Pidato Kapolri Tito Karnavian Soal Ormas Diprotes Wasekjen MUIReporter:  Zara 
AmeliaEditor:  Kodrat SetiawanSelasa, 30 Januari 2018 19:56 WIB 
Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian usai menghadiri Rapat Pimpinan 
Polri 2018 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Melawai, Jakarta Selatan, 24 
Januari 2018. Tempo/Zaraamelia

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian berencana 
mengumpulkan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam. Tito ingin 
meluruskan masalah akibat pidatonya soal organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) 
dan Muhammadiyah yang layak didukung karena berjasa pada Indonesia serta 
pro-Pancasila.

“Nanti akan ada pertemuan dengan organisasi-organisasi Islam. Kami akan 
silaturahmi,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal 
Setyo Wasisto di Lapangan Tembak Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Januari 
2018.

Baca juga: Kapolri Tito Karnavian Pimpin Rapat Pimpinan Polri di PTIK

Dalam pertemuan itu, kata Setyo, rencananya Tito akan bersilaturahmi. Selain 
itu, mantan Kapolda Papua itu akan mengklarifikasi tentang pidatonya.

Video Tito yang berisi pidatonya sempat viral dan menuai protes. Wakil 
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain bahkan 
menulis surat terbuka melalui akun Facebook-nya terkait dengan pidato Tito 
tersebut.

"Melalui Surat Terbuka ini, saya, Tengku Zulkarnain, PROTES KERAS atas 
pernyataan Bapak Kapolri dan meminta Anda meminta maaf serta menarik isi pidato 
Anda, yang saya nilai tidak ETIS, merendahkan jasa para ulama dan pejuang Islam 
di luar Muhammadiyah dan NU. Mencederai rasa kebangsaan serta berpotensi 
memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia,” kata 
Zulkarnain dalam akun Facebook-nya.

Simak: Ormas Islam FPI, Sejak Didirikan Rizieq Syihab Hingga Aksi 212

Zulkarnain merasa kecewa dengan pernyataan Tito, yang seakan-akan tidak 
menganggap perjuangan ormas Islam lain.

“Saya sangat kecewa dan keberatan atas pidato Kapolri, yang saya nilai 
provokatif, tidak mendidik, buta sejarah, tidak berkeadilan, dan rawan memicu 
konflik,” ujar Zulkarnain melalui keterangan tertulis pada Selasa, 30 Januari 
2018.

Setyo mengatakan video pidato Tito tersebut sebenarnya sudah ditayangkan sejak 
dulu. Pidato itu disampaikan Tito di kantor Pengurus Besar NU pada 2016 lalu.

“Waktu itu, kalau tidak salah, ada nota kesepahaman dengan NU. Saya sendiri 
saat itu masih menjabat sebagai Kepala Divisi Hukum Polri,” ucapnya soal pidato 
Tito Karnavian.

Kirim email ke