Bank Summa sudah jelas perbankan gak perlu nyeleweng lagikalau begitu coba 
anda ceritakan bagaimana kaitannya dgn Riyadi
    On Monday, February 5, 2018, 8:18:11 PM PST, ajeg <[email protected]> 
wrote:  
 
 Apanya yang dipaksakan? Anda sendiri kok yang bilang Edward 
nyeleweng ke perbankan: "kok berani2nya putra Willem si Edward 
berkongsi sama Gus Dur bikin bank syariah."
Memang siapa raja bisnis finans di Indonesia?

--- jonathangoeij@... wrote:



Kejatuhan Willem dihubungkan dgn keluarga Riyadi kok sepertinya terlalu 
dipaksakan.Berbagai analisa ataupun bahkan rumor mengarah pada penggarongan 
oleh mbah-e negoro. 

--- ajegilelu@... wrote :

Isunya waktu itu kan trend 2K adalah bisnis finance, sehingga 
klan Soeryajaya konon mau ikut cari peruntungan di sana, 
tapi ya kalah segalanya dari geng Riyadi. Biasalah, perang bisnis 
kayak di film-film mafia. Begitu pula bisnis Ciputra yang kena babat 
Sinar Mas.

Memang, apa pun bisnisnya, dalam kapitalisme finanslah kuncinya. 
Dalam neolib, finans jadi peluang untuk dibisniskan. Makanya 
sekarang M.Riyadi bagaikan Godfather. Apalagi cukup lengket 
dengan RI-1, walaupun Jokowi sendiri belum tentu tau ke mana 
Indonesia mau dibawa.

--- jonathangoeij@... wrote:
 Antara Nurtanio dan IPTN itu kelihatannya tidak sama, keluarga alm. 
Nurtanio-pun tidak ingin nama beliau dicampur adukkan dengan IPTN..Tentang 
berbagai pesawat produksi IPTN itu saya baca (diberita dalam negeri sendiri) 
ber-ulang kali kecelakaan, sebentar2 baca koran pesawat ini jatuh pesawat itu 
jatuh. Tak tahulah.
Saya kok tidak pernah tahu Toyota Kijang merupakan Mobil Nasional, tidak pernah 
itu. Secara de facto semua orang mengakui dan merasa Kijang itulah yang 
sepantasnya disebut mobil nasional karena pada dasarnya hampir secara 
keseluruhan kompnon2nya dibuat didalam negeri, tetapi secara de jure (melalui 
berbagai legislasi) yang merupakan mobil nasional itu Timor walaupun mungkin yg 
produksi dalam negeri hanyalah label itu saja (itupun belum tentu juga).
Anda benar kepercayaan Soeharto pada Willem sudah habis karena itu sebaiknya 
diambil saja, kok berani2nya putra Willem si Edward berkongsi sama Gus Dur 
bikin bank syariah. Waktu itu Astra adalah perusahaan terbesar di Indonesia 
bahkan di Asia Tenggara dgn market value yang tinggi sekali sementara keluarga 
Willem menguasai sekira 3/4 saham Astra. Summa Bank milik Edward dapat proyek 
kakap deposito besar dana pensiun Pertamina, dengan sendirinya yg namanya bank 
dapat duit masuk/deposito ya harus dikeluarkan/dipinjamkan, eh ndi la la dana 
pensiun itu ditarik begitu saja tanpa ba bi bu sementara bersamaan dengan 
pemerintah memberlakukan tight money policy. Willem yang naive kemudian 
memberikan personal guaranty. Aset Summa Bank dibanding Astra sebenarnya sangat 
jauh sekali, sangat kecil, sehingga secara logis personal guaranty itu dapat 
dipenuhi dengan gampang, tetapi kemudian yang terjadi berbagai duit yang 
didepositokan itu ditarik semua sementara duit2 yg dipinjamkan keluar tidak 
bisa ditarik, saham Astra jadi anjlok (atau dibikin anjlok) dan jadilah saham2 
Willem itu diakuisisi keluarga Cendana dan kroni2nya dengan harga murah. Pesta 
besar.

--- ajegilelu@... wrote :

Itu memang jaman paling menggelikan dalam episode 
pembangunan Indonesia. Singkat cerita, bangsa maritim ini 
berjuang untuk maju berdaulat dengan memanfaatkan 
kemampuan anak bangsa di bidang aeronautika. PT Nurtanio 
(sekarang IPTN) bekerjasama dengan Casa-Spanyol membuat 
pesawat CN212 dan CN235 di Bandung (ini betul-betul kerjasama 
bukan bajakan bukan aspal, CN adalah singkatan Casa-Nurtanio). 

Semua berjalan lancar. Tidak ada masalah. Sampai ketika 
Nurtanio membangun pesawat rancangan sendiri, N250, yang 
diakui teknisi & pilot mancanegara sebagai terbaik di kelasnya, 
barulah USA ribut kalangkabut. Dengan segala macam alasan 
yang dibuat-buat, FAA menghasut seluruh dunia agar tidak membeli 
pesawat produk Indonesia tsb (termasuk CN212 dan CN235). 

Dari keterangan kaki-tangan imperialis (IMF, WB, ADB) bisa 
disimpulkan bahwa nekolim memang tidak mau Indonesia maju 
apalagi memperkecil utang. Alasan basa-basi yang resmi sih 
dikatakan bahwa sebagai 'negara berkembang' Indonesia terlalu cepat 
masuk ke industri berteknologi tinggi. Padahal nekolim punya mau, 
'negara dunia ketiga' harus melalui industri teknologi menengah dulu. 
Dalam hal ini ya main mobil-mobilan dulu alias industri otomotif.
Lihat tuh Malaysia, kata nekolim, bisa bikin Proton-Mitshubishi.
Dipukul mundur begitu oleh nekolim kok ya Soeharto nurut saja. 
Kawan-kawan di IPTN pun sampai garuk kepala. Lha industri 
pesawat ini kan digenjot lantaran program mobnasnya Astra dll 
tidak jalan. Lagipula ini kan artinya Indonesia disuruh bersaing dengan 
Malaysia dan negara-negara kecil. Giliran Soeharto yang pusing kepala, 
sebab kepercayaannya pada William cs sudah habis. Cilakanya 
dia malah ambil jalan yang tidak perlu yaitu, menyerahkan program 
mobnas jilid II ke anak-anaknya. 

Jelas ini ngawur sekalipun pendukung Cendana beralasan itu langkah 
terparah dari Soeharto akibat cara berpikirnya yang semakin tidak stabil 
setelah ditinggal sang istri. Memang serba salah, apalagi BJ Habibie 
saat itu tidak punya pilihan lain kecuali membekukan program N250.

(Message over 64 KB, truncated)

     

Kirim email ke