----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>Kepada: "[email protected]"
<[email protected]>Terkirim: Senin, 29 Januari 2018 04.22.51 GMT+1Judul:
[GELORA45] Pelecehan seks di National Hospital Surabaya: "Saya juga
mengalaminya di Bandung, digerayangi perawat"
Pelecehan seks di National Hospital Surabaya: "Saya juga mengalaminya di
Bandung, digerayangi perawat"
Uly SiregarWartawan lepas
- 28 Januari 2018
- Bagikan artikel ini dengan Facebook
- Bagikan artikel ini dengan Twitter
- Bagikan artikel ini dengan Messenger
- Bagikan artikel ini dengan Email
- Kirim
Hak atas fotoBBC INDONESIA
Pelecehan seks sebagaimana dilakukan oleh seorang perawat terhadap pasien di
Rumah Sakit National Hospital, Surabaya dicemaskan merupakan gejala umum.
Keberanian korban kali ini mendorong seorang wartawan yang kini tinggal di
Amerika Serikat, untuk mengungkapkan pelecehan rutin yang dialaminya di sebuah
rumah sakit ternama di Bandung. Berikut penuturannya.
Peringatan: Artikel ini mengandung paparan pelecehan seksual
Kejadian ini telah lama berlalu, di awal tahun 1990an. Saat itu saya dirawat
inap di rumah sakit di kawasan Cihampelas, Bandung, karena sakit tifus. Seingat
saya, waktu itu kondisi badan saya sangat lemah dan demam tinggi. Perut rasanya
sakit tak terkira sepanjang hari.
Tengah malam, datang seorang perawat laki-laki untuk mengukur suhu badan saya
dan memberikan obat untuk diminum. Jangan tanya obat apa dan mengapa diberikan
tengah malam, saya tak paham dan tak kelewat peduli. Saya cuma ingin segera
sehat kembali. Lagipula, saya bukan pasien mengerti soal penyakit dan obat, dan
dulu belum ada Google. Seumpamanya diberi racun oleh dokter dan perawat pun
saya akan minum tanpa ragu.
Saya menaruh kepercayaan total pada mereka yang merawat saya di rumah sakit..
Tapi malam itu kepercayaan saya justru membuahkan pelecehan seksual: Perawat
laki-laki itu menyentuh saya. Dia pelan-pelan meraba bagian dada saya.
- Satu lagi pasien korban pelecehan seks perawat di rumah sakit memberi
pengakuan
- Menggesek dan lain-lain: cerita pelecehan seksual terhadap perempuan di KRL
- Apakah Anda cuma diam saat melihat pelecehan seksual di angkutan umum?
Bisa jadi saat itu saya berpikiran bahwa dia sedang mencoba membuat saya
nyaman. Lagipula bagaimana mungkin saya berprasangka buruk? Dia perawat saya.
Dia seharusnya mengurus saya, membantu saya agar cepat pulih. Lalu, saya juga
bukan perempuan yang punya banyak pengalaman dengan laki-laki dan belum banyak
mengerti soal persinggungan fisik lawan jenis.
Saya juga tak paham bagaimana dia memutuskan untuk menyentuh saya. Mungkinkah
dia menganggap saya jenis perempuan yang mau disentuh? Saya tak ingat ada
percakapan bernada seksual di antara kami yang dia tafsirkan lain dan mungkin
membuat dia jadi berani melakukan perbuatan itu.
Tapi yang pasti, sentuhan itu membuat saya shock. Seperti lumpuh, saya tak tahu
harus bagaimana meresponnya.
Hak atas fotoBBC INDONESIA
Namun ternyata bukan berarti semuanya berhenti. Sikap diam saya saat itu
sepertinya memberi dia semacam amunisi untuk mengulangi perbuatannya. Diam saya
dia jadikan semacam izin. Ini sangat menyakitkan.
Mulanya hanya sentuhan ringan di dada saya yang dibalut gaun rumah sakit,
lantas ia mengelus puting payudara saya. Mungkin saat itu saya juga terangsang
jadinya -namun saya begitu naif waktu itu. Tubuh saya merespon sentuhan seksual
secara alamiah. Dan sebagai perempuan yang tak berpengalaman, sentuhan seksual
seringan itu membuat tubuh saya tak terkontrol.
Saya tak bisa mengingat dengan pasti, apakah itu kenikmatan, kepedihan, atau
rasa malu. Tapi yang saya ingat dengan jelas, waktu itu saya tak mau dia
menyentuh saya. Memang tak ada kekerasan agresif atau tindakan yang menyakiti,
namun saya tak menginginkan sentuhan itu. Dia membuat saja jijik, tapi saya tak
mampu menghentikan dia, apalagi menjerit minta tolong.
Semua terjadi cukup cepat, dan dia segera pergi setelah itu.
- Perempuan yang mengumpulkan pakaian korban serangan seksual
- Mengapa mahasiswi ini berswafoto dengan semua pria yang melecehkannya di
jalan?
- Bagaimana memberantas pelecehan seksual di tempat kerja
Malam berikutnya dia kembali mengukur suhu badan saya, memberi saya obat. Dia
membangunkan saya, tersenyum dan mulai menyentuh tubuh saya. Dia menggerayangi
dada saya sementara saya hanya bisa terbaring di ranjang, tak bisa berbuat apa
pun untuk menghentikannya. Takut, bingung: dirangsang dengan paksa, juga merasa
dilecehkan secara seksual habis-habisan ketika kondisi sedang sakit dan lemas.
Saya tak bisa mengingat dengan pasti, berapa kali dia datang ke kamar saya
untuk melecehkan saya secara seksual. Tapi satu malam, dia mencoba berbuat
lebih jauh.
Kali ini, setelah menyentuh dada, tangannya menjalar turun ke area selangkangan.
Tiba-tiba seperti diberi kekuatan ekstra, dengan sisa-sisa tenaga saya
berteriak lemah: "Jangan!"
Dia terkejut dan menghentikan semuanya, lantas pergi. Sejak itu dia tak pernah
kembali. Atau mungkin kembali, tapi tak lagi menyentuh saya. Entahlah, saya
susah mengingatnya.
Hak atas fotoFACEBOOK / ULY SIREGARImage caption"Saya juga malu karena tak
menghentikan perbuatan perawat laki-laki itu sejak awal dia melakukan pelecehan
itu. Belum lagi saya juga khawatir akan dituduh menikmati pelecehan seksual
tersebut. ...".
Setelah sembuh dari sakit tifus, saya pun keluar dari rumah sakit. Tapi
pelecehan seksual yang saya alami, saya simpan sendiri. Tak pernah saya
ceritakan pada siapa pun; tidak kepada kakak perempuan yang sering menemani
saya di rumah sakit, tidak kepada teman-teman, tidak juga pada orang tua yang
tinggal jauh di luar kota, apalagi pada pihak rumah sakit atau polisi. Saya
hanya ingin melupakan kejadian buruk itu, mencoba meyakinkan diri saya bahwa
pelecehan seksual itu tak pernah terjadi.
Kejadian itu saya perlakukan sebagai semacam mimpi buruk yang menjadi bagian
dari sakit tifus yang saya alami. Setelah sehat, saya tak mau
mengungkit-ungkitnya kembali. Mungkin saya takut tak ada orang yang mempercayai
cerita saya.
Saya juga malu karena tak menghentikan perbuatan perawat laki-laki itu sejak
awal dia melakukan pelecehan itu. Belum lagi saya juga khawatir akan dituduh
menikmati pelecehan seksual tersebut. Jadilah saya putuskan untuk melupakannya,
dan kembali menjalani hidup seperti biasa.
Hak atas fotoINSTAGRAM
Namun setelah bertahun-tahun, tiba-tiba kenangan buruk itu datang tanpa
diundang. Tanpa sengaja pengakuan pelecehan seksual saya ungkapkan di grup
Whatsapp teman-teman wartawan. Pemicunya adalah video viral seorang pasien
perempuan yang sedang marah-marah pada perawat laki-laki di rumah sakit
(National Hospital, Surabaya).
Dia menuduh perawat itu melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Di video itu,
pasien perempuan mendeskripsikan pelecehan seksual yang menimpanya. Deskripsi
itu begitu mirip dengan yang saya alami, mengingatkan saya akan pelecehan
seksual yang saya derita. Tiba-tiba air mata saya menetes, dan secara refleks
saya merespon percakapan di grup WA itu dengan: Saya juga mengalaminya. It
happened to me too.
Saya tak mengerti kenapa, tapi pertama kali sejak bertahun-tahun, akhirnya saya
tak lagi diam. Di grup WA itu, saya deskripsikan pelecehan seksual yang terjadi
pada saya.
- Jaksa New York identifikasi karyawan Weinstein yang alami pelecehan seksual
- Lagi, aktris Hollywood ungkap pelecehan seksual yang dialaminya
- Ribuan orang klaim jadi korban pelecehan seks pastor Katolik di Australia
Salah seorang anggota grup, wartawan BBC Indonesia, mengirimkan pesan pribadi
meminta izin untuk melakukan wawancara tentang kejadian tersebut. Awalnya saya
enggan, tapi kemudian sadar, saya ternyata tak sendirian dan sangat penting
untuk meributkan soal pelecehan seksual. Lagipula, sebesar apa pun trauma yang
saya alami, saya sudah mengatasinya dengan sukses. Saya baik-baik saja, dan
hidup saya—sejauh yang saya pikirkan—nyaris tidak terpengaruh.
Yang menyedihkan, cerita saya ternyata terjadi juga pada banyak perempuan lain.
Tak hanya di rumah sakit, tapi di rumah sendiri, dilakukan oleh anggota
keluarga, paman, supir keluarga, tukang kebun, atau orang-orang terdekat.
Pelecehan seksual yang saya alami di rumah sakit itu bahkan bukan yang pertama
bagi saya. Ketika masih anak-anak (tak pasti umur berapa, tapi sekitar 4 atau 5
tahun), saya dilecehkan secara seksual oleh anggota keluarga. Dia menggunakan
saya untuk masturbasi. Seingat saya tak ada penetrasi. Entahlah, saya terlalu
kecil untuk memahami apa yang terjadi, dan sulit untuk mengingat dengan pasti.
Kejadian itu saya abaikan. Saya kubur dalam-dalam. Tak ada yang perlu tahu. Tak
akan ada yang percaya. Saya coba melupakannya dengan menyangkalnya.
Berhasil. Saya tak lagi ingat kejadian menyakitkan itu. Hingga suatu saat,
ketika melakukan aktivitas seksual pertama kalinya, kenangan buruk itu
tiba-tiba muncul.
Dan semakin dewasa saya semakin sadar: Oh, ternyata yang saya alami waktu masih
kecil dulu adalah pelecehan seksual.
Hak atas fotoRONNIE FAUZANImage captionRumah Sakit National Hospital di
Surabaya menjadi sorotan lantaran oknum perawatnya diduga melakukan pelecehan
seksual terhadap salah satu pasien.
Kadang saya masih marah pada kedua orang tua saya yang tidak tahu anak
perempuan bungsu mereka dilecehkan secara seksual, oleh anggota keluarga
sendiri. Kedua orang tua saya meninggal tanpa saya sempat bercerita: Ibu,
Bapak, saya dilecehkan secara seksual ketika masih anak-anak. Menyakitkan, dan
saya tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan tak ada seorang pun
yang menolong saya.
Setelah mengalami sendiri, saya menyimpulkan, perempuan usia 5 tahun atau 23
tahun bisa sama persis dalam mereaksi pelecehan seksual. Perempuan bisa merasa
tak berdaya, mendadak seperti lumpuh, bingung, dan tak mengerti harus bagaimana
bertindak.
Perempuan kemungkinan besar akan malu dan menyalahkan diri sendiri atas
kejadian buruk yang menimpanya meskipun pelecehan seksual sama sekali bukan
kesalahannya. Perempuan lantas akan mencoba sekuat mungkin melupakan karena
kejadian itu terlalu menyakitkan untuk diingat apalagi diungkapkan. Padahal
kenangan buruk itu akan selalu menghantui, dan sejatinya lebih menyakitkan
ketika muncul kembali. Tak hanya itu, ia juga meninggalkan luka yang sialnya
tak akan pernah hilang.
Hak atas fotoULY SIREGARImage captionSelama bertahun-tahun Uly memendam
pengalaman dilecehkan oleh perawat pria ketika menjadi pasien di rumah sakit di
Bandung.
Setelah melihat video viral tentang pasien yang dilecehkan di Surabaya itu,
saya tak bisa berhenti memikirkan, berapa banyak pasien di rumah sakit itu
mengalami kejadian serupa? Bagaimana bila ada anak perempuan di bawah umur
mengalami pelecehan seksual seperti saya? Bukankah itu kesalahan saya juga
karena saya waktu itu tak berani bicara, karena saya terlalu takut mengadu pada
pihak rumah sakit?
Seharusnya saya memaksakan diri bicara: Hei, ada predator seksual di rumah
sakit ini, cepat singkirkan sebelum dia menyakiti pasien perempuan lainnya.
Saya mengagumi perempuan-perempuan tegar yang berani membagi cerita tentang
pelecehan seksual yang mereka alami. Saya menyesal tidak melakukannya sedari
dulu. Karena membuka kisah pelecehan seksual sesungguhnya bisa mengubah
keadaan. Tak hanya membuat perempuan-perempuan yang mengalaminya merasa tidak
sendirian, tapi juga berpotensi menghentikan para laki-laki, atau setidaknya
membuat mereka berpikir ulang melecehkan perempuan secara seksual. Karena
mereka akan takut, kita perempuan tak lagi bisa dibungkam.