Baksos Gereja Ditolak Ormas, MUI: Bukan karena Anti-KristianiReporter:  Zara 
AmeliaEditor:  Rina WidiastutiKamis, 1 Februari 2018 12:41 WIB 
Muhyidin Junaidi. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai pembatalan kegiatan 
bakti sosial Gereja Santo Paulus, Bantul, Yogyakarta oleh sejumlah ormas Islam 
tidak mengandung sentiment suku, ras, agama dan antargolongan (SARA).. Menurut 
Ketua Dewan Pengurus MUI Pusat, Muhyidin Djunaedi, penolakan kegiatan baksos 
Gereja Santo Paulus itu terjadi karena telah tercium adanya kristenisasi 
melalui iming-iming sembako.

“Saya yakin bahwa penolakan itu bukan serta merta karena anti-umat Kristen, 
tapi karena sudah ada bukti sebelumnya bahwa kelompok yang bersangkutan 
menyalahgunakan pembagian sembako tersebut untuk kepentingan agama,” kata 
Djunaedi ketika dihubungi Tempo pada Kamis, 1 Februari 2018. 



Baca: Ormas Larang Bakti Sosial Gereja Bantul, Polisi Diminta Tegas

Djunaedi memahami adanya penolakan acara baksos tersebut oleh ormas Islam. 
Sebab, kata Djunaedi, sejumlah ormas Islam itu telah mengantongi bukti rencana 
kristenisasi oleh Gereja Santo Paulus. Kegiatan bakti sosial itu, menurut 
Djunaedi, melanggar Peraturan Bersama Menteri (PBM) Agama dan Menteri Dalam 
Negeri terkait pemberian iming-iming untuk menghasut seseorang berpindah agama.

“Tidak mungkin (ormas Islam) menolak kalau memang tidak ada pelanggaran 
terhadap PBM itu,” ucap Djunaedi.

Sebelumnya, Gereja Santo Paulus berencana menggelar bakti sosial di rumah 
Kasmijo, Kepala Dusun Jaranan, Banguntapan, Bantul. Kegiatan itu merupakan 
rangkaian dari peringatan 32 tahun berdirinya gereja sekaligus peresmian paroki 
dari paroki administratif menjadi paroki mandiri.

Baca: Baksos Gereja Ditolak Ormas, Sri Sultan: Jangan Bawa Nama Gereja

Namun,pada Ahad pagi, 28 Januari 2018, sejumlah pemuda masjid dan organisasi 
kemasyarakat atau ormas yang mengatasnamakan Islam mendatangi bakti sosial 
ketika acara itu baru dimulai. Mereka menolak bakti sosial dengan alasan 
kristenisasi dan meminta panitia gereja memindahkan kegiatan itu di gereja. 
“Ada sekitar 50 orang dari ormas yang datang, di antaranya Front Jihad Islam. 
Demi menjaga suasana dan pertimbangan keamanan, kami membatalkan bakti sosial,” 
kata Ketua Panitia Acara, Agustinus Kelikasih.

Bakti sosial tersebut sedianya akan diisi dengan menjual 185 paket sembako 
murah. Paket itu di antaranya terdiri dari beras, teh dan gula. Ada juga acara 
bersepeda bersama warga kampung. Selain bakti sosial, panitia gereja pada hari 
yang berbeda telah menggelar tirakatan, syukuran paseduluran dengan mengundang 
kalangan muslim. Ada juga ziarah ke sejumlah tokoh.

Kirim email ke