https://www.kompasiana.com/mirnabasthami/5a6b1985cbe5235714584322/daoed-joesoef-sang-pendidik-abadi
Cita-cita Pendidikan yang Terasa "Jauh
Panggang dari Api"
26 Januari 2018 19:05 Diperbarui: 27 Januari 2018 02:01 151 1 1
Cita-cita Pendidikan yang Terasa "Jauh Panggang dari Api"
<https://assets-a2.kompasiana.com/items/album/2018/01/26/mantan-menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-daoed-joesoef-20180124-113730-5a6b1a2616835f579402a6e2.jpg?t=o&v=760>
Foto: Tribunnews.com
Tulisan ini dibuat setelah saya pada hari kamis pagi membaca koran
Kompas di kolom Opini yang berjudul "Obituari: Daoed Joesoef Bernalar
hingga Akhir Hayat".
Jujur, ketika membaca tulisan opini ini, terasa sekali ada kesedihan di
hati atas kepulangan beliau keharibaan Allah SWT. Seorang tokoh pendidik
besar di Indonesia telah dipanggil oleh Sang Pencipta kehidupan.
Walaupun saya bukan generasi siswa ketika beliau waktu itu menjadi
Menteri Pendidikan negara ini, tapi saya bisa rasakan bahwa beliau
seorang tokoh yang benar-benar intelek dan tulus mengabdi sepenuh hati
untuk memajukan dan membangun sistem serta karakter pendidik anak-anak
generasi penerus bangsa ini. Seperti kita ketahui, rasanya memang sangat
sedikit sekali tokoh seperti beliau ini yang benar-benar berkontribusi
secara total dan profesional di Indonesia.
Bahkan sampai akhir hayatnya pun beliau tetap berkontribusi dengan
pemikiran-pemikirannya. Ini juga dikatakan oleh Wakil Presiden Yusuf
Kalla sewaktu melayat, bahwa beliau merupakan sosok pengabdi pendidikan
baik dalam posisi sebagai pejabat maupun pemikir dengan karya-karyanya
dibidang pendidikan dan kehidupan kebangsaan yang ditulisnya dengan
sangat bermutu serta menginspirasi. "Menginspirasi", sebuah kalimat yang
sangat indah dan sarat makna dirasakan dihati ini.
Menginspirasi--- juga dirasakan oleh para pegawainya ketika beliau
menjabat sebagai Menteri Pendidikan di tahun 1973-1983 yang mana beliau
memperkenalkan konsep tentang keharusan setiap orang bernalar. Artinya,
semua aktivitas yang dipikirkan baik dan buruknya. Keputusan yang dibuat
harus berdasarkan akal dan budi.
Ada sebab dan akibatnya. Konsep yang menjadikan seseorang mampu berpikir
secara mandiri yang mana berpikir secara mandiri ini sebagai sumber
kreativitas untuk dasar kemajuan bangsa. Begitulah konsep pendidikan
untuk para pendidik dan anak bangsa yang beliau buat masa itu.
Namun, rasanya keadaan sekarang sangat berbeda dengan apa yang
dicita-citakan beliau tentang iklim pendidikan di negri ini. Padahal,
menurut saya, konsep pendidikan karakter adalah pendidikan dasar yang
sangat penting untuk dijadikan tema besar pendidikan Indonesia. Karena
pendidikan karakter sangat penting untuk kemajuan generasi penerus
bangsa ini.
Mengapa sangat penting? Saya mencoba pahami, setelah membaca opini di
atas dan juga setelah membaca artikel yang ditulis oleh Bapak Rhenald
Kasali dengan judul "Orang Pintar Plagiat", kok rasanya sangat ada
hubungannya dengan apa yang semakin marak terjadi di negeri ini yaitu
plagiarisme entah yang dilakukan oleh para penulis, perorangan, bahkan
orang-orang pintar di Indonesia yang harusnya menjadi teladan serta
panutan masyarakat.
Adanya kemalasan dalam berpikir untuk sesuatu yang baru. Adanya
ketidakberanian untuk mengungkapkan ilmu pengetahuan yang baru. Adanya
ketertutupan pikiran bahwa nalar itu harus selalu dipekerjakan dan
digunakan, jika tidak, nalar itu akan mati. Yang akhirnya mati akal dan
matinya rasa malu.
Dan jika hal ini terus terjadi di negeri ini, masa depan apa yang akan
dialami oleh bangsa ini? Seperti yang dikatakan Rhenald Kasali masih
dalam artikel di atas, bahwa mencuri ide atau karya seseorang, bagi ilmu
pengetahuan merupakan masalah yang sangat serius karena bisa menghambat
kemajuan bangsa. Tidak terbiasa dengan pemikiran-pemikiran maju ke
depan. Sangat menghambat lahirnya ide dan kreativitas.
Berbeda dengan bangsa barat. Mereka terbiasa dengan mengeluarkan ide,
kreativitas, pemikiran-pemikiran maju dan berani membuat kemajuan baik
di bidang pendidikan, pengobatan ataupun teknologi yang sekarang kita
bisa nikmati karena ide-ide dan kreativitas dari pemikiran dan
keberanian mereka. Mereka berani mewujudkannya dengan akal.
Dengan berpikir. Mereka yang terbiasa dengan orisinalitas ide dan
kreativitas. Tidak mengherankan memang, seperti yang ditulis Rhenald
Kasali bahwa temuan-temuan terbaru selalu berasal dari
universitas-universitas terkenal dunia yang melahirkan riset-riset
unggulan dengan keorisinalitasan yang tinggi. Yang pasti kemudian
melahirkan pemikir-pemikir hebat. Dan juga buku-buku yang menginspirasi.
Jadi, apa yang bisa dilakukan?
Bahwa seseorang itu harus bernalar yang diperkenalkan oleh Daoed Joesoef
merangsang seseorang untuk membuka mata akan pentingnya "kepala yang
berisi". Akan tidak bagusnya "kepala kosong" dalam melakukan hal-hal
apapun dalam kehidupan ini terutama dalam bidang penulisan. Konsep ini
sama seperti yang dikenalkan oleh Bapak Hernowo Hasyim tentang "Mengikat
Makna" yaitu pentingnya banyak membaca dan memasukkan sesuatu kata dalam
buku yang kita baca ke dalam pikiran yang berguna untuk menumbuh
kembangkan pikiran.
Dan berguna untuk menghasilkan ide-ide baru dalam kepenulisan kelak,
berguna juga dalam membuat kreativitas dalam menulis. Sehingga menurut
Rhenald Kasali, dengan adanya hal-hal di atas maka seseorang itu bisa
menghasilkan karya yang orisinal karena dari pengetahuan, pengalaman,
observasi-interaksi. Sehingga bisa mengeluarkan karya-karya yang
menginspirasi manusia lainnya.
MB.