KINERJA KITA MASIH KALAH DARI NEGARA TETANGGA
PRESIDEN JOKOWI MEMINTA PARA MENTERI TERUS MENYEDERHANAKAN PERATURAN TERKAIT 
INVESTASI DAN EKSPOR

01 Februari 2018 07:31 

 
istimewa /


Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampaknya kurang senang dengan kinerja investasi 
kita. Berbagai kebijakan untuk mepermudah investasi telah ditempuh dan 
pemerintah juga memperoleh banyak pujian internasional, ternyata realisasinya 
tidak menggembirakan. Pencapaian kita masih kalah dibandingkan sejumlah negara 
tetangga.

Presiden telah meminta para menteri untuk melanjutkan penyederhanaan aturan, 
terutama mengenai beberapa aspek yang dikeluhkan investor, baik domestik maupun 
asing. “Masih terlalu banyak persoalan-persoalan yang ada, sehingga membuat 
kita tidak fleksibel dalam hal yang berkaitan dengan investasi dan ekspor,” 
kata Sekretaris  Kabinet (Seskab) Pramono Anung setelah Rapat Terbatas yang 
dipimpin Presiden, Rabu.

Dalam rapat tersebut Presiden memberi waktu dua minggu kepada para menteri  
untuk menyederhanakan berbagai aturan berkaitan investasi dan ekspor.. “Kalau 
memang tidak diselesaikan, maka akan dibuatkan Peraturan Presiden untuk 
mengaturnya,” tandas Pramono.

Realisasi investasi kita sebenarnya meningkat 13,1% tahun lalu. Ekspor juga 
meningkat. Namun negara-negara di sekitar kita ternyata melaju lebih kencang. 
Realisasi investasi asing di Thailand dan Vietnam melaju 20%-30%, bahkan India 
bisa mengenjot dengan kenaikan sekitar 50%. Kenapa kita tidak mampu sebagus 
mereka?

Padahal dalam tiga tahun pemerintahannya, Jokowi telah mengeluarkan 16 paket 
deregulasi ekonomi yang menghasilkan berbagai pujian internasional. Lihat saja, 
peringkat kemudahan usaha di Indonesia naik, tingkat daya saing juga naik, 
bakan belakangan kita memperoleh peringkat investment grade. Kenapa kita masih 
kalah dari negara-negara tetangga?

Banyak pendapat mengenai hal tersebut, termasuk kritikan mengenai kurang 
bagusnya kepastian usaha dan perlindungan hukum di negeri ini. Namun Ketua BKPM 
Thomas Lembong mengatakan penyebabnya terkait masalah regulasi dan wilayah 
negara yang terlalu luas. Â Banyak aturan yang berubah-ubah, tidak stabil dan 
tumpang tindih. Masalah perpajakan juga dikeluhkan karena pengurusannya rumit. 
Kemudian soal ijin tenaga kerja, masalah lahan dan bangunan. Lembong juga 
menyebut peran BUMN yang terlalu dominan dan dikeluhkan investor.

Kita mengharapkan pemerintah mengkaji masalah-masalah tersebut secara mendalam 
dan komprehensif. Kita semestinya tidak terlalu berbangga diri atas apa yang 
sudah dilakukan, melainkan harus membandingkannya dengan negara-negara lain 
yang tidak berdiam diri.

Pendiri Indonesia Competitiveness dan Economic Development (ICED) Institute, 
Jimmy Gani, pernah mengatakan bahwa teknologi informasi dan komunikasi (TIK) 
akan menjadi kunci keberhasilan. Namun dibutuhkan strategi percepatan 
pembangunan berbasis TIK supaya dapat meningkatkan daya saing secara global. 
"Dewasa kini Indonesia menghadapi kemunduran, baik itu di bidang pendidikan, 
kualitas sumber daya manusia, teknologi, dan lainnya sehingga daya saing bangsa 
Indonesia baik di tingkat regional ASEAN, terlebih di tingkat dunia, masih 
kalah dengan negara lain," katanya beberapa waktu lalu.

Pemerintah harus bersedia mengkaji dan mengevaluasi persoalan secara lebih 
jujur dan menyeluruh. Mengapa setelah 16 paket kebijakan ekonomi dikeluarkan 
kinerja ekonomi kita tidak bisa melaju cepat? Mengapa dampaknya ke sektor riel 
belum optimal? Mengapa masih terjadi kelesuan  di sektor riel? Mengapa terjadi 
kelesuan daya beli masyarakat?

Kita mengharapkan pemerintah semakin peka terhadap berbagai problematik 
pembangunan yang terjadi. Misalnya mengenai dominasi BUMN atas proyek-proyek 
infrastruktur, seperti yang disebut Thomas Lembong. Kita ingin gerak 
pembangunan ekonomi ini melibatkan semua potensi nasional, yang harus didorong 
secara optimal. Bukan hanya pengusaha investor asing dan swasta besar, 
melainkan juga peran UMKM tidak boleh diabaikan. Kita ingin pembangunan 
berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraaan rakyat maka kebijakan 
yang ditempuh harus bisa menjangkau sampai lapisan terbawah.

 



Kirim email ke