Silahkan menyimak analisa dari Amerika Latin, tentang "reformers" dan kapitalis 
komprador di Tiongkok oleh James Petra, supaya kita tidak selalu dalam 
tempurung. Untuk membantu teman-teman yang kurang berbahasa Inggris, saya 
sertakan terjemahan bebas yang banyak mengambil waktu. Makanya teksnya tidak 
bisa ditampilkan semuanya sekali gus. 
 Analysis

China’s wealthiest classes have secured their recent fortunes through 
variousmeans, both legal and illegal: These include (1) the privatization of 
publicenterprises; (2) the savage exploitation of cheap labor after 
destroyingworkers rights , protections and social welfare legislation; (3) 
large-scale,long-term corruption of government officials; (4) the often violent 
state-sponsoredland-grabs from towns, villages and farmers and the land 
transfer to privateinvestors; (5) real estate speculation; (6) changes in state 
regulatorypolicies leading to oligopolistic control of markets; (7) large-scale 
taxevasion, money laundering and offshore transfers of profits and (8) 
statepolicies dictating low wage and salaries and repressing workers 
collectiveaction.


Kelas orang paling kaya diTiongkok mendapatkan kekayaannya melalui berbagai 
cara, baik legal maupunilegal:  termasuk (1) privatisasiperusahaan publik; (2) 
eksploitasi brutal terhadap buruh murah setelahmenghancurkan  undang-undang 
yangberhubungan dengan hak-hak buruh, perlindungan dan  kesejahteraan sosial; 
(3) korupsi pejabatpemerintah berskala besar; (4) perampasan tanah di 
perkotaan, pedesaan , darikaum tani yang sering didukung oleh negara dan 
transfer tanah ke investorswasta; (5) spekulasi real estate; (6) perubahan 
kebijakan peraturan negarayang mengarah pada kontrol pasar oligopolistik; (7) 
penghindaran pajak berskalabesar, pencucian uang dan transfer keuntungan dari 
luar negeri dan (8)kebijakan negara yang menentukan gaji dan upah rendah dan 
pernindasan terhadapaksi kolektif buruh.


TheCommunist leadership’s pursuit of an ‘export-oriented’ growth model, based 
onreducing labor costs to secure competitive advantages in world 
markets,coincided with the emergence of aggressive Chinese capitalists intent 
onincreasing their profits and concentrating private wealth.

Diambilnyamodel pertumbuhan yang 'berorientasi ekspor' oleh pimpinan komunis, 
yangdidasarkan pada penurunan ongkos tenaga kerja untuk menjamin 
keunggulankompetitif di pasar dunia,  bertepatandengan munculnya keinginan  
kaumkapitalis  Tiongkok yang agresif  untuk meningkatkan keuntungan dan 
memusatkankekayaan pribadi mereka.

Thismodel of capitalist accumulation required ‘capital-friendly’ labor policies 
toattract large-scale, long-term investment from US, Japanese and 
Europeanmultinational in association with China’s wealthiest capitalists.

Modelakumulasi kapitalis ini memerlukan kebijakan perburuhan yang "ramahmodal" 
untuk menarik investasi jangka panjang berskala besar dariperusahaan 
multinasional AS, Jepang dan Eropa yang berasosiasi dengan kaumkapitalis 
terkaya Tiongkok.

China’scapitalist development was based on a triple alliance of national, 
foreign andstate capitalists, all of whom depended on the widespread, massive 
corruptionof state-party officials.

Perkembangankapitalis Tiongkok didasarkan pada tiga aliansi : aliansi dengan 
kapitalisnasional, dengan kapitalis asing dan dengan kaum kapitalis negara , 
yangsemuanya bergantung pada para pejabat negara-dan partai yang korup.


(bersambung)

Kirim email ke