Disebut kesalahan managerial, karena alasan di bawah :

*Untuk menghindari kegagalan pemasangan girder terulang, Basuki dan
jajarannya akan memperbaiki SOP pemasangan girder. Dia mencontohkan, teknik
pemasangan girder tidak lagi dikalungkan karena riskan terjatuh, diubah
dengan menggunakan media anting-anting.*

*"Sekarang diperbaiki SOP-nya. Jadi itu masalah teknis dan manajerial.
Artinya ada masalah teknis dan manajerial, itu SOP, ada perbaikan sedikit,"
ujar dia.*
Kalau saya baca ini dan yang lainnya, girdernya tidak satu tipe, sehingga
cara ngangkatnya supaya tidak jatuh, tidak sama ?
Apa untuk tiap macam girder, SOP nya harus berbeda ? atau bisa sama dengan
pakai cara yang paling aman, dengan SOP baru.
Di samping itu untuk pekerjaan yang akibatnya kalau salah besar sekali,
harus disertakan critical control points, yang kalau ini terpenuhi
baru boleh terus. Ini kalau di Industri . (Hazard Analysis Critical Control
Points). Tidak tahu kalau di bangunan. Apa untuk pekerjaan yang risikonya
tinggi, harus dibawah pengawasan langsung mandor yang
berpengalaman ?
SOP dibuat oleh management. Jadi kalau kesalahannya di SOP yang tidak
sempurna, ya kesalahan management.
Kalau SOP nya benar dan jelas, dan operatornya sudah terlatih, tetapi
kemudian operatornya kerjanya menyimpang dari SOP, maka kesalahannya jadi
kesalahan oprator. Dalam industri 80 % kesalahan adalah tidak lengkapnya
SOP, sedangkan kesalahan dari operator hanya 20 %. Dari 20 % ini, masih
harus dilihat lagi,
apakah operator benar2 telah mendapat latihan cukup ? Kalau kesalahan
terjadi karena operator tidak mendapat latihan cukup atau SOP tidak jelas,
ya kan managementnya yang kurang.
SOP harus jelas, tidak ber-belit2 yang menyebabkan orang cenderung
menyimpang, cari jalan sendiri.
Di samping itu, kalau sekali saja girder jatuh, kan harus dianalisa lengkap
apa sebabnya, dan prosedurnya langsung diperbaiki dengan cara dicoba
langsung dulu,
dan mendengari saran2 dari yang langsung mengerjakan. Masa setelah 5 kali,
baru sadar harus diperbaiki ? Di indusri dan pekerjaan teknik, mestinya
tiap kesalahan
dianalisa pakai Visgraatdiagram ( Fishbone Diagram ), dianalisa apakah
kesalahannya letaknya di alat/mesin, di prosedur kerja, di operator yang
mengerjakan dll.
Di perusahaan yang baik, hampir kecelakaan saja, apalagi kecelakaan harus
langsung diteruskan ke anak perusahaan lainnya, untuk diteliti apakah ada
kondisi yang sama atau hampir sama, yang dapat menyebabkan kecelakaan yang
sama atau hampir sama. Ini harus diteruskan dalam waktu 24 jam. Juga
analisa kesalahan di tempat kecelakaan /hampir kecelakaan harus sampai
dalam waktu 24 jam. Di perusahaan yang baik, di negeri Belanda, angka
kecelakaan diumumkan di papan di depan gedung perusahaan. Semua rapat2 di
perusahaan, selalu dimulai dengan ususl2 memperbaiki pengamanan kerja.
Kursus2 diberikan tentang Risiko analisa
di seluruh bagian perusahaan, bahkan di bagian administrasi.
Kalau banyak kegiatan kerja, seperti periode sekarang, dibandingkan periode
yang lalu, angka kecelakaan akan meningkat. Untuk meminimalisir, tiap kali
prosedur kerja (SOP) harus diperbarui, dan operator2 diberi pendidikan
penyegaran. Banyak saran2 perbaikan kerja justru datangnya dari operators
yang mengeluh.
SOP itu sekarang di Belanda diterapkan di mana-mana, mulai dari bangun
rumah, di industri, di administrasi, di rumah sakit, yang namanya jadi
protocol kerja, di perkumpulan2 sosial pun meskipun istilah2nya bisa
berbeda.
SOP yang baik, disertai dengan What if........., kalau terjadi
penyimpangan, apa ada SOP nya untuk mengatasi penyimpangan itu.

2018-02-06 13:52 GMT+01:00 ajeg [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Pendukung Jokowi mestinya berani menjelaskan
> kenapa ratusan proyek mandek sehingga sekarang
> semua dikebut.
>
> --- ilmesengero@... wrote:
>
> Mengapa kesalahan manajerial?
>
>
>
> 
>

Kirim email ke