*Hanya Jokowi didoakan masuk surga? lantas jutaan rakyat dilupakan?
Seandainya Jokowi masuk surga apakah Jokowi sanggup santai ramah dengan 72
bidadari cantik nan sexy tiap hari? *


https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/26/124429/terkait-kebijakan-perbankan-buya-yahya-doakan-presiden-jokowi-masuk-surga.html



*Terkait Kebijakan Perbankan, Buya Yahya Doakan Presiden Jokowi Masuk Surga*

Selasa, 26 September 2017 - 15:38 WIB

Pesan khusus Buya Yahya itu terkait isu terkini soal perbankan dan
transaksi keuangan. Dimana pemerintah melalui Bank Indonesia mengeluarkan
kebijakan terkait penambahan biaya transaksi isi ulang (top up) uang
elektronik (menggunakan kartu-kartu bank. Red). Kebijakan ini mengundang
polemik.

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com

Buya Yahya berdoa dalam sebuah pengajiannya di Cirebon, Jawa Barat.

*Hidayatullah.com <http://Hidayatullah.com/>*– Ulama Cirebon Ustadz Yahya
Zainul Maarif (Buya Yahya) mendoakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar
kelak dimasukkan oleh Allah ke dalam surga-Nya.

Doa itu, pantauan *hidayatullah.com <https://www.hidayatullah.com/>* pada
Selasa (26/09/2017), disampaikan Buya Yahya dalam suatu pesan khususnya
kepada Presiden Jokowi terkait kebijakan pemerintah soal bank syariah dan
bank konvensional.

“Kalau Presiden yang *denger* kalimat ini, Pak Jokowi, karena kami berharap
Pak Jokowi dan yang lain juga ahli surga. Tidak boleh kita mengharap
siapapun masuk neraka, semoga Pak Jokowi *denger* suara ini,” harap Buya
Yahya dalam sebuah ceramahnya disiarkan media-media resmi Al-Bahjah di
media sosial, baru-baru ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Cirebon, Jawa Barat, itu menyampaikan
pesan agar Presiden Jokowi memberi perhatian serius kepada bank-bank
syariah.

Baca: Tifatul Doakan Jokowi Gemuk dan Dilimpahkan Kesehatan, Ini Alasannya
<https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/08/16/121634/tifatul-doakan-jokowi-gemuk-dan-dilimpahkan-kesehatan-ini-alasannya.html>

Buya Yahya berharap agar pada fasilitas-fasilitas umum, berbagai bank
syariah dilibatkan di dalam pelayanannya tentu terkait transaksi keuangan.

“Yang harus (ada) di fasilitas umum semua orang masuk, dilibatkan bank
syariah agar gede bank syariah. Berapa miliar, triliun (rupiah. *Red*), yang
harus kita titipkan nanti melalui bank konvensional saat ini,” ujarnya.

Sekiranya Presiden Jokowi lewat kebijakannya melibatkan semua bank syariah
dalam pelayanan transaksi keuangan di fasilitas-fasilitas umum, makanya hal
itu, kata Buya Yahya, merupakan sesuatu yang luar biasa.

“Tidak harus Al-Bahjah, yang (bank) syariah mana saja, pokoknya syariah
kita dukung ya, maka luar biasa ini jihad besar bagi beliau (Presiden),”
imbuhnya dalam tayangan video.

Buya Yahya pun mengatakan, dari sisi perbankan ini saja, bahkan katanya
dalam segala hal, umat mengalami kekalahan. Hal ini harus dipahami oleh
umat.

“*Gimana* bank syariah tidak kalah, *wong* Anda sendiri sampai hari ini
belum hijrah. Padahal *ngaji* setiap saat,…” ujarnya tampaknya menyindir
orang Islam yang belum hijrah ke bank syariah.

Baca: Bank Syariah Mau Maju Pesat? Harus Kaffah
<https://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/04/17/115050/115050.html>

Menurutnya, umat Islam harus hijrah dari bank-bank konvensional agar
bank-bank syariah berjaya. Jika berjaya, maka katanya bank-bank syariah
akan mampu melobi pemerintahan terkait kebijakan negara dalam hal perbankan..

“Ini kekalahan di kita. Akhirnya imbasnya apa? Sekarang korbannya kita. Mau
tidak mau kita harus beli, membeli kartu tersebut (uang elektronik. *Red*),
memasukkan uang ke bank konvensional. Ini kekalahan kita,” ungkapnya.

“Jangan ragu, jangan ragu untuk hijrah!” pungkasnya di depan para jamaahnya.

Pesan khusus Buya Yahya itu terkait isu terkini soal perbankan dan
transaksi keuangan. Dimana pemerintah melalui Bank Indonesia mengeluarkan
kebijakan terkait penambahan biaya transaksi isi ulang (*top up*) uang
elektronik (menggunakan kartu-kartu bank. *Red*). Kebijakan ini mengundang
polemik.

Sebelumnya, anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
(PKS), Ahmad Junaidi Auly, menilai, kebijakan Bank Indonesia untuk
membebaskan perbankan menarik biaya tambahan saat *top up *uang elektronik
merupakan kebijakan yang tidak adil dan merugikan masyarakat.

Baca: Anggota DPR: Biaya Tambahan “Top Up” Uang Elektronik Merugikan
Masyarakat
<https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/09/22/124141/anggota-dpr-biaya-tambahan-top-up-uang-elektronik-merugikan-masyarakat.html>

Kirim email ke