*Sekarang ceritanya begitu, mengapa sebelumnya tidak cerita demikian?* 2018-01-26 20:32 GMT+01:00 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]>:
> > > Kelihatannya beliau mengutarakan pengalaman pribadi, yang paling dekat > sebagai ketua Dewan Masjid Indonesia dgn membiarkan (atau bahkan > meng-encourage?) pemakaian masjid pada saat pilkada. Dalam hal ini beliau > memang sangat berpengalaman. > > Sudah punya berapa gelar Dr. HC pak Kalla? > > kutipan: > “ Agama <http://indeks.kompas.com/tag/agama>, atau ajaran tertentu dari > agama, telah disalahartikan dan disalahgunakan (*used and abused*). > Penyalahgunaan agama itu sering terkait dengan kepentingan politik, > ekonomi, dan kontestasi lain di antara kelompok masyarakat atau komunitas > berbeda,” ujar Kalla saat mendapat Doktor Honoris Causa dalam bidang > sosiologi agama dari Universitas Islam Alauddin Makassar, Kamis (25/1/2017). > > ---In [email protected], <j.gedearka@...> wrote : > > > http://nasional.kompas.com/read/2018/01/27/00522251/ > jusuf-kalla-penyalahgunaan-agama-sering- > > terkait-kepentingan-politik > Jusuf Kalla: Penyalahgunaan Agama Sering > Terkait Kepentingan Politik > Kompas.com - 27/01/2018, 00:52 WIB > Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ketika ditemui di kantor Wakil Presiden, > Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (6/12/2017). (KOMPAS.com/ > MOH NADLIR) > > *MAKASSAR, KOMPAS.com* - Wakil Presiden Jusuf Kalla > <http://indeks.kompas.com/tag/Jusuf-Kalla> menyinggung upaya meraih > kekuasaan dengan isu agama <http://indeks.kompas.com/tag/agama>. Menurut > dia, praktek penyalahgunaan agama sering kali terkait dengan kepentingan > politik ataupun ekonomi. > > “ Agama <http://indeks.kompas.com/tag/agama>, atau ajaran tertentu dari > agama, telah disalahartikan dan disalahgunakan (*used and abused*). > Penyalahgunaan agama itu sering terkait dengan kepentingan politik, > ekonomi, dan kontestasi lain di antara kelompok masyarakat atau komunitas > berbeda,” ujar Kalla saat mendapat Doktor Honoris Causa dalam bidang > sosiologi agama dari Universitas Islam Alauddin Makassar, Kamis (25/1/2017). > > Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Kajian Perdamaian: Perspektif > Agama, Ekonomi, dan Politik” Kalla mengatakan, pelaku kekerasan > <http://indeks.kompas.com/tag/kekerasan> atas nama agama bukanlah orang > atau kelompok yang dikenal sebagai pengamal agama yang taat dan bahkan > banyak di antara mereka tidak memahami agama dengan benar. > > *Baca juga : Soal Pribumi, Politik Identitas, dan Nurani Para Politisi > <http://nasional.kompas.com/read/2017/10/18/12573561/soal-pribumi-politik-identitas-dan-nurani-para-politisi>* > > Lebih lanjut, Kalla menuturkan ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang > seringkali menjadi penyebab utama konflik. Oleh karena itu, ia menambahkan, > pembangunan ekonomi yang berkeadilan dan berimbang sangat penting > dalam menciptakan perdamaian, kedamaian, dan harmoni. > > “Perdamaian, kedamaian, dan harmoni menghadapi tantangan serius jika masih > banyak warga atau kelompok masyarakat yang menganggur dan miskin sehingga > tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari,” ujar Wapres. > > Selain itu, lanjutnya, dinamika politik juga berpotensi memicu konflik, > terlebih jika tidak ada pembagian kekuasaan yang adil (*fair sharing*). > > “Jika proses politik yang ada menghasilkan ‘pemenang yang mengambil semua > kekuasaan’ (*winners take all*), bisa dipastikan konflik dan kekerasan > dapat muncul sewaktu-waktu, yang sering disebabkan pemicu (*trigger*) > yang sering remeh temeh,” ucap Kalla. > > *Baca juga : Ahok Effect dan Kajian LIPI soal Kampanye Politik Identitas > di Indonesia > <http://nasional.kompas.com/read/2017/05/04/11072991/.ahok.effect.dan.kajian.lipi.soal.kampanye.politik.identitas.di.indonesia>* > > Untuk itu, Wapres berpesan, pemenang dalam kontestasi politik harus > menganut sikap inklusi politik, dengan menyertakan pihak yang kalah dalam > kekuasaan. > > Selain itu, tambahnya, dalam proses politik untuk memenangkan pemilu dan > kekuasaan setiap elit dan partai politik seyogianya tidak menggunakan isu > atau tema yang berpotensi memecah belah rakyat, seperti isu SARA (suku, > agama, ras, dan antar-golongan). > > > > > > > >
