*Terbongkar kemajuan rezim neo-Mojopahit dengan kartu Indonesia Sehat dan
Indonesia Pintar. Mungkin pintar naik sepeda yaang dibagikan kepada anak
sekolah, tetapi bagaimana dengan mutu ilmunya? *


https://www.merdeka.com/peristiwa/potret-gizi-buruk-kemiskinan-dan-pendidikan-di-indonesia.html


Potret gizi buruk, kemiskinan dan pendidikan di Indonesia

Selasa, 6 Februari 2018 07:31 Reporter : Mardani
<https://www.merdeka.com/reporter/mardani/>


Ilustrasi gizi buruk. ©AFP/Dibyangshu Sarkar

*Merdeka.com - *Masalah gizi buruk belakangan tengah melanda sejumlah
wilayah di Indonesia. Di Kabupaten Asmat, Papua, ratusan orang terdeteksi
wabah campak dan gizi buruk. Akibatnya, 60 orang lebih meregang nyawa.

Di Wonogiri, Jawa Tengah, jumlah penderita anak gizi buruk hingga Desember
2017 sebanyak 20 balita. 16 merupakan sisa kasus tahun 2016, 1 kasus baru
dan 5 kasus lama kambuh, dan 2 balita dinyatakan telah sembuh.

Gizi buruk tak cuma terjadi di daerah. Di DKI *Jakarta*
<http://www.merdeka.com/tag/j/jakarta/> yang notabene menjadi pusat ekonomi
dan pemerintahan negara, masalah gizi buruk juga terjadi pada warga ibu
kota. Informasi dari Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, M Helmi,
pada 2017, terdapat 194 orang menderita gizi buruk.

Jumlah tersebut kemudian berkurang pada akhir Desember 2017 menjadi 34
orang penderita gizi buruk. Mereka mengalami gizi buruk dengan penyakit
penyerta seperti TB (Tubercolosis), dan sisanya karena masalah kurang gizi.

Guru Besar Sosiologi Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar prihatin
atas masalah gizi buruk yang masih saja terjadi di tanah air. Menurutnya
pembangunan ekonomi yang dilakukan sejak zaman Orde Baru hingga kini era
Presiden Joko Widodo hanya bisa dinikmati kelas menengah atas, tak
menyentuh kelas bawah. Salah satu buktinya masih terjadinya gizi buruk di
tanah air.

Menurutnya, masalah gizi buruk erat kaitannya dengan kemiskinan. Sementara
kemiskinan bermuara pada masalah pendidikan. Dia mengatakan, dengan tak
adanya pendidikan mengakibatkan seseorang sulit untuk bekerja. Hal itu
berujung pada kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

"Jadi jangan Anda lihat gedung-gedung pencakar langit banyak lalu banyak
mobil berseliweran, tapi masih banyak yang kehidupannya memprihatinkan. Di
Jakarta misalnya, ada 220 kawasan kumuh dan miskin. Jadi pembangunan kita
itu mengakibatkan kesenjangan dan ketidakadilan karena yang menikmati
kalangan menengah atas yang punya pendidikan. Sementara masyarakat bawah
yang pendidikannya tidak memadai tidak bisa kerja, tidak bisa bisnis. Jadi
gizi buruk itu dampak dari pembangunan, tapi sumbernya pendidikan tidak
ada," kata Musni Umar kepada merdeka.com, Senin (5/2) malam.

Dia mengatakan solusinya adalah pendidikan. Dia memberi contoh China. 33
tahun lalu, China mengutamakan pendidikan pada warganya. Hasilnya, China
kini menjadi negara maju dengan teknologi dan hasil industri yang berhasil
dijual ke seluruh dunia.

"Sama juga dengan Singapura. Pendidikan digenjot. Jepang juga sama. Mereka
kalah Peran Dunia II lalu pemuda mereka kirim ke AS buat belajar hasilnya
sekarang mereka petik," katanya.

Dia menjelaskan, sejak zaman Presiden Soeharto, orientasinya fokus pada
pembangunan ekonomi. Hal itu dilanjutkan di era Reformasi dan kini di era
Jokowi dengan pembangunan infrastruktur. Dia mengakui memang ada kemajuan.
Namun, yang menikmati hanya masyarakat kelas menengah ke atas.

"Hasilnya sekarang gizi buruk karena kemiskinan. Apa Anda yakin dengan
pembangunan infrastruktur akan mengubah? Tidak akan. Rakyat akan tetap
miskin. Yang menikmati hanya orang-orang bermobil. Padahal semua
pembangunan itu dibiayai oleh utang. Jadi kondisi kita di masa depan bisa
lebih berat," katanya.

Dia menegaskan pendidikan harus diutamakan buat mengatasi masalah
kemiskinan. Dia mengakui pemerintah memang sudah mengalokasikan 20 persen
dari APBN buat pendidikan. Namun, kata dia, jumlah tersebut tak seluruhnya
untuk pendidikan masyarakat.

"Yang menikmati uang itu bukan cuma Kemendikbud, di situ ada juga Kemenhub
yang ambil uang dari situ untuk pendidikan atau pelatihan, Kemendagri dari
situ, untuk guru dan lain-lain dari situ juga. Coba hanya untuk pendidikan
dari SD sampai perguruan tinggi, pasti bisa kita lihat signifikan
hasilnya," katanya. *[dan]*

Kirim email ke