Ini betul sekali!!! Pengalaman PKI juga begitu dengan tokoh-tokoh seperti Haji 
Misbach, Haji Datuk Batuah. Yang tidak bisa dikombinasi adalah Bolshevisme 
dengan Menshevisme, Sosialisme dengan Kapitalisme . Hanya orang-orang remo yang 
berilusi untuk mengawinkanya.


Bulan dan Bintang: Bolshevisme dan Islam
02/10/2017Pejuang muslim dari Tatarstan bergabung dengan Tentara Merah 
Bolshevik pada 1918. Sumber: Dawn.Chris BamberyUni Soviet yang berumur muda 
mengambil langkah-langkah radikal dalam memberikan kekuasaan kepada penduduk 
asli, termasuk penduduk Muslim di Asia Tengah.Pada November 1917, Republik 
Soviet yang baru meliputi wilayah yang luas dari Kekaisaran Tsar yang lama. 
Sekitar 10 persen penduduknya adalah Muslim, yakni 16 juta orang, terutama 
tetapi tidak semua di Asia Tengah.Sebelumnya, mereka ditaklukkan, tanah mereka 
dirampas, bahasa dan budaya mereka ditindas serta dieksklusi dari pemerintahan. 
Mereka memang dijajah dengan cara yang sama seperti kekuatan Barat menjalankan 
urusan berdarah mereka di Afrika dan Asia, dengan penduduk asli di Asia Tengah 
diperlakukan dengan cara yang persis sama.Tetapi mereka banyak berkontribusi 
terhadap kehancuran Tsarisme ketika pada musim panas 1916, terjadi 
pemberontakan rakyat di daerah itu atas diperkenalkannya wajib militer. Sekitar 
2.500 kolonis Rusia terbunuh dan dalam penumpasan pemberontakan itu, pasukan 
Rusia membantai lebih dari 80.000 orang.PemberontakanTidak begitu mengherankan 
jika berita tentang penggulingan Tsar melalui Revolusi Februari 1917 membawa 
kegembiraan kepada umat Muslim yang dulu berada di bawah kekuasaannya.Hal itu 
juga membuat mereka mulai merumuskan tuntutan-tuntutan mereka sendiri, 
khususnya tentang kebebasan beragama dan penentuan nasib sendiri secara 
nasional.Kongres-kongres umat Muslim diselenggarakan di Kazan dan Moskow, 
dimana 1000 delegasi, 200 diantaranya perempuan, memutuskan penghapusan 
kepemilikan privat skala besar atas tanah, penyitaan perkebunan besar, delapan 
jam kerja, ditambah hak-hak politik untuk perempuan.Ini merefleksikan fakta 
bahwa menjelang abad ke-19, sebuah aliran Islam radikal muncul, yaitu usul-l 
jaded (kaum Jadis), yang memiliki arti “metode baru”—yang berjuang untuk 
kembali ke Islam murni dengan penekanan kuat pada pentingnya pendidikan.Itu 
berarti mereka menginginkan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Mereka 
menjadi semakin anti-kolonial, ingin melihat Inggris diusir dari India dan 
berakhirnya dominasi Eropa.Dalam kekacauan yang muncul di Rusia pada masa Tsar 
akibat Perang Dunia Pertama, mereka menjadi semakin radikal dan sebagian dari 
mereka, meski tidak semua, menyambut Revolusi Oktober 1917 dengan janjinya akan 
kebebasan beragama dan berkebangsaan.Hak menentukan nasib sendiriJanji ini 
bukan posisi baru bagi Bolshevik. Bahkan sebelum mereka muncul sebagai sebuah 
kecenderungan terpisah, kongres 1903 dari Partai Buruh Sosial Demokratis Rusia 
(PBSDR) yang masih menyatu, telah memutuskan mendukung hak semua bangsa di 
dalam Kekaisaran Rusia untuk menentukan nasibnya sendiri.Hal itu memiliki arti 
kongkrit bahwa mayoritas penduduk memiliki hak untuk berkuasa, untuk berkuasa 
dan dididik dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Penentuan nasib sendiri 
bukanlah sebuah abstraksi.Posisi ini diusung dan dikembangkan oleh Lenin di 
tahun-tahun berikutnya.Karenanya, satu minggu setelah insureksi di St 
Petersburg, pemerintahan baru Soviet mengeluarkan dan mengumumkan sebuah 
keputusan yang menjanjikan “kesetaraan dan kedaulatan rakyat Rusia” serta hak 
untuk menentukan nasib sendiri sampai dan termasuk merdeka.Di barat, 
Negara-negara Baltik, Polandia dan Finlandia mengumumkan kemerdekaannya, 
sesuatu yang diakui oleh Bolshevik, meski negara-negara baru itu memusuhi 
mereka dan bergerak cepat untuk menghancurkan kekuatan revolusioner dengan 
brutal.FederasiMayoritas bangsa-bangsa dalam Kekaisaran Tsar yang lama 
memutuskan untuk bergabung dengan federasi yang baru, Uni Soviet.. Sekali lagi, 
penentuan nasib sendiri bagi Bolshevik tidaklah abstrak, tetapi diputuskan 
bahwa daerah-daerah ini memiliki hak untuk menjalankan urusan mereka sendiri 
dengan menggunakan bahasa mayoritas di daerah itu, untuk membangun 
sekolah-sekolah, pengadilan dan institusi lain atas dasar yang sama.Syari’ah 
diakui sebagai bagian dari sistem hukum Soviet yang baru..Sebuah seruan awal 
Soviet menjanjikan pekerja dan petani Muslim bahwa:“Mulai sekarang, keyakinan 
dan adat kalian, insititusi budaya dan nasional kalian, dideklarasikan sebagai 
bebas dan tidak dapat diganggu gugat…bangunlah kehidupan nasional kalian dengan 
bebas dan tanpa hambatan.”Hal ini seringkali melibatkan perdebatan tajam dengan 
kaum Bolshevik di daerah itu, yang seringkali merupakan pendatang Rusia dan 
pada awalnya mendominasi dewan-dewan rakyat. Pemerintahan baru di Moskow 
memperjuangkan hak penduduk asli yang bertentangan dengan mereka, termasuk hak 
untuk mengambil kembali tanah yang diberikan pemerintahan Tsar kepada para 
kolonis.Di Turkistan, dewan-dewan rakyat pada awalnya mengeksklusi umat Muslim 
dan memperlakukan mereka sebagai warga negara kelas dua. Pemerintahan Soviet 
mengintervensi untuk membalikkan situasi ini dan menerapkan kebijakan 
“korenizatsiia,” yaitu hak tiap kebangsaan untuk direpresentasikan dalam 
pemerintahan sebanding dengan jumlah mereka dari keseluruhan penduduk.Pada 
akhir 1918, 45 persen anggota Partai Komunis Turkistan adalah Muslim.Memerangi 
ImperialismeSemua ini penting untuk memastikan Uni Soviet yang masih bayi dapat 
menggalang dukungan para pejuang Muslim saat kekuatan imperialis menginvasi 
Republik Soviet yang baru dan kemudian mendorong Perang Saudara.Pada 1920, 
sebuah seruan dikeluarkan kepada Tentara Merah di Asia Tengah, meminta mereka 
untuk melihat petani dan pedagang kecil serta artisan sebagai sekutu dan bukan 
musuh, mencatat bahwa pada 1920 tentara didorong untuk melihat pedagang dan 
produsen kecil mandiri di daerah ini sebagai sekutu, sebagai pekerja, bukan 
sebagai lintah darat. Hal itu mencatat bahwa diantara orang-orang 
ini:“Perbedaan kelas yang jelas belum terjadi…Para produsen belum terpisah dari 
alat-alat produksi. Tiap pengrajin…adalah juga pedagang. Perdagangan…bersandar 
di tangan jutaan pedagang kecil, [yang masing-masing] hanya memiliki 
barang-barang yang nilainya sangat kecil…penerapan komunisme secara 
cepat…nasionalisasi semua perdagangan…para pengrajin…adalah mustahil.”[1]Bagi 
Bolshevik, apa yang diperlukan adalah perkembangan budaya nasional sepenuhnya, 
sehingga setelah bertahun-tahun berada di bawah kekuasaan dan penindasan 
kolonial, mereka yang sebelumnya dijajah bisa berdiri sama tinggi.Jadi, 
perhatian diberikan terhadap apa yang harus menjadi bahasa nasional dari 
berbagai dialek yang ada dan karya-karya tata bahasa diterbitkan. Pada 1927, 90 
persen siswa dari kebangsaan non-Rusia diajarkan dalam bahasa mereka 
sendiri.Kebebasan beragama: cahaya suar bagi rakyat kolonialKembali lagi ke 
kebebasan beragama, ini bukan merupakan isu yang abstrak bagi Bolshevik. Jum’at 
menjadi hari libur resmi di seluruh Asia Tengah.Menjelang berakhirnya Perang 
Saudara, sebuah sistem pengadilan syari’ah yang resmi berjalan berdampingan 
dengan pengadilan Soviet. Ada beberapa kesulitan, tetapi di seluruh Asia 
Tengah, setengah dari semua kasus hukum disidang oleh pengadilan syari’ah, 
mencapai 80 persen di Chechnya.. Madrasah-madrasah bermunculan, diakui secara 
hukum, sehingga di Dagestan terdapat 1.500 madrasah dengan 45.000 murid, 
jumlahnya jauh melebihi 183 sekolah negeri.Lenin selalu berharap bukan hanya 
pada revolusi sosialis di barat sebagai penyelamat Revolusi Rusia, tetapi juga 
pada revolusi anti-kolonial di timur. Cara Uni Soviet memperlakukan 
bangsa-bangsa minoritas di wilayahnya, baginya, merupakan uji litmus untuk 
bagaimana mereka akan dipandang di dunia kolonial.Kongres Rakyat TimurSekali 
lagi, hal ini tidak hanya ada di tingkat abstraksi. Pada 1920, Komunis 
Internasional menyelenggarakan Kongres Rakyat Timur di Baku, di Azerbaijan 
Soviet.Tujuan utamanya adalah untuk mendukung gelombang perlawanan yang 
meningkat terhadap imperialisme Barat. Hal itu mencakup kekuatan-kekuatan yang 
memusuhi Bolshevisme, seperti gerakan nasionalis Kemal Ataturk di Turki, tetapi 
perwakilan mereka disambut di Baku karena mereka sedang berperang dengan 
imperialisme Inggris dan antek Yunaninya.Tidak mengejutkan jika armada Inggris 
di Laut Hitam melakukan patroli di pantai Turki untuk menghadang delegasi yang 
pergi ke Rusia Soviet, tetapi badai membuat mereka tercerai-berai dan para 
delegasi berhasil sampai di Baku.Kaum muslim dari India berhasil mencapai Kabul 
dimana 150 dari mereka membentuk Asosiasi Revolusioner India pro-Soviet. Dua 
puluh lima orang menempuh perjalanan berbahaya melalui gunung-gunung untuk 
mencapai Baku, dan bergabung bersama mereka, Tentara India yang diresmikan 
Inggris yang melakukan desersi dari Irak.Presiden Komintern, Zinoviev, 
mengusulkan amandemen terhadap slogan terkenal dari Manifesto Komunis, yang 
kemudian berbunyi:“Kaum buruh seluruh dunia dan rakyat tertindas di seluruh 
dunia, bersatulah.”[2]Lima puluh persen delegasi adalah kaum Komunis, 20 persen 
diklasifikasi sebagai pendukung dan 25 persen sebagai non-partai.Lima puluh 
lima perempuan berpartisipasi yang memicu perdebatan, setelah isu itu 
diperdebatkan, tiga perempuan dipilih sebagai panitia pengarah konferensi, 
menerima tepuk tangan yang bergemuruh, dan dua perempuan berbicara tentang 
pembebasan perempuan di Timur.Seorang delegasi, Babayev, yang juga seorang 
muslim Azerbaijan, di kemudian hari mengenang acara itu:“Ketika panggilan 
shalat datang, ia menganggap biasa meletakkan senjatanya di samping selama 
shalat, setelah mana ia akan kembali untuk mempertahankan konferensi dan 
revolusi dengan darah kami.’ Terinspirasi oleh ‘deklarasi perang suci melawan 
musuh revolusi’ di konferensi itu…ribuan orang, karena yakin bahwa tidak ada 
pertentangan antara menjadi Bolshevik dan menjadi seorang Muslim, bergabung 
dengan barisan Bolshevik.”[3]Tentu saja tetap ada kesulitan-kesulitan dan para 
delegasi Muslim mengajukan keberatan terhadap beberapa perilaku pejabat Soviet 
yang mencerminkan Chauvinisme Rusia Raya. Zinoviev menjanjikan tindak lanjut 
dan 27 delegasi pergi ke Moskow yang menghasilkan sebuah resolusi yang ditulis 
oleh Lenin, yang meminta para pejabat dari Moskow untuk menghormati hak-hak 
beragama dan berkebangsaan. Didirikan juga Universitas Rakyat Timur.Di kemudian 
hari, pada 1922, ia menyatakan:“Kebebasan untuk memisahkan diri dari 
perserikatan yang kita sendiri membenarkannya, hanya akan menjadi secarik 
kertas yang tidak mampu membela kaum non-Rusia dari serangan gencar orang yang 
benar-benar Rusia itu, si chauvinis Rusia-Raya – secara substansi, seorang 
bandit dan tiran, begitulah tipikal birokrat Rusia.”[4]Perjuangan terakhir 
LeninPerjuangan terakhir yang dilancarkan Lenin adalah membela hak 
bangsa-bangsa minoritas di hadapan sekretaris jenderal Partai Komunis, Josef 
Stalin. Hal itu berpusat di Georgia dimana sekutu Stalin telah menyingkirkan 
etnis Georgia dari pemerintahan. Lenin menuntut agar situasi dikembalikan 
seperti semula dan akhirnya menolak penyingkiran mereka oleh Stalin.Kematian 
Lenin dengan cepat menyaksikan dimulainya kebalikan dari 
kebijakan-kebijakannya, ketika Stalin dan sekutu-sekutunya di birokrasi negara 
memperoleh kekuasaan.Kemenangan kontra-revolusi pada 1927-1928 menyaksikan 
kembalinya bentuk kekuasaan lama, dengan Rusia sebagai bahasa resmi dan 
diskriminasi terhadap bangsa-bangsa minoritas. Kemudian muncul horor 
kolektivisasi paksa dan deportasi massal dari etnis Tatar Krimea dan Chechnya 
selama Perang Dunia Dua. Islam dan agama-agama lain ditindas, meski tidak 
pernah dihancurkan.Jika dulu perempuan muda Bolshevik didorong untuk mengenakan 
hijab ketika memasuki desa-desa untuk membantu mendidik perempuan muda Muslim, 
hal itu sekarang dilarang di bawah Stalin dengan polisi menyobeknya dari kepala 
perempuan.Meski demikian, antara tahun 1917 dan 1924, di bawah kondisi yang 
sulit dan berbahaya, Uni Soviet yang masih muda mengambil langkah-langkah yang 
radikal dalam memberikan kekuasaan kepada penduduk asli, termasuk kaum Muslim 
Asia Tengah. Langkah-langkah yang bukan hanya di tingkat dokumen tertulis, 
tetapi memberikan kontrol kepada penduduk asli dan kebebasan beragama serta 
berkebangsaan yang belum pernah terlihat sebelumnya.Catatan:[1] John Ridell, 
editor, To See the Dawn: Baku, 1920 – First Congress of the Peoples of the 
East, Pathfinder Press, 1983, 307.[2] John Ridell, editor, To See the Dawn: 
Baku, 1920 – First Congress of the Peoples of the East, Pathfinder Press, 1983, 
219.[3] John Ridell, editor, To See the Dawn: Baku, 1920 – First Congress of 
the Peoples of the East, Pathfinder Press, 1983, 29-30.[4] John Ridell, editor, 
To See the Dawn: Baku, 1920 – First Congress of the Peoples of the East, 
Pathfinder Press, 1983, 26.Bacaan Lebih LanjutJohn Riddell, “The Russian 
Revolution and National Freedom”, John Riddell: Marxist Essays and Commentary, 
2006.John Riddell, editor, To See the Dawn: Baku, 1920 – First Congress of the 
Peoples of the East, Pathfinder Press, 1983.Ben Fowkes & Bülent Gökay (2009), 
“Unholy Alliance: Muslims and Communists – An Introduction”, Journal of 
Communist Studies and Transition Politics, 25:1, 1-31.Dave Crouch, “The 
Bolsheviks and Islam”, International Socialism Journal, Issue 110, 2006.Tentang 
PenulisChris Bambery adalah seorang pengarang, komentator dan aktivis politik, 
serta seorang pendukung Rise, koalisi sayap kiri radikal di Skotlandia. Bukunya 
termasuk A People’s History of Scotland dan The Second World War: A Marxist 
Analysis.Artikel ini diterjemahkan oleh Mohamad Zaki Hussein dari Chris 
Bambery, “The moon and stars: Bolshevism and Islam”, Counterfire, 15 Februari 
2017.

Kirim email ke