https://www.antaranews.com/berita/682536/romahurmuziy-kalangan-santri-cocok-dampingi-jokowi
Romahurmuziy: Kalangan santri cocok dampingi Jokowi

Jumat, 2 Februari 2018 00:18 WIB



Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum DPP PPP M Romahurmuziy menilai kalangan
santri cocok menjadi calon wakil presiden untuk mendampingi Joko Widodo
dalam Pemilu 2019 untuk menghindari isu-isu suku, agama, ras, dan
antargolongan.

"Ini seperti yang terjadi dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah yang
suasananya adem saat kekuatan nasionalis berkoalisi dengan kekuatan
religius," kata Romahurmuziy dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis..

Hal itu dikatakannya saat mengisi kuliah umum Institut Agama Islam Negeri
Pekalongan, Kamis (1/2).

Dia menilai figur santri sebagai pendamping Jokowi di Pilpres 2019 diyakini
sebagai koalisi yang sempurna. Romi menganalogikannya, lalu lintas akan
macet bila lampu di perempatan tidak ada yang berwarna hijau.

"Abang-ijo dalam lampu pengatur lalu lintas, tidak akan jalan kalau tidak
ada lampu hijau. Sebaliknya apabila lampu isinya hijau semua, maka akan
tabrakan," ujarnya.

Dia mengatakan PPP memiliki sejarah koalisi "abang-ijo" atau
nasionalis-agamis dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan pada
2001-2004. Yaitu saat Ketua Umum PPP Hamzah Haz menjadi Wakil Presiden
mendampingi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Saat ini menurut dia, hal itu terus diusahakan, yaitu mencari putra dan
puteri terbaik bangsa dari kalangan santri, sehingga apakah dari dalam PPP
maupun dari luar partai untuk mendampingi Jokowi.

"Pendamping Pak Jokowi bisa siapapun dan tidak harus merupakan ketua umum
partai. Sebab, PPP berikhtiar agar dalam kontestasi pilpres mendatang,
tidak diwarnai ujaran bernuansa SARA," katanya.

Menurut Romy, kalangan santri diperlukan agar bangsa Indonesia tidak lagi
terbelah oleh isu SARA sehingga tidak perlu menjelek-jelekan apalagi
memfitnah pihak lain.

Dia menegaskan bahwa dukungan PPP terhadap Jokowi dalam Pilpres 2019 tidak
lepas dari saran para alim ulama, apalagi partai tersebut belum cukup kuat
untuk mengajukan calon presidennya sendiri.

"Ini adalah politik dan sifatnya harus seperti air, yang mengikuti wadah
dimana kita berada. Karena idealisme akan berujung pada realitas," katanya.

Dia menyadari PPP harus tunduk pada realitas dan berhitung dengan cermat
karena suara yang dimiliki tidak cukup untuk mengusung kadernya sendiri.

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kirim email ke