Kejatuhan Willem dihubungkan dgn keluarga Riyadi kok sepertinya terlalu dipaksakan. Berbagai analisa ataupun bahkan rumor mengarah pada penggarongan oleh mbah-e negoro.
---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Isunya waktu itu kan trend 2K adalah bisnis finance, sehingga klan Soeryajaya konon mau ikut cari peruntungan di sana, tapi ya kalah segalanya dari geng Riyadi. Biasalah, perang bisnis kayak di film-film mafia. Begitu pula bisnis Ciputra yang kena babat Sinar Mas. Memang, apa pun bisnisnya, dalam kapitalisme finanslah kuncinya. Dalam neolib, finans jadi peluang untuk dibisniskan. Makanya sekarang M.Riyadi bagaikan Godfather. Apalagi cukup lengket dengan RI-1, walaupun Jokowi sendiri belum tentu tau ke mana Indonesia mau dibawa. --- jonathangoeij@... wrote: Antara Nurtanio dan IPTN itu kelihatannya tidak sama, keluarga alm. Nurtanio-pun tidak ingin nama beliau dicampur adukkan dengan IPTN.. Tentang berbagai pesawat produksi IPTN itu saya baca (diberita dalam negeri sendiri) ber-ulang kali kecelakaan, sebentar2 baca koran pesawat ini jatuh pesawat itu jatuh. Tak tahulah. Saya kok tidak pernah tahu Toyota Kijang merupakan Mobil Nasional, tidak pernah itu. Secara de facto semua orang mengakui dan merasa Kijang itulah yang sepantasnya disebut mobil nasional karena pada dasarnya hampir secara keseluruhan kompnon2nya dibuat didalam negeri, tetapi secara de jure (melalui berbagai legislasi) yang merupakan mobil nasional itu Timor walaupun mungkin yg produksi dalam negeri hanyalah label itu saja (itupun belum tentu juga). Anda benar kepercayaan Soeharto pada Willem sudah habis karena itu sebaiknya diambil saja, kok berani2nya putra Willem si Edward berkongsi sama Gus Dur bikin bank syariah. Waktu itu Astra adalah perusahaan terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara dgn market value yang tinggi sekali sementara keluarga Willem menguasai sekira 3/4 saham Astra. Summa Bank milik Edward dapat proyek kakap deposito besar dana pensiun Pertamina, dengan sendirinya yg namanya bank dapat duit masuk/deposito ya harus dikeluarkan/dipinjamkan, eh ndi la la dana pensiun itu ditarik begitu saja tanpa ba bi bu sementara bersamaan dengan pemerintah memberlakukan tight money policy. Willem yang naive kemudian memberikan personal guaranty. Aset Summa Bank dibanding Astra sebenarnya sangat jauh sekali, sangat kecil, sehingga secara logis personal guaranty itu dapat dipenuhi dengan gampang, tetapi kemudian yang terjadi berbagai duit yang didepositokan itu ditarik semua sementara duit2 yg dipinjamkan keluar tidak bisa ditarik, saham Astra jadi anjlok (atau dibikin anjlok) dan jadilah saham2 Willem itu diakuisisi keluarga Cendana dan kroni2nya dengan harga murah. Pesta besar. --- ajegilelu@... wrote : Itu memang jaman paling menggelikan dalam episode pembangunan Indonesia. Singkat cerita, bangsa maritim ini berjuang untuk maju berdaulat dengan memanfaatkan kemampuan anak bangsa di bidang aeronautika. PT Nurtanio (sekarang IPTN) bekerjasama dengan Casa-Spanyol membuat pesawat CN212 dan CN235 di Bandung (ini betul-betul kerjasama bukan bajakan bukan aspal, CN adalah singkatan Casa-Nurtanio). Semua berjalan lancar. Tidak ada masalah. Sampai ketika Nurtanio membangun pesawat rancangan sendiri, N250, yang diakui teknisi & pilot mancanegara sebagai terbaik di kelasnya, barulah USA ribut kalangkabut. Dengan segala macam alasan yang dibuat-buat, FAA menghasut seluruh dunia agar tidak membeli pesawat produk Indonesia tsb (termasuk CN212 dan CN235). Dari keterangan kaki-tangan imperialis (IMF, WB, ADB) bisa disimpulkan bahwa nekolim memang tidak mau Indonesia maju apalagi memperkecil utang. Alasan basa-basi yang resmi sih dikatakan bahwa sebagai 'negara berkembang' Indonesia terlalu cepat masuk ke industri berteknologi tinggi. Padahal nekolim punya mau, 'negara dunia ketiga' harus melalui industri teknologi menengah dulu. Dalam hal ini ya main mobil-mobilan dulu alias industri otomotif. Lihat tuh Malaysia, kata nekolim, bisa bikin Proton-Mitshubishi. Dipukul mundur begitu oleh nekolim kok ya Soeharto nurut saja. Kawan-kawan di IPTN pun sampai garuk kepala. Lha industri pesawat ini kan digenjot lantaran program mobnasnya Astra dll tidak jalan. Lagipula ini kan artinya Indonesia disuruh bersaing dengan Malaysia dan negara-negara kecil. Giliran Soeharto yang pusing kepala, sebab kepercayaannya pada William cs sudah habis. Cilakanya dia malah ambil jalan yang tidak perlu yaitu, menyerahkan program mobnas jilid II ke anak-anaknya. Jelas ini ngawur sekalipun pendukung Cendana beralasan itu langkah terparah dari Soeharto akibat cara berpikirnya yang semakin tidak stabil setelah ditinggal sang istri. Memang serba salah, apalagi BJ Habibie saat itu tidak punya pilihan lain kecuali membekukan program N250. (Message over 64 KB, truncated)
