*Di NKRI banyak orang mendapat harta dengan cara akal bulus atau haram.
Jadi apakah tidak lebih baik harta itu didermakan kepada kaum
berkekurangan,, sebab kalau tiba akhir zaman seperti dikatakan dalam
artikel di bawah ini, maka harta itu hilang lenyap. Seandainya nafas habis
dan disuruh masuk surga pun harta yang dimiliki tidak dapat dibawa ke taman
Firdaus.*


https://www.hidayatullah.com/kolom/akhir-zaman/read/2018/02/06/134874/akhir-zaman-ditandai-kehancuran-institusi-ekonomi-kapitalis-ribawiyah.html
Akhir Zaman Ditandai Kehancuran Institusi Ekonomi Kapitalis Ribawiyah

Selasa, 6 Februari 2018 - 11:03 WIB

Dalam era globalisasi, sistem ekonomi ribawiyah di segenap negara-negara
dunia telah membentuk suatu jaringan yang saling bergantung secara sempurna.


*KONDISI* pada saat keluarnya Al-Mahdi adalah fase dimulainya kehancuran
ekonomi Barat yang bercorak kapitalis, di mana sistem ekonomi ribawiyah
merupakan salah satu pilar penting bagi tegaknya sistem ekonomi ini.

Dalam era globalisasi, sistem ekonomi ribawiyah di segenap negara-negara
dunia telah membentuk suatu jaringan yang saling bergantung secara
sempurna. Masyarakat dunia melakukan transaksi dengan bank-bank ribawiyah;
sistem perbankan ribawiyah di setiap negara melakukan transaksi dengan bank
sentral negara tersebut maupun dengan institusi-institusi ribawiyah di luar
negeri.

Bank sentral negara tersebut melakukan pinjam-meminjam dengan
institusi-institusi ribawiyah internasional, semacam Bank Dunia, Dana
Moneter Internasional, maupun pinjaman antar-negara secara ribawiyah.

Di antara bentuk saling ketergantungan yang sangat intensif terlihat dari
beroperasi bank-bank asing di suatu negara hingga ke sejumlah provinsi di
negara tersebut, baik berupa bank dengan seratus persen modal asing maupun
bank dalam bentuk usaha patungan dengan pengusaha lokal.

Di dalam keragaman bentuk saling ketergantungan ini terlihat dari bank-bank
suatu negara melakukan bisnis reksadana dengan portofolio berupa saham,
obligasi, dan berbagai mata dagangan lainnya dari negara-negara lainnya.
Misalnya, sebuah bank di Italia menjual surat berharga pemerintah
Argentina, sebuah bank di ibu kota provinsi di Indonesia menjual saham
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham New York, dan lain
sebagainya.

Tampak bahwa hal itu semakin menyempurnakan saling ketergantungan dalam
sistem ekonomi ribawiyah, sedang posisi Amerika dalam hal ini adalah
sebagai penggerak sistem perekonomian dunia. Praktis pertumbuhan
perekonomian dunia bergerak sesuai dengan kebijakan yang diambil Gubernur
Bank Sentral Amerika.

Maka, ketika gempa moneter raksasa benar-benar terjadi dan meruntuhkan
Amerika sebagai pilar penyangga jejaring sistem ekonomi
ribawiyah-spekulatif global, segenap bentuk kekayaan yang tersangkut pada
jejaring tersebut hingga ke pelosok bumi yang paling terpencil pun secara
teknis akan ikut hancur tersapu gelombang tsunami moneter dengan suatu
kehancuran yang sempurna! Hasil akhirnya adalah kemelaratan dan kehebohan
luar biasa yang menghampiri segenap negeri di dunia tanpa terkecuali.

Orang-orang yang paling beruntung ketika itu adalah mereka yang terbebas
dari sistem ekonomi ribawiyah-spekulatif, atau mereka yang tidak memiliki
apa-apa; tidak ada kegelisahan, tidak ada kesedihan.

Hubungan dengan kemunculan Al-Mahdi adalah bahwa fase kehancuran ekonomi
kapitalis ribawiyah ini akan mengawali kehancuran dunia secara umum. Dapat
kita bayangkan jika akhirnya masyarakat seluruh dunia harus kesulitan untuk
mendapatkan kebutuhan pokok karena tidak beroperasinya pabrik-pabrik yang
memproduksi seluruh kebutuhan mereka (disebabkan runtuhnya fondasi ekonomi
mereka), maka jalan menuju kemiskinan dan kehancuran total telah terbentang
di depan mata.

Ketika pabrik-pabrik industri, mesin-mesin produksi, teknologi
transportasi, termasuk mal-mal dan pusat perbelanjaan yang harus berhenti
beroperasi karena berhentinya kuncuran kredit disebabkan kehancuran pusat
ekonomi dunia, maka secara otomatis akan berhenti pula roda perekonomian
rakyat.

Manusia tidak lagi mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Sebab,
mereka selama ini telah terkondisi untuk mengonsumsi sesuatu yang bersifat
instan, dan mereka harus kembali lagi ke cara-cara tradisional dan manual
untuk memenuhi kebutuhan mereka. Padahal lingkungan mereka sudah tidak
mendukung untuk tersedianya beragam kebutuhan itu.

Begitulah masa-masa sulit yang akan dihadapi oleh manusia sebelum
kemunculan Dajjal.*/*Sudirman STAIL*

Kirim email ke