----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 28 Januari 2018 01.07.34 
GMT+1Judul: Fw: [GELORA45] PDIP soal Peta Politik Pilkada Versi Rizieq:,Rakyat 
yang Menilai
     

  From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] Sent: Sunday, January 28, 
2018 2:38 AM  


 

https://news.detik.com/berita/d-3836906/pdip-soal-peta-politik-pilkada-versi-rizieq-rakyat-yang-menilai?_ga=2.40421986.1529909186.1517077662-1811731629.1517077661

Minggu 28 Januari 2018, 00:06 WIB
PDIP soal Peta Politik Pilkada Versi Rizieq: 


Rakyat yang Menilai
Gibran Maulana Ibrahim - detikNews  Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: Jefris 
Santama/detikcom)  Jakarta - Persaudaraan Alumni 212, melalui Dewan Pembina 
Habib Rizieq Syihab, punya peta politik untuk Pilkada 2018. Bagaimana tanggapan 
PDIP?

"Yang penting Pemilu itu untuk rakyat. Yang memilih pemimpin itu rakyat, bukan 
tokoh sehingga hal-hal yang dianjurkan dengan cara kurang pas, biar rakyat yang 
menilai," kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto kepada wartawan di Tugu 
Proklamasi, Cikini, Jakpus, Sabtu (27/1/2018) malam.


|  Baca juga: Ini Peta Politik Pilkada 2018 Versi Habib Rizieq Syihab |


Hasto menjelaskan, biarlah rakyat yang menilai dan rakyat yang akan menentukan 
pemimpinnya. "Serahkan pada rakyat, apakah memilih berdasarkan kinerja atau ada 
pertimbangan lain," ucap Hasto.


|  Baca juga: Alumni 212 Sebut Partai Berbaju Merah Biang Kerok di Indonesia |


Persaudaraan Alumni 212 juga menyebut partai berbaju merah merupakan biang 
kerok di Indonesia. PDIP meresponsnya.

"Mari kita lihat bahwa wajah politik membangun peradaban. Jangan wajah politik 
membangun permusuhan. Setiap warga negara yang baik untuk hargai suara rakyat. 
Biarlah rakyat jadi hakim terbaik dan memilih berdasarkan track record karena 
bangsa ini dibangun susah payah pada 28 Oktober kita bangun komitmen bangsa," 
kata Hasto.

Peta politik itu dibacakan Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif dalam jumpa pers di 
Masjid Al-Ittihad, Tebet, Jaksel, Sabtu (27/1/2018). Tema dari peta politik itu 
lantaran koalisi 212 yang permanen secara nasional di semua daerah, sebagaimana 
harapan para ulama dan umat Islam, gagal dibentuk karena beberapa kendala.

Ada 7 pemetaan politik di 17 daerah yang menjalani Pilgub 2018 versi Rizieq 
yang dibacakan Slamet. Berikut ini lengkapnya:

1. Koalisi 212 utuh tanpa ditunggangi partai pendukung penista agama, seperti 
di Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara.

2. Koalisi 212 utuh tapi ditumpangi partai pendukung penista agama, seperti di 
Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah.

3. Koalisi 212 terbelah sehingga sebagian koalisi 212 tanpa partai pendukung 
penista agama dan koalisi 212 sebagian lagi ditumpangi oleh partai pendukung 
penista agama, seperti di Sumatera Selatan dan Maluku Utara. 

4. Koalisi 212 terpecah sehingga masing-masing koalisi dengan partai pendukung 
penista agama, seperti di Riau, Lampung, Jatim, NTB, Sulawesi Selatan, dan 
Maluku.

5. Koalisi 212 tidak berarti karena fokus di cagub-cawagub muslim melawan 
cagub-cawagub muslim, seperti di Kalimantan Barat.

6. Koalisi 212 tidak berarti karena semua calon nonmuslim sehingga fokus kepada 
'Akhoffudh Dhororain' (mudarat yang lebih ringan), seperti di Papua dan NTT.

7. Pilkada di tingkat kota dan kabupaten juga mengalami situasi seperti di 
atas, sehingga penyikapannya tidak akan mengikuti kaidah yang sama. 
(gbr/dkp) alumni presidium 212 alumni 212 pdip hasto kristiyanto 








 
    

Kirim email ke