Tentang revolusi moral: 

 satunya kata dan perbuatan 
https://www.merdeka.com/uang/jokowi-tegaskan-janjinya-tak-mau-utang.html
 

 Jokowi tegaskan janjinya tak mau utang ... 
https://www.merdeka.com/uang/jokowi-tegaskan-janjinya-tak-mau-utang.html
 

 Tentang rente ekonomi: 

 


 Karena revolusi moralnya begitu maka selain tetap berutang, pemerintahan 

 hasil UUD amandemen ini juga mengundang investor asing untuk menggarap 

 potensi ekonomi di berbagai lahan, baik perkebunan; kehutanan; industri 

 manufaktur; infrastruktur; pertambangan; bahkan perikanan laut. 

 Paling mengerikan adalah menyerahkan pelabuhan Kawasan Ekonomi Khusus 

 di 3 propinsi ke dalam rangkaian OBOR.
 


 Hebatnya, dari sekian banyak proses produksi yang direntekan, perhatian 

 Rakyat hanya difokuskan pada surplus yang dinikmati Freeport - di sana 

 pemerintah mempertontonkan perjuangannya menghiba divestasi saham 

 sehingga panen keplok dan sanjungan.


 

 Padahal, semua itu baru urusan rente ekonomi dalam tradisi klasik. 

 Sedangkan UUD amandemen membuat rente ekonomi pun ikut direformasi 

 ke dalam format "modern". 

 

 Di era ini kaum pemodal, investor, atau sekedar pengumpul massa, 

 tidak lagi menunggu undangan. Mereka langsung berebut untuk menguasai 

 ceruk-ceruk keuntungan. Siapa kuat dia menang. Dan ini terlihat secara 

 gamblang seiring berlakunya otonomi daerah. Bukan cuma penguasaan lahan 

 yang diburu tapi juga kedudukan, melalui 'seolah-olah' pemilihan umum. 

 

 Paling menggelikan dari semua ini yah ujungnya cuma perburuan materi 

 dengan menyalahgunakan kedudukan / kewenanganannya. Alias balik-bakul 

 ke watak kabir.

 

 Sampai di sini Rakyat cuma bisa tersenyum. Apanya yang reformasi?
 Apanya yang amandemen? Apanya yang modern kalau penyelenggaraan 

 negara masih berjalan di tempat dan cuma beda formasi orang-orangnya. 


 

 Selama urusan ekonomi tidak diupayakan untuk berdikari, pasti serba 

 kosonglah segala omongan soal tentang berdaulat & berkerpibadian.


 


 
 --- roeslan12@... wrote:

 
 

 TENTANG RENTE EKONOMI.

 

 Difinisi rente ekonomi dapat ditunjukkan dengan menggunakan fungsi produksi 
dalam sektor industri. Di Indonesia yang menganut sistem kapitalis neoliberal, 
proses produksi dalam sektor industri dianggap menunjukkan suatu proses 
produksi berdasarkan prinsip-prinsip neoklsik sesuai dengan tujuan akumulasi 
surplus. Dalam hal ini aktor yang akan melakukan akumulasi ialah pemilik faktor 
modal. Dalam konteks  seperti ini maka terdapat seperangkat kebijaksanaan yang 
pada hakekatnya bertujuan untuk meminimalkan pembayaran terhadap faktor buruh 
demi memaksimalkan nilai tambah.
 

 Inilah yang dialami oleh kaum buruh di Indonesia,karena rezim ´´Reformasi`` di 
 Indonesia telah menghancurkan (mengamandemen) UUD 45, dan memilih sistem 
kapitalis neoliberal, maka kesimpulannya adalah : aktor yang melakunan 
akumulasi rente ekonomi (bisnis rente) akan terus berkelanjutan. 
 
 
 TENTANG REVOLUSI MENTAL

 

 Revolusi mental Jokowi hanyalah suatu demagogi politik yang bermuatan 
janji-janji dalam kampanya untuk memenagkan pemilu 2014.  Hampir 20 tahun 
´Reformasi``  Indonesia tetap dalam keadaan Stagnasi  dan demokrasi yang ambrul 
adul. 

 


 
 Menurut pengamatan saya Revolusi Mental yang dicetuskan oleh Presiden Jokowi 3 
tahun berlalu , sampai sekarang ini belum menunjukkan adanya tanda-tanda yang 
positif yang mewarnai kebangkitan kesadaran bangsa Indonesia khususnya para 
elite politiknya. Ini tercermin dalam sikap politik  para elite bangsa 
Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai orang-orang reformis, yang mendominasi 
kekuasaan politik di NKRI era reformasi, terkesan kuat belum dapat memahami 
bahwa Indonesia di era reformasi ini masih terus menjadi negara jajahan model 
baru, sebagai kelanjutan dari sikap politik busuk rezim Orde Baru pimpinan 
jenderal TNI AD Suharto, yang secara langsung telah menjual kemerdekaan NKRI 
kepada imperialisme AS dan konco-kanconya .
 


 
 Kenyataan yang kita saksikan selama ini menunjukkan bahwa kesadaran politik 
sebagian bangsa Indonesia, terutama sekali kesadaran para elite politiknya yang 
mendominasi kekuasaan politik di NKRI, telah hacur luluh karena  dijejal konsum 
lewat budaya KKN, sehingga tega untuk membiarkan nasib kemerdekaan negara dan 
bangsanya di  injak-injak oleh kaum neoliberal yang sudah menggelobal sebagai 
penjajah baru di NKRI. Ini tercermin dalam  sikap para elite pokitik busuk yang 
berkerumun dalam MPR RI yang menghancurkan  (mengamandemen) UUD 45 naskah asli, 
menjadi UUD 1999-2004 (4 kali amandemen) menjadi UUD yang sepenuhnya mengabdi 
pada kepentingan kaum kapitalis Neoliberal yang sudah menggelobal dibawah 
pimpinan imperialisme A. S.
 


 
 Rupanya dampak teori cuci otak Orde Baru selama 32 tahun lamanya, telah 
menyebabkan banyak orang-orang „terpelajar“yang keblinger, khususnya para 
ekonom didikan A.S yaitu ekonom-ekonom  the Berkeley Mafia  telah keblinger, 
tidak tahu, karena mereka melihat gejala hanya dari satu segi saja. Saat 
Suharto berkuasa sudah ada trend dampak ekses-ekses Neoliberal itu, yaitu 
ketergantungan pada pihak asing, yang tercermin dalam bentuk pembiyayaan 
pembangunan, dimana modal asing dan utang luarnegeri sangat memainkan peranan. 
Juga tercermin dalam bentuk impor dan ekspor. Industri-industri substansi 
ekspor, tidak bisa jalan tanpa adanya dukungan kuat dari import. Yang 
melaksanakan ekspor banyak terdiri dari pihak asing. Arus masuk investasi asing 
dalam rangka relokasi industri untuk memanfaatkan buruh murah bangsa Inonesia. 
Adalah merupakan suatu ilusi, bahwa  ekspor yang terjadi dari Indonesia 
terutama ekspor nonmigas, telah dan akan meningkatkan nilai tambah yang 
substansional di Indonasia. Dalam konteks ini sungguh relevam apabila kita 
melontrakan pertanyaan Ekspor kita itu milik siapa?. Indonesia kembali memjadi 
tempat yang empuk bagi penghisalan surplus ekonomi oleh pihak asing. Data 
neraca diera Orde Barupun menunjukkan bahwa selama periode 1973-1990 nilai 
komulatif arus masuk investasi asing sebesar US$ 5775 juta , telah diiringi 
dengan nilai kumulatif keuntungan investasi asing yang di repatriasi keluar 
negeri sebesar US$ 58859 juta (data IMF balance of Payments Yearbook,berbagai 
tahun). Ini berarati bahwa setiap US$ 1 investasi asing yang masuk telah 
diikuti dengan biyaya US$ (58859:5775) = US$ 10,19. Financial resources yang 
keluar. Sebab utamanya mengapa ini terjadi, antara lain adalah tinngginya 
komponen sumber-sumber keuangan didalam negeri yang telah digunakan untuk 
membiyayai investasi asing. Inilah apa yang disebut penjajahan model baru di 
NKRI, diera kekuasaan rezim Oede baru Suharto, yang terus berkelanjutan sampai 
sekarang, karena didukung oleh UUD 45 yang telah dihancurkan oleh rezim-rezem 
`Reformasi``, yang dilakukan oleh MPR RI 1999-2004 Pimpinan Amin Rais.  Jadi 
sungguh relevan jika sekarang ini kita melontarlan ucapan bahwa NKRI adalah 
negara jajahan model baru. Dalam keadaan seperti inilah maka Revolusi mental 
yang fundamental atau mendasar harus segera dilaksankan!
 


 Revolusi mental secara mendasar harus diawali dengan merubah Paradigma, yaitu 
dari paradigma kapitalistik kearah Paradigma kerakayatan (sosialistik), dalam 
konteks ini, merubah paradigma kiranya tidak hanya sekedar bahwa kita harus 
memperluas daya penangkapan dan pola pikir kita, akan tetapi disamping itu kita 
harus berani membuat formulasi atau difinisi baru tentang "Nilai". Memang dalam 
masyarakat sosialistis  nilai-nilai itu tidak hanya membantu, tetapi juga 
memberikan implikasi dalam ekonomi dan politik.  Dan oleh karena itulah salah 
satu alasan mengapa perubahan tentang nilai  harus dilaksanakan. Titik terang 
untuk melakukan perubahan padadigma seperti itu diera kekuasaan rezim Jokowi-JK 
belumpernah nampak adanya.Rakyat hanya digiring kearah paradigma kapitalistik 
neoliberal, hanya diberi nilai sebagai  kaum buruh dan tani, yang hanya 
memiliki nilai guna saja.  Agar supaya kita  dapat menaikkan nilai-nilai 
kesejahteraan rakyat, maka kita harus berani menjalankan REVOLUSI MENTAL,yang 
dalam konteks ini adalah membangkitkan atau menghidupkan paradigma Demokrasi 
Ekonmi sepeti yang dimaksud dalam Pasal 33 UUD 45, yang adalah kebalikan dari 
dari paradigma kapitalistik. Hampir 20 tahun``Reformasi`` rakyat Indonesia 
terus di pompa dengan paradigma kapiktis neoliberal.
 

 Dalam Pasal 33 UUD 45 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan 
oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan angota-anggota 
masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah  yang diutamakan, bukan kemakmuran orang 
perorang. Sebab itu perekonomian disusun sdebagai usaha bersama berdasarkan 
atas usaha kekeluargaan. Bangunan perusahaan yang sesuai dengan itu ialah 
koperasi. Demikianlah antara lain yang dimaksud oleh pasal 33 UUD 45. Tapi 
sayang hasilnya masih Jauh Panggang dari Api.  Inlah tantangan yang digadapi 
oleh bangsa Indonesia, untuk terus bejuang demi  kembali ke UUD 45, naskah 
asli, dan Pancasila 1 Juni 1945.
 

 Jika kita sungguh-sungguh berkeinginan  secara iklas untuk menyaksikan proses 
berlangsungnya emansipasi rakyat Indonesia dalam keseluruhan aspek 
kehidupannya, maka Revolusi Mental yang fundamental atau mendasar harus segera 
dilaksanakan!!! Kemudian seiring dengan itu harus dilaksanakan proses kembali 
ke UUD 45 , khususnya Pasal 33 UUD 45, dan Pancasila 1 Juni 1945, sebagai 
sarana untuk menbangitkan bangsa Indonesia. Karena; Kebangkitan bangsa 
Indonesia adalah merupakan fungsi dari sistem sosial bangsa Indonesia secara 
keseluruhan.

 

 Roeslan

 

 Von: Tatiana Lukman
 

 " Menciptakan kemandirian , bukannya hanya lewat restruktur APBN dan Hutang 
tapi juga revolusi mental dengan menghapus semua bisnis rente yang melahirkan 
mafia disemua lini. Negeri para gangster diubahnya menjadi negeri para pekerja 
keras. Status quo didobraknya, menghentakan tatanan politik yang terbiasa hidup 
manja menipu rakyat. Dan apa hasilnya ? Hanya dua tahun berkuasa semua rating 
international berkaitan dengan index korupsi, pembangunan, ekonomi membaik. 
Indonesia termasuk negara peringkat tiga terbaik ekonominya diantara anggota 
G20." ini kata-kata JK.
 

 Ada yang bisa menampilkan hasil dari "revolusi mental"nya Jokowi? Benarkah 
sudah hapus semua bisnis rente yang melahirkan mafia di semua lini? Di mana 
"kemandirian" pemerintah Indonesia sekarang??  Betul, Indonesia negeri para 
pekerja keras, kalau yang dimaksud dengan pekerja keras adalah kaum buruh dan 
tani serta kelas pekerja lainnya di tingkat paling bawah, tapi bukan 
pemerintahnya!!! Bla---bla---bla.... tong kosong nyaring bunyinya!
 

 On Friday, January 26, 2018 5:57 AM, chalik.hamid@... 
mailto:[email protected] wrote:


 AGENDA
 PERJUANGAN MORAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA JOKOWI....

  

 

 Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)  dalam sambutan acara Simposium Ekonomi di 
gedung MPR, Senayan, mengatakan ada 2 kebijakan keliru yang dilakukan 
pemerintah sehingga menghabiskan anggaran Rp 6000 triliun. Kebijakan itu 
menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Indonesia dari negara-negara 
tetangga. Satu kebijakan era Soeharto dan satu lagi era SBY.***
 

 32 tahun Soeharto berkuasa, tidak ada riak yang berarti untuk menghentikannya 
dan barulah Soeharto jatuh ketika fundamental ekonomi yang di simpan rapat 
bertahun tahun terbuka lebar oleh aksi George Sorros. Nyatanya berpuluh tahun 
kita menyimpan data busuk dan kebohongan. Tidak ada sesungguhnya kekuatan 
ekonomi. Tidak ada. Soeharto tidak punya rencana hebat kecuali menggali lubang 
sedalam dalamnya lewat hutang tanpa recana real untuk merubah indonesia menjadi 
lebih baik. Jumlah hutang yang digalinya hanya 30% yang digunakan untuk 
membangun. Selebihnya habis dikorup oleh mereka yang menopangnya menjadi 
penguasa selama 32 tahun. Akibat kebijakan yang diambilnya sebelum jatuh adalah 
menanda tangani LOI dengan IMF sebagai blank Cheque yang  harus diselesaikan 
oleh rezim setelahnya. Beban masalah yang di tinggalkan Soeharto kalau di kurs 
sekarang dan ditambah dengan bungan obligasi rekap mencapai mencapai Rp, 3000 
triliun.
 

 Era Habibie, Gus Dur, Megawati adalah era tersulit bagi kita untuk berdamai  
dengan kenyataan. Indonesia dinyakan negara insolvent dan semua financial 
resource tertutup. Pemasukan lebih kecil daripada pengeluaran. Kehidupan 
politik tidak jelas. Enam tahun proses transisi dari legislasi Era Soeharto ke 
era Reformasi seakan waktu terpanjang dalam sejarah. Selama itu tidak ada 
pembangunan real. Negara stuck. Namun akhirnya indonesia bisa keluar dari 
proses transisi itu dengan terpilihnya SBY sebagai Preseden secara demokrasi 
langsung. Harapan di pagut dan masa depan disongsong dengan ceria.
 

 Tapi apa yang terjadi ? selama 10 tahun SBY berkuasa, untuk mempertahankan 
kekuasaanya dia membakar  uang sebesar Rp. 3000 triliun untuk subsidi. Pada 
periode 2004-2014, subsidi energi rata-rata memiliki porsi sebesar 21% dari 
APBN dan mengalami porsi terbesar pada tahun 2008 yang mencapai 28%. Di dalam 
subsidi energi, alokasi subsidi BBM adalah yang terbesar dengan mencaplok 80% 
dari seluruh subsidi energi. Dan menciptakan mega skandal dengan korupsi tak 
terbilang. Andaikan uang sebanyak itu dia gunakan untuk membangun jalan toll 
maka kita sudah punya jalan toll trans sumatera dan trans jawa, juga kereta 
cepat Jakarta Surabaya dan puluhan kawasan industri beskala international, 
puluhan bendung dan irigasi untuk ketahanan pangan, bahkan setiap kota besar 
sudah punya MRT. SBY hanya bekerja membuat rencana dan membuang uang begitu 
saja untuk ongkos politik agar kekuasaanya stabil selama dua periode.
 

 Era Soeharto kita abai karena salah memilih pemimpin dan takdir kita berhasil 
mengubah tatanan politik yang diktator menjadi demokrasi tapi setelah demokrasi 
kita justru melahirkan gerombolan maling yang menjarah lebih dahysat dari 32 
tahun Soeharto berkuasa. Selama itu tidak ada gerakan agama yang hebat hendak 
menggulingkan Soeharto atau SBY. Tidak ada demo berjilid jilid hendak 
menjatuhkannya. Mengapa ? karena baik partron agama maupun politik mendapat 
berkah uang dan konsesi bisni dari politik lendir tebar uang oleh penguasa.
 

 Di era Jokowi, seorang yang bukan elite politik di tubuh partai, bukan 
jenderal yang berkaliber nasional, bukan konglomerat yang kaya dari bisnis 
rente, bukan pula tokoh budayawan atau agama yang selebritis. Dia muncul 
kepanggung politik karena kehendak Tuhan. Tak ada satupun kekuatan yang 
menghentikannya ketika situkang kayu yang krempeng itu masuk ke istana. ini 
takdir indonesia dan Tuhan berbuat sesukanya. Ketika dia berkuasa, subsidi yang 
memanjakan rakyat di hentikan.  Anggaran di reformasi secara fundamental dari 
berorientasi konsumsi ke produksi. Efisiensi anggaran dilakukan dengan keras.
 

 Walau diawali dengan fundamental ekonomi yang retak karena Current Account 
yang defisit,Jokowi tetap melaju dengan agenda besarnya. Menciptakan 
kemandirian , bukannya hanya lewat restruktur APBN dan Hutang tapi juga 
revolusi mental dengan menghapus semua bisnis rente yang melahirkan mafia 
disemua lini. Negeri para gangster diubahnya menjadi negeri para pekerja keras. 
Status quo didobraknya, menghentakan tatanan politik yang terbiasa hidup manja 
menipu rakyat. Dan apa hasilnya ? Hanya dua tahun berkuasa semua rating 
international berkaitan dengan index korupsi, pembangunan, ekonomi membaik. 
Indonesia termasuk negara peringkat tiga terbaik ekonominya diantara anggota 
G20.
 

 Saya membayangkan setiap langkah Jokowi tidak lah mudah dan penuh resiko.. 
Karena semua elite politik yang kini ada adalah bagian dari kekuasaan Orde baru 
yang pernah merampok indonesia meninggalkan beban kerugian sebesar Rp. 3000 
triliun dan juga bagian dari kekuasaan era SBY yang membakar uang negara 
sebesar Rp. 3000 triliun demi melanggengkan kekuasanya. Semua mereka ingin agar 
situkang kayu ini dihentikan. Karena jokowi bukan hanya menghancurkan kekuasaan 
sebagai ladang bisnis mendatang harta tapi juga menjadikan rakyat cerdas 
berpolitik , dan mempermalukan elite politik dengan banyaknya elite politik 
terancam masuk bui karena aksi KPK. Pesta usai.
 

 Dulu Ahok dijadikan pintu gerbang menjatuhkan Jokowi dengan alasan menistakan 
agama. Dan dari keadaan ini Jokowi berhasil keluar dengan selamat. Dan kini 
PERPPU pembubaran Ormas Radikal dijadikan alasan untuk menjatuhkannya karena 
dibilang anti demokrasi dan anti Islam. Padahal tidak ada ada dalam PERPPU itu 
yang menyebut Islam atau ormas tertentu. Namun oleh para gangster mafia 
meng-create semua kegaduhan ini agar pesta kekuasaan kembali marak. Dan karena 
itu emosi agama kembali dibenturkan. Andaikan PERPPU itu ditolak DPR maka 
tahulah kita bahwa agenda menjatuhkan Jokowi memang datang dari segala penjuru 
mata angin. Apakah jokowi akan jatuh? Tuhanlah yang berhak menentukan siapa 
yang pantas berkuasa dan setiap orang yang berkuasa adalah cobaan bagi rakyat.
 

 Usia saya lebih dari 50 tahun. Saya generasi yang gagal karena tak bisa 
berbuat banyak menghentikan Soeharto dan penikmat subsidi BBM era SBY yang 
membakar uang ribuan triliun. Apa yang saya lakukan sekarang adalah berusaha 
setiap hari berbuat kebaikan agar negara ini lebih baik.  lewat tulisan, lewat 
interaski denga teman teman politisi dan aktifis , saya berusaha menyampaikan 
pesan moral bahwa bukan sistem yang jadi masalah tapi akhlak kita yang buruk, 
Mari perbaiki moral dan sudahilah niat mengubah sistem agar impian makmur jadi 
kenyataan. Perbaiki akhlak dan perbaiki etos kerja maka rahmat Tuhan akan 
datang by the time. Mari kita bersama sama menjadi kekuatan moral menghadang 
semua niat mereka yang ingin merusak negeri ini dengan alasan agama budaya atau 
apalah. Kita membela Jokowi bukan bertujuan politik tapi demi moral. Jadilah 
gerakan moral, mendukung orang baik agar berprestasi baik.






























 

 

 












 
 
 






Kirim email ke