From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, January 27, 2018 3:17 AM
  



https://www.kompasiana.com/mirnabasthami/5a6b1985cbe5235714584322/daoed-joesoef-sang-pendidik-abadi


Cita-cita Pendidikan yang Terasa 
"Jauh Panggang dari Api" 
26 Januari 2018   19:05 Diperbarui: 27 Januari 2018   02:01 151 1 1 
 
Foto: Tribunnews.com 

Tulisan ini dibuat setelah saya pada hari kamis pagi membaca koran Kompas di 
kolom Opini yang berjudul "Obituari: Daoed Joesoef Bernalar hingga Akhir Hayat".

Jujur, ketika membaca tulisan opini ini, terasa sekali ada kesedihan di hati 
atas kepulangan beliau keharibaan Allah SWT. Seorang tokoh pendidik besar di 
Indonesia telah dipanggil oleh Sang Pencipta kehidupan. 

Walaupun saya bukan generasi siswa ketika beliau waktu itu menjadi Menteri 
Pendidikan negara ini, tapi saya bisa rasakan bahwa beliau seorang tokoh yang 
benar-benar intelek dan tulus mengabdi sepenuh hati untuk memajukan dan 
membangun sistem serta karakter pendidik anak-anak generasi penerus bangsa ini. 
Seperti kita ketahui, rasanya memang sangat sedikit sekali tokoh seperti beliau 
ini yang benar-benar berkontribusi secara total dan profesional di Indonesia. 

Bahkan sampai akhir hayatnya pun beliau tetap berkontribusi dengan 
pemikiran-pemikirannya. Ini juga dikatakan oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla 
sewaktu melayat, bahwa beliau merupakan sosok pengabdi pendidikan baik dalam 
posisi sebagai pejabat maupun pemikir dengan karya-karyanya dibidang pendidikan 
dan kehidupan kebangsaan yang ditulisnya dengan sangat bermutu serta 
menginspirasi. "Menginspirasi", sebuah kalimat yang sangat indah dan sarat 
makna dirasakan dihati ini.

Menginspirasi--- juga dirasakan oleh para pegawainya ketika beliau menjabat 
sebagai Menteri Pendidikan di tahun 1973-1983 yang mana beliau memperkenalkan 
konsep tentang keharusan setiap orang bernalar. Artinya, semua aktivitas yang 
dipikirkan baik dan buruknya. Keputusan yang dibuat harus berdasarkan akal dan 
budi. 

Ada sebab dan akibatnya. Konsep yang menjadikan seseorang mampu berpikir secara 
mandiri yang mana berpikir secara mandiri ini sebagai sumber kreativitas untuk 
dasar kemajuan bangsa. Begitulah konsep pendidikan  untuk para pendidik dan 
anak bangsa yang beliau buat masa itu.

Namun, rasanya keadaan sekarang sangat  berbeda dengan apa yang dicita-citakan 
beliau tentang iklim pendidikan di negri ini. Padahal, menurut saya, konsep 
pendidikan karakter adalah pendidikan dasar yang sangat penting untuk dijadikan 
tema besar pendidikan Indonesia. Karena pendidikan karakter sangat penting 
untuk kemajuan generasi penerus bangsa ini. 

Mengapa sangat penting? Saya mencoba pahami, setelah membaca opini di atas dan 
juga setelah membaca artikel yang ditulis oleh Bapak Rhenald Kasali dengan 
judul "Orang Pintar Plagiat", kok rasanya sangat ada hubungannya dengan apa 
yang semakin marak terjadi di negeri ini yaitu plagiarisme entah yang dilakukan 
oleh para penulis, perorangan, bahkan orang-orang pintar di Indonesia yang 
harusnya menjadi teladan serta panutan masyarakat.

Adanya kemalasan dalam berpikir untuk sesuatu yang baru. Adanya ketidakberanian 
untuk mengungkapkan ilmu pengetahuan yang baru. Adanya ketertutupan pikiran 
bahwa nalar itu harus selalu dipekerjakan dan digunakan, jika tidak, nalar itu 
akan mati. Yang akhirnya mati akal dan matinya rasa malu.

Dan jika hal ini terus terjadi di negeri ini, masa depan apa yang akan dialami 
oleh bangsa ini? Seperti yang dikatakan Rhenald Kasali masih dalam artikel di 
atas, bahwa mencuri ide atau karya seseorang, bagi ilmu pengetahuan merupakan 
masalah yang sangat serius karena bisa menghambat kemajuan bangsa.. Tidak 
terbiasa dengan pemikiran-pemikiran maju ke depan. Sangat menghambat lahirnya 
ide dan kreativitas.

Berbeda dengan bangsa barat. Mereka terbiasa dengan mengeluarkan ide, 
kreativitas, pemikiran-pemikiran maju dan berani membuat kemajuan baik di 
bidang pendidikan, pengobatan ataupun teknologi yang sekarang kita bisa nikmati 
karena ide-ide dan kreativitas dari pemikiran dan keberanian mereka. Mereka 
berani mewujudkannya dengan akal. 

Dengan berpikir. Mereka yang terbiasa dengan orisinalitas ide dan kreativitas. 
Tidak mengherankan memang, seperti yang ditulis Rhenald Kasali bahwa 
temuan-temuan terbaru selalu berasal dari universitas-universitas terkenal 
dunia yang melahirkan riset-riset unggulan dengan keorisinalitasan yang tinggi. 
Yang pasti kemudian melahirkan pemikir-pemikir hebat. Dan juga buku-buku yang 
menginspirasi.

Jadi, apa yang bisa dilakukan?

Bahwa seseorang itu harus bernalar yang diperkenalkan oleh Daoed Joesoef 
merangsang seseorang untuk membuka mata akan pentingnya "kepala yang berisi". 
Akan tidak bagusnya "kepala kosong" dalam melakukan hal-hal apapun dalam 
kehidupan ini terutama dalam bidang penulisan. Konsep ini sama seperti yang 
dikenalkan oleh Bapak Hernowo Hasyim tentang "Mengikat Makna" yaitu pentingnya 
banyak membaca dan memasukkan sesuatu kata dalam buku yang kita baca ke dalam 
pikiran yang berguna untuk menumbuh kembangkan pikiran. 

Dan berguna untuk menghasilkan ide-ide baru dalam kepenulisan kelak, berguna 
juga dalam membuat kreativitas dalam menulis. Sehingga menurut Rhenald Kasali, 
dengan adanya hal-hal di atas maka seseorang itu bisa menghasilkan karya yang 
orisinal karena dari pengetahuan, pengalaman, observasi-interaksi. Sehingga 
bisa mengeluarkan karya-karya yang menginspirasi manusia lainnya.

MB.








Kirim email ke