*Tidak apa-apa kalau investasi menurung di luar Jawa. Bukankah yang
terpenting investasi terkonsentrasi di yang disebut Jawasentris. Di luaur
linkungan tsb investasi menurun bukan masalah utama, karena fungsi mereka
selama ini sebagai sumber bahan mentah dan pasar bahan produk dari
Jawasentris. Bukankah itu takdir berkat kepada mereka? hehehehehehehe*


http://id.beritasatu.com/home/kadin-tiga-penyebab-investasi-luar-jawa-menurun/171427


*Kadin: Tiga Penyebab Investasi Luar Jawa Menurun*
Kamis, 1 Februari 2018 | 11:35

*JAKARTA*—Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan realisasi
investasi di luar Pulau Jawa mengalami penurunan pada 2017. Kamar Dagang
dan Industri (Kadin) mensinyalir tiga penyebab penurunan investasi tersebut..



“Pertama, adanya regulasi yang sering berubah-ubah di kementerian tertentu
utamanya disektor ketenagalistrikan dan migas (minyak dan gas).
Inkonsistensi ini menjadi preseden buruk bagi investor, sehingga mereka
takut masuk. Besok-besok aturan berubah,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin
Kawasan Timur Indonesia H.Andi Rukman Karumpa di Jakarta hari ini
menanggapi penurunan realisasi investasi yang dirilis BKPM.



 Andi mengatakan, investasi di luar Jawa sangat bergantung pada sumber daya
alam. Namun risikonya juga sangat tinggi dengan kondisi geografis yang
sangat berat. “Ditambah lagi dengan ketidakpastian regulasi yang mudah
berubah dengan ganti menteri membuat investasi di luar Jawa makin tidak
menarik,” papar dia.



Kedua, ujar dia, regulasi perikanan yang sangat ketat. Di sisi lain,
program industrilisasi perikanan di kementerian terkait tidak berjalan
sama-sekali. “Sektor lain mungkin mengalami deregulasi, kalau diperikanan
justru terjadi penguatan regulasi dan birokratisasi dalam dua tahun
terakhir. Banyak industri perikanan bukannya melakukan investasi baru malah
gulung tikar. Faktanya, pasar dunianya sudah diambil Vietnam dan Thailand
serta China,” ujarnya.



 Andi mengatakan, sektor perikanan merupakan tulang punggung dan masa depan
investasi kawasan timur. Namun sektor ini justru sangat terpuruk
industrinya. Tidak hanya pengusaha besar yang tidak bisa melaut, namun juga
nelayan-nelayan kecil yang kenah imbas larangan cantrang.



Ketiga, adanya inkonsistensi penerapan UU Minerba No.4 Tahun 2009.
Inkonsistensi itu membuat investor smelter sebagian mengurungkan niat
berinvestasi untuk smelter dan sebagian investasi yang sudah berjalan
dihentikan. “Di satu sisi UU memerintahkan untuk menyetop ekspor mineral.
Namun di sisi lain ekspor mineral mentah tetap jalan dan dilindungi aturan
di bawahnya,” tegas Andi.



 Andi mengatakan, investasi pertambangan merupakan jenis investasi jangka
panjang sehingga keteguhan regulasi sangat penting. “Dia investasi jangka
panjang. Dana yang digunakan tidak bersumber dari dana yang tersedia pada
bank reguler, melainkan berasal dari dana yang memiliki durasi jangka
panjang. Dia butuh konsistensi regulasi jangka panjang pula,” tukas Andi.





Sebagaimana diketahui Kepala BKPM Thomas Lembong, baru saja memaparkan pada
posisi 2017 porsi investasi di luar jawa tercatat sebesar 43,7% lebih
rendah dibanding realisasi investasi 2016 sebesar 46,6%.  "Ini adalah tren
penurunan yang layak mendapatkan perhatian kita," ujar Tom di Gedung BKPM,
Jakarta, Selasa (30/1/2018).



Tom mengungkapkan, untuk mendorong percepatan investasi di luar Pulau Jawa,
pemerintah saat ini sedang gencar mengembangkan 10 wilayah Bali baru. Di
mana 8 wilayah yang akan dikembangkan berada di luar Pulau Jawa. Menurut
Tom, pengembangan Bali Baru atau daerah wisata ini bisa lebih cepat
menggerakan perekonomian dibandingkan dengan pembangunan pabrik.





Berdasarkan data BKPM, realisasi penanaman modal kuartal IV 2017 di Jawa
tercatat Rp 107,1 triliun atau 59,6% meningkat dibandingkan periode yang
sama tahun 2016 sebesar Rp 78,4 triliun atau 49,2%.  Lalu untuk luar Jawa
penanaman modal tercatat Rp 72,5 triliun atau 40,4% turun dibandingkan
kuartal IV 2016 sebesar Rp 81 triliun atau 50,8%.  Secara tahunan, yakni
Januari hingga Desember 2017, realisasi penanaman modal atau investasi di
Jawa tercatat Rp 389,9 triliun atau 56,3%, meningkat dibanding periode 2016
sebesar Rp 328,7 triliun atau 53,6%.  Sedangkan untuk luar Jawa
Januari-Desember 2017 tercatat Rp Rp 302,9 triliun atau 43,7% lebih rendah
dibandingkan periode Januari-Desember 2016 Rp 284,1 triliun dengan porsi
46,4%. (is)


Berita Terkait

   -

   BKPM Yakin Layanan Satu Pintu Dongkrak Investasi
   
<http://id.beritasatu.com/home/bkpm-yakin-layanan-satu-pintu-dongkrak-investasi/105216>
   -

   Presiden Minta Wapres Atasi Persoalan Investasi
   
<http://id.beritasatu.com/home/presiden-minta-wapres-atasi-persoalan-investasi/171648>
   -

   Tahun Politik Berdampak Positif bagi PMA-PMDN
   
<http://id.beritasatu.com/home/tahun-politik-berdampak-positif-bagi-pma-pmdn/171394>
   -

   Investasi di Tahun Politik
   <http://id.beritasatu.com/home/investasi-di-tahun-politik/171366>
   -

   Kepala BKPM Minta Coworking Space Dibuka di Kota Kecil
   
<http://id.beritasatu.com/business/kepala-bkpm-minta-coworking-space-dibuka-di-kota-kecil/171067>

Kirim email ke