Pelecehan seks di National Hospital Surabaya: "Saya juga mengalaminya di 
Bandung, digerayangi perawat" http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42850554 Uly 
SiregarWartawan lepas
 28 Januari 2018

 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42850554#  Bagikan artikel ini dengan 
Twitter http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42850554#  Bagikan artikel ini 
dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42850554#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fmajalah-42850554
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42850554#share-tools




 
 Hak atas fotoBBC INDONESIA Pelecehan seks sebagaimana dilakukan oleh seorang 
perawat terhadap pasien di Rumah Sakit National Hospital, Surabaya dicemaskan 
merupakan gejala umum. Keberanian korban kali ini mendorong seorang wartawan 
yang kini tinggal di Amerika Serikat, untuk mengungkapkan pelecehan rutin yang 
dialaminya di sebuah rumah sakit ternama di Bandung. Berikut penuturannya.
 Peringatan: Artikel ini mengandung paparan pelecehan seksual
 Kejadian ini telah lama berlalu, di awal tahun 1990an. Saat itu saya dirawat 
inap di rumah sakit di kawasan Cihampelas, Bandung, karena sakit tifus. Seingat 
saya, waktu itu kondisi badan saya sangat lemah dan demam tinggi. Perut rasanya 
sakit tak terkira sepanjang hari.
 Tengah malam, datang seorang perawat laki-laki untuk mengukur suhu badan saya 
dan memberikan obat untuk diminum. Jangan tanya obat apa dan mengapa diberikan 
tengah malam, saya tak paham dan tak kelewat peduli. Saya cuma ingin segera 
sehat kembali. Lagipula, saya bukan pasien mengerti soal penyakit dan obat, dan 
dulu belum ada Google. Seumpamanya diberi racun oleh dokter dan perawat pun 
saya akan minum tanpa ragu.
 Saya menaruh kepercayaan total pada mereka yang merawat saya di rumah sakit. 
Tapi malam itu kepercayaan saya justru membuahkan pelecehan seksual: Perawat 
laki-laki itu menyentuh saya. Dia pelan-pelan meraba bagian dada saya.
 Satu lagi pasien korban pelecehan seks perawat di rumah sakit memberi 
pengakuan http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42813995 Menggesek dan 
lain-lain: cerita pelecehan seksual terhadap perempuan di KRL 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39626489 Apakah Anda cuma diam saat 
melihat pelecehan seksual di angkutan umum? 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42306081 Bisa jadi saat itu saya 
berpikiran bahwa dia sedang mencoba membuat saya nyaman. Lagipula bagaimana 
mungkin saya berprasangka buruk? Dia perawat saya. Dia seharusnya mengurus 
saya, membantu saya agar cepat pulih. Lalu, saya juga bukan perempuan yang 
punya banyak pengalaman dengan laki-laki dan belum banyak mengerti soal 
persinggungan fisik lawan jenis.
 Saya juga tak paham bagaimana dia memutuskan untuk menyentuh saya. Mungkinkah 
dia menganggap saya jenis perempuan yang mau disentuh? Saya tak ingat ada 
percakapan bernada seksual di antara kami yang dia tafsirkan lain dan mungkin 
membuat dia jadi berani melakukan perbuatan itu.
 Tapi yang pasti, sentuhan itu membuat saya shock. Seperti lumpuh, saya tak 
tahu harus bagaimana meresponnya.
Hak atas fotoBBC INDONESIA Namun ternyata bukan berarti semuanya berhenti. 
Sikap diam saya saat itu sepertinya memberi dia semacam amunisi untuk 
mengulangi perbuatannya. Diam saya dia jadikan semacam izin. Ini sangat 
menyakitkan.
 Mulanya hanya sentuhan ringan di dada saya yang dibalut gaun rumah sakit, 
lantas ia mengelus puting payudara saya. Mungkin saat itu saya juga terangsang 
jadinya -namun saya begitu naif waktu itu. Tubuh saya merespon sentuhan seksual 
secara alamiah. Dan sebagai perempuan yang tak berpengalaman, sentuhan seksual 
seringan itu membuat tubuh saya tak terkontrol.
 Saya tak bisa mengingat dengan pasti, apakah itu kenikmatan, kepedihan, atau 
rasa malu. Tapi yang saya ingat dengan jelas, waktu itu saya tak mau dia 
menyentuh saya. Memang tak ada kekerasan agresif atau tindakan yang menyakiti, 
namun saya tak menginginkan sentuhan itu. Dia membuat saja jijik, tapi saya tak 
mampu menghentikan dia, apalagi menjerit minta tolong.
 Semua terjadi cukup cepat, dan dia segera pergi setelah itu.
 Perempuan yang mengumpulkan pakaian korban serangan seksual 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42500099 Mengapa mahasiswi ini berswafoto 
dengan semua pria yang melecehkannya di jalan? 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-41521686 Bagaimana memberantas pelecehan 
seksual di tempat kerja http://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-41963105 Malam 
berikutnya dia kembali mengukur suhu badan saya, memberi saya obat. Dia 
membangunkan saya, tersenyum dan mulai menyentuh tubuh saya. Dia menggerayangi 
dada saya sementara saya hanya bisa terbaring di ranjang, tak bisa berbuat apa 
pun untuk menghentikannya. Takut, bingung: dirangsang dengan paksa, juga merasa 
dilecehkan secara seksual habis-habisan ketika kondisi sedang sakit dan lemas.
 Saya tak bisa mengingat dengan pasti, berapa kali dia datang ke kamar saya 
untuk melecehkan saya secara seksual. Tapi satu malam, dia mencoba berbuat 
lebih jauh.
 Kali ini, setelah menyentuh dada, tangannya menjalar turun ke area 
selangkangan.
 Tiba-tiba seperti diberi kekuatan ekstra, dengan sisa-sisa tenaga saya 
berteriak lemah: "Jangan!"
 Dia terkejut dan menghentikan semuanya, lantas pergi. Sejak itu dia tak pernah 
kembali. Atau mungkin kembali, tapi tak lagi menyentuh saya. Entahlah, saya 
susah mengingatnya.
Hak atas fotoFACEBOOK / ULY SIREGARImage caption"Saya juga malu karena tak 
menghentikan perbuatan perawat laki-laki itu sejak awal dia melakukan pelecehan 
itu. Belum lagi saya juga khawatir akan dituduh menikmati pelecehan seksual 
tersebut. ...". Setelah sembuh dari sakit tifus, saya pun keluar dari rumah 
sakit. Tapi pelecehan seksual yang saya alami, saya simpan sendiri. Tak pernah 
saya ceritakan pada siapa pun; tidak kepada kakak perempuan yang sering 
menemani saya di rumah sakit, tidak kepada teman-teman, tidak juga pada orang 
tua yang tinggal jauh di luar kota, apalagi pada pihak rumah sakit atau polisi. 
Saya hanya ingin melupakan kejadian buruk itu, mencoba meyakinkan diri saya 
bahwa pelecehan seksual itu tak pernah terjadi.
 Kejadian itu saya perlakukan sebagai semacam mimpi buruk yang menjadi bagian 
dari sakit tifus yang saya alami. Setelah sehat, saya tak mau 
mengungkit-ungkitnya kembali. Mungkin saya takut tak ada orang yang mempercayai 
cerita saya.
 Saya juga malu karena tak menghentikan perbuatan perawat laki-laki itu sejak 
awal dia melakukan pelecehan itu. Belum lagi saya juga khawatir akan dituduh 
menikmati pelecehan seksual tersebut. Jadilah saya putuskan untuk melupakannya, 
dan kembali menjalani hidup seperti biasa.
Hak atas fotoINSTAGRAM Namun setelah bertahun-tahun, tiba-tiba kenangan buruk 
itu datang tanpa diundang. Tanpa sengaja pengakuan pelecehan seksual saya 
ungkapkan di grup Whatsapp teman-teman wartawan. Pemicunya adalah video viral 
seorang pasien perempuan yang sedang marah-marah pada perawat laki-laki di 
rumah sakit (National Hospital, Surabaya).
 Dia menuduh perawat itu melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Di video itu, 
pasien perempuan mendeskripsikan pelecehan seksual yang menimpanya. Deskripsi 
itu begitu mirip dengan yang saya alami, mengingatkan saya akan pelecehan 
seksual yang saya derita. Tiba-tiba air mata saya menetes, dan secara refleks 
saya merespon percakapan di grup WA itu dengan: Saya juga mengalaminya. It 
happened to me too.
 Saya tak mengerti kenapa, tapi pertama kali sejak bertahun-tahun, akhirnya 
saya tak lagi diam. Di grup WA itu, saya deskripsikan pelecehan seksual yang 
terjadi pada saya.
 Jaksa New York identifikasi karyawan Weinstein yang alami pelecehan seksual 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41731688 Lagi, aktris Hollywood ungkap 
pelecehan seksual yang dialaminya http://www.bbc.com/indonesia/majalah-41959972 
Ribuan orang klaim jadi korban pelecehan seks pastor Katolik di Australia 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38877912 Salah seorang anggota grup, 
wartawan BBC Indonesia, mengirimkan pesan pribadi meminta izin untuk melakukan 
wawancara tentang kejadian tersebut. Awalnya saya enggan, tapi kemudian sadar, 
saya ternyata tak sendirian dan sangat penting untuk meributkan soal pelecehan 
seksual. Lagipula, sebesar apa pun trauma yang saya alami, saya sudah 
mengatasinya dengan sukses. Saya baik-baik saja, dan hidup saya—sejauh yang 
saya pikirkan—nyaris tidak terpengaruh.
 Yang menyedihkan, cerita saya ternyata terjadi juga pada banyak perempuan 
lain. Tak hanya di rumah sakit, tapi di rumah sendiri, dilakukan oleh anggota 
keluarga, paman, supir keluarga, tukang kebun, atau orang-orang terdekat.
 Pelecehan seksual yang saya alami di rumah sakit itu bahkan bukan yang pertama 
bagi saya. Ketika masih anak-anak (tak pasti umur berapa, tapi sekitar 4 atau 5 
tahun), saya dilecehkan secara seksual oleh anggota keluarga. Dia menggunakan 
saya untuk masturbasi. Seingat saya tak ada penetrasi. Entahlah, saya terlalu 
kecil untuk memahami apa yang terjadi, dan sulit untuk mengingat dengan pasti. 
Kejadian itu saya abaikan. Saya kubur dalam-dalam. Tak ada yang perlu tahu. Tak 
akan ada yang percaya. Saya coba melupakannya dengan menyangkalnya.
 Berhasil. Saya tak lagi ingat kejadian menyakitkan itu. Hingga suatu saat, 
ketika melakukan aktivitas seksual pertama kalinya, kenangan buruk itu 
tiba-tiba muncul.
 Dan semakin dewasa saya semakin sadar: Oh, ternyata yang saya alami waktu 
masih kecil dulu adalah pelecehan seksual.
Hak atas fotoRONNIE FAUZANImage captionRumah Sakit National Hospital di 
Surabaya menjadi sorotan lantaran oknum perawatnya diduga melakukan pelecehan 
seksual terhadap salah satu pasien. Kadang saya masih marah pada kedua orang 
tua saya yang tidak tahu anak perempuan bungsu mereka dilecehkan secara 
seksual, oleh anggota keluarga sendiri. Kedua orang tua saya meninggal tanpa 
saya sempat bercerita: Ibu, Bapak, saya dilecehkan secara seksual ketika masih 
anak-anak. Menyakitkan, dan saya tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa 
terjadi, dan tak ada seorang pun yang menolong saya.
 Setelah mengalami sendiri, saya menyimpulkan, perempuan usia 5 tahun atau 23 
tahun bisa sama persis dalam mereaksi pelecehan seksual. Perempuan bisa merasa 
tak berdaya, mendadak seperti lumpuh, bingung, dan tak mengerti harus bagaimana 
bertindak.
 Perempuan kemungkinan besar akan malu dan menyalahkan diri sendiri atas 
kejadian buruk yang menimpanya meskipun pelecehan seksual sama sekali bukan 
kesalahannya. Perempuan lantas akan mencoba sekuat mungkin melupakan karena 
kejadian itu terlalu menyakitkan untuk diingat apalagi diungkapkan. Padahal 
kenangan buruk itu akan selalu menghantui, dan sejatinya lebih menyakitkan 
ketika muncul kembali. Tak hanya itu, ia juga meninggalkan luka yang sialnya 
tak akan pernah hilang.
Hak atas fotoULY SIREGARImage captionSelama bertahun-tahun Uly memendam 
pengalaman dilecehkan oleh perawat pria ketika menjadi pasien di rumah sakit di 
Bandung. Setelah melihat video viral tentang pasien yang dilecehkan di Surabaya 
itu, saya tak bisa berhenti memikirkan, berapa banyak pasien di rumah sakit itu 
mengalami kejadian serupa? Bagaimana bila ada anak perempuan di bawah umur 
mengalami pelecehan seksual seperti saya? Bukankah itu kesalahan saya juga 
karena saya waktu itu tak berani bicara, karena saya terlalu takut mengadu pada 
pihak rumah sakit?
 Seharusnya saya memaksakan diri bicara: Hei, ada predator seksual di rumah 
sakit ini, cepat singkirkan sebelum dia menyakiti pasien perempuan lainnya.
 Saya mengagumi perempuan-perempuan tegar yang berani membagi cerita tentang 
pelecehan seksual yang mereka alami. Saya menyesal tidak melakukannya sedari 
dulu. Karena membuka kisah pelecehan seksual sesungguhnya bisa mengubah 
keadaan. Tak hanya membuat perempuan-perempuan yang mengalaminya merasa tidak 
sendirian, tapi juga berpotensi menghentikan para laki-laki, atau setidaknya 
membuat mereka berpikir ulang melecehkan perempuan secara seksual. Karena 
mereka akan takut, kita perempuan tak lagi bisa dibungkam.

 

Kirim email ke