;}#yiv7002115333 .yiv7002115333replbq 
{margin:4px;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-mlmsg select, #yiv7002115333 input, #yiv7002115333 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-mlmsg pre, #yiv7002115333 code {font:115% 
monospace;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-mlmsg #yiv7002115333logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-msg 
p#yiv7002115333attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-reco #yiv7002115333reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-sponsor 
#yiv7002115333ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-sponsor #yiv7002115333ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-sponsor #yiv7002115333ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7002115333 #yiv7002115333ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7002115333 
#yiv7002115333ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7002115333 

   

Kirim email ke