PENUNTASAN KASUS PELANGGARAN HAM 1965 JANGAN TERHENTI (I)Md Kartaprawira·3 Januari 2018"Perang Dingin dan Kejahatan Kemanusiaan 1965“Oleh: MD Kartaprawirahttp://www.md-kartaprawira.nl/43555...Kebanyakan kegiatan pengungkapan tragedi nasional 1965 dilakukan oleh para sejarawan, etnoloog, jurnalis dan pakar bidang lainnya. Dalam tulisan serial ini akan diuraikan secara populer beberapa aspek hukum kasus 1965 untuk melengkapinya. Sesungguhnya keterlibatan AS dalam persitiwa G30S/genosida 1965-1966 bukanlah peristiwa yang mengejutkan apabila kita tengok ke belakang sejarah Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur/Sosialis setelah berakhirnya Perang Dunia II. Blok Barat yang anti komunis jelas punya strategi global untuk menghancurkan kekuatan komunis di MANA SAJA (termasuk di Indonesia) dengan segala jalan dan cara: menghamburkan bom napalm, melancarkan propaganda HAM, membantu pemberontak dan aksi teror dan lain-lainnya. Untuk menghancurkan komunisme di Indocina/Vietnam pada tahun 1960-an, AS mengerahkan seperempat juta tentaranya dan dengan semena-mena menghambur-hamburkan bom napalm yang mengakibatkan korban ribuan rakyat Vietnam dan kerusakan hebat lingkungan. Itulah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan AS terhadap rakyat Vietnam dalam melancarkan agresinya terhadap Vietnam. Sedang dalam Perang Dingin terhadap Uni Soviet dan negara-negara sosialis Eropa lainnya AS dengan gigih melancarkan serangannya dengan menggunakan propaganda HAM dan intelejen. Untuk tujuan tersebut Radio Swoboda (Bebas/Merdeka), yang disponsori AS mengumandang di udara dalam berbagai bahasa meluncurkan „propaganda HAM“ selama 24 jam setiap hari. Situasinya lebih memanas ketika Prof. Sakharov (pemenang hadiah nobel, pakar bom nuklir) dan penulis terkenal Sholzonitsin seorang dissident pengarang buku „Arkhipelag gulag“(Kepulauan Kamp Tahanan Negara) ikut aktif berkiprah dalam gerakan HAM melawan Uni Soviet. Memang banyak praktek negatif sistem sosialisme di Uni Soviet yang sangat mudah dijadikan sasaran empuk serangan propaganda HAM. Usaha Gorbachev untuk menyelamatkan Uni Soviet dengan melaksanakan perestroika (reformasi) - meskipun memakai semboyan „Sosialisme Berwajah Kemanusiaan“- tetap tidak dapat menolong „penyakit“ parah yang diderita Uni Soviet kala itu. Ternyata Den Siauw Ping lebih cerdas dalam melakukan politik pembaharuan di Tiongkok.Akibatnya dalam pemilu untuk memilih presiden Federasi Rusia (Negara Bagian Uni Soviet yang terbesar) Boris Yeltsin tampil sebagai pemenang. Padahal dia bukan anggota PKUS (Partai Komunis Uni Soviet), bukan orang komunis lagi. Artinya sebagian besar kaum proletar yang kehidupannya berada di kota-kota industri, tidak lagi mempercayai PKUS, komunisme dan birokrasinya yang selama puluhan tahun ditakuti luar biasa. Babak terakhir runtuhnya Uni Soviet adalah akibat perundingan Yeltsin bersama petinggi Negara Bagian Belorusia (Shuskevic) dan Negara Bagian Ukraina (Kucma) dalam pertemuan di daerah Belawezhky, Belarusia, di dekat perbatasan antara Belarusia dan Polandia pada tahun 1991 yang menghasilkan “pernyataan keluar dari Uni Soviet”. Kemudian aksi tersebut diikuti negara-negara bagian Uni Soviet lainnya (Kazakhstan, Uzbekistan, Gruzia/Georgia, Armenia dan lain-lainnya) menyatakan kedaulatan masing-masing. Dengan demikian habislah eksistensi Uni Soviet. Karena Uni Soviet sudah bubar, maka Gorbacev pun kehilangan jabatan presiden.Jadi jelas bukan Gorbacev yang membubarkan Uni Soviet, tapi karena semua subyek Uni Soviet (negara-negara bagian) menyatakan keluar dari Uni Soviet. Keadaan Rusia (Federasi Rusia) selama di bawah presiden Yeltsin malah makin menjadi buruk dan terpuruk akibat kesalahan politik Privatisasi badan-badan usaha negara. Di pihak lain oligarkhi tumbuh makin kuat. Tapi keadaan tersebut akhirnya bisa di”selamat“kan oleh presiden Putin, sehingga Rusia (Federasi Rusia) berhasil mengambil kedudukan semula sebagai negara besar yang ditakuti AS dkk.Demikianlah hebatnya serangan propaganda HAM dari Blok Barat yang mempunyai andil besar dalam Perang Dingin untuk meruntuhkan negara sosialis pertama - Uni Soviet dan negara-negara sosialis Eropa lainnya. Dalam kaitannya dengan Indonesia umum mengetahui bahwa kelompok kanan Angkatan Darat pada waktu Perang Dingin (dan sekarang?) mempunyai posisi yang kuat dan selalu berusaha meminggirkan kelompok kiri/komunis dari bidang kehidupan politik. Maka sangatlah tidak aneh apabila Blok Barat memanfaatkan situasi internal AD tersebut untuk kepentingan strategi global Perang Dingin agar Indonesia tidak jatuh dalam pengaruh dan kekuasaan komunis. Tetapi situasinya di Indonesia bagi Blok Barat/AS lebih rumit. Sebab terpaksa menghadapi dua front: komunis dan Soekarno.Penghancuran PKI seakar-akarnya tidak hanya merupakan pelaksanaan strategi global Blok Barat dalam Perang Dingin, tetapi juga karena PKI merupakan pendukung kuat Pemerintahan Soekarno yang mempunyai pengaruh besar dalam gerakan pembebasan nasional di Asia-Afrika dan Gerakan Non Blok. Seperti kita ketahui perkembangan di Asia-Afrika pasca Konferensi Bandung 1955 Soekarno tampil menjadi tokoh penting Gerakan Pembebasan Nasional yang secara riil sangat merugikan kepentingan Blok Barat - kaum nekolim (neokolonialis-kolonialis-imperialis). Sehingga “kemarahan” AS terhadap Soekarno tak terbendung. AS tak segan-segan melakukan usaha-usaha untuk menghancurkan Soekarno, baik secara politik maupun phisik (ingat pemberontakan PRRI-Permesta, usaha-usaha pembunuhan terhadap Soekarno: peritiwa Cikini, Idul Adha, dan lain-lainnya). Tentu salah besar apabila terhadap Indonesia AS melakukan politik dalam Perang Dingin seperti yang diterapkan terhadap Vietnam. Kedudukan Indonesia/Soekarno di dunia internasional sangat diperhitungkan. Maka serangan AS terhadap Indonesia dilakukan tidak secara terbuka, tapi diam-diam melalui “kawan2 internal Indonesia”. Propaganda HAM dikemas dalam wujud “Anti dictator Soekarno” (yang melanggar hak mengeluarkan pendapat, hak berkumpul/berorganisasi d.l.l.). Apalagi ketika PSI dan Masyumi dibubarkan, karena tersangkut dalam pemberontakan PRRI-Permesta yang dibantu AS dan juga ketika tokoh-tokoh kedua partai tersebut ditahan. (Untung hanya ditahan, yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan. Kalau diajukan ke pengadilan mereka kemungkinan besar mendapat hukuman mati atau seumur hidup). Penyebaran “bom HAM”- anti Soekarno dilancarkan dengan menggunakan Ormas anti komunis (KAPI, KAMI, KASI-A.Buyung Nasution dkk., dan media-cetak Indonsia Raya, Pedoman, Abadi dll. Dalam suasana Perang Dingin tentu tidak sulit mengetahui siapa kawan dan siapa lawan, siapa kiri dan siapa kanan, siapa pendukung Soekarno dan siapa penentang Soekarno. Kedua belah kekuatan berposisi saling mengawasi dan saling berjaga-jaga. Maka siapa yang salah langkah akan menelan pil-pahitnya. Meletusnya peristiwa G30S, ternyata merupakan peristiwa yang sudah ditunggu-tunggu oleh salah satu pihak di „jalan tol“ strategi politik besar dalam Perang Dingin: „dari pembasmian komunis/PKI seakar-akarnya menuju tujuan akhir penggulingan kekuasaan Soekarno“. Dalam perjalanan menuju tujuan akhir tersebut terjadilah tragedi dahsyat Pelanggaran HAM berat 1965/Genosida politik, yang jumlah korbannya lebih dahsyat dari pada korban bom napalm AS terhadap rakyat Vietnam. Fakta-fakta konkrit kegiatan AS dkk-internal di sepanjang jalan tol tersebut tentu tidak akan dideklasifikasikan oleh AS. Para peneliti tentunya masih ada kesempatan menggunakan „suryo kontho“nya untuk menemukan siapa dalang G30S, tanpa menunggu deklasifikasi dokument rahasia AS. KESIMPULAN/CATATAN: Ternyata HAM adalah ibarat PISAU, yang bisa DIGUNAKAN UNTUK APA SAJA sesuai TUJUAN PENGGUNANYA. Penuntasan kasus pelanggaran HAM 1965 jangan terhenti!Den Haag, 01 Januari 2018
| | | | Log in or sign up to view See posts, photos and more on Facebook. | | |
