----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>Kepada: "[email protected]"
<[email protected]>Terkirim: Rabu, 7 Februari 2018 03.15.50 GMT+1Judul:
[GELORA45] Putra-putri Papua dari ‘gubuk dan kurang makan’ sampai ke pendidikan
bergengsi dunia
Putra-putri Papua dari ‘gubuk dan kurang makan’ sampai ke pendidikan bergengsi
dunia
- 58 menit lalu
- Bagikan artikel ini dengan Facebook
- Bagikan artikel ini dengan Twitter
- Bagikan artikel ini dengan Messenger
- Bagikan artikel ini dengan Email
- Kirim
Hak atas fotoBILLY MAMBRASARImage captionBilly Mambrasar melanjutkan studi
master of science di Universitas Oxford.
Sejumlah mahasiswa Papua yang mendapatkan beasiswa di Inggris bercerita tentang
kerja keras mereka, mulai dari provinsi asal dengan kondisi sangat terbatas
sampai ke jenjang pendidikan bergengsi dunia.
Kondisi terbatas yang mereka alami di Papua, termasuk "rumah gubuk tanpa
listrik dan kurang makan" dan minimnya prasarana lain, tak menyurutkan kerja
keras mereka untuk sampai ke perguruan tinggi.
Dengan keberhasilan di perguruan tinggi di Inggris, mereka banyak mendorong dan
membantu para siswa di Papua dan Indonesia pada umumnya yang juga "ingin
melanjutkan studi lebih lanjut termasuk di luar negeri."
- #KabarDariInggris Putra-putri Papua yang berprestasi
- Tim mahasiswa Indonesia yang ingin 'selamatkan ratusan ribu penderita TBC'
- George Saa, pemuda Papua dengan prestasi 'sangat spesial'
- Cerita siswi Malaysia yang ditawari delapan universitas terbaik Amerika
Para mahasiswa ini termasuk Billy Mambrasar, Rio Albert, Voni Blesia, Simon
Tabuni dan George Saa.
Billy, yang berasal dari Serui saat ini tengah menempuh gelar Master of Science
di Said Business School, Universitas Oxford, setelah sempat mendapat beasiswa
di Australia dan ikut dalam pertukaran di Universitas Harvard, Amerika Serikat.
"Orang tua saya kan cuma pekerja lepas dan ibu saya jual-jual kue di pasar ....
siapa yang sangka, bayar SPP sering tertunda … makan kurang, rumah dari atap
rumbia tanpa listrik dan untuk bertahan hidup harus berjualan kue di pasar,
tapi akhirnya bisa bersekolah di salah satu sekolah bergengsi," kata Billy.
Hak atas fotoBILLY MAMBRASARImage captionTas yang dibagikan saat masuk
Universitas Oxford mengingatkan Billy akan pembagian tas yang harus diambil
ibunya saat masih SD di Papua.
"Mengangkat keluarga dari kemiskinan"
"Semoga ini bisa jadi inspirasi buat anak-anak miskin Indonesia dan Papua
lain…bahwa ke institusi pendidikan tingkat dunia bukan tidak mungkin," kata
Billy saat diterima di Universitas Oxford.
Cerita lain dari Rio Albert yang berasal dari Wamena dan "sering terlambat ke
sekolah karena kabut yang tak bisa diprediksi" di daerah pedalaman Papua itu.
Rio yang saat ini mengambil program doktoral di Universitas Southampton
Inggris, bidang sosiologi dan kebijakan sosial. bersekolah sampai SMP di Wamena
dengan tantangan "mencari sekolah lanjutan yang lebih baik."
"Saya mendengar dari kakak kelas saya yang melanjutkan sekolah di Jayapura
karena relatif kualitas sekolah lebih baik ketimbang di pedalaman. Tantangannya
yah jauh dari keluarga karena tidak punya famili di Jayapura."
Baik Rio maupun Billy, secara individu dan berkelompok membantu para siswa di
Indonesia, khususnya di Papua dan daerah terpencil lain dalam bidang pendidikan.
- Saat orang Madiun yang lama tinggal di Malang bertemu dengan 'orang Solo'
- Tempe: 'Makanan ajaib' yang (masih) dianggap murahan di Indonesia
- Seberapa besar kesempatan kerja bagi kelompok difabel di Indonesia?
"Kami membentuk grup di sosial media antara lain Papua Scholarship (beasiswa
Papua) ... dan juga pusat karir, kesempatan magang, kursus dan juga kami
bagikan bahan belajar yang kami harapkan dapat membantu belajar, bisa
memotivasi adik-adik belajar lebih giat, kemudian mengejar cita-cita lebih
tinggi," kata Rio.
Menurutnya, kelompok-kelompok ini dibuat bersama rekan lain termasuk Billy dan
juga George Saa.
Sementara Billy melalui organisasi yang dibentuk bersama profesional muda
Indonesia lain, Kitong Bisa, memberikan pelatihan wirausaha untuk anak-anak
muda di daerah terpencil, terutama di Papua dan Aceh.
"Lembaga ini didirikan berdasarkan kisah hidup saya yang mampu mengangkat
keuarga dari kemiskinan menjadi lebih baik karena akses terhadap pendidikan,"
kata Billy.
"Pendidikan kewirausahaan ditujukan agar mereka punya semangat untuk bertahan
hidup dengan keterampilan yang dia punyai," tambahnya.
Hak atas fotoRIO ALBERTOImage captionRio Alberto bersama para mahasiswa Papua
lain di pinggir Sungai Thames, London.
Membangun Papua dari pendidikan
Hak atas fotoGEORGE SAAImage captionGeorge Saa memimpin organisasi Lingkar
Studi Papua.
Mahasiswa lain George Saa, mahasiswa S2 teknik material di Birmingham, Inggris,
banyak mendapatkan tawaran beasiswa setelah menang dalam kompetisi dunia First
Step di Nobel Prize dalam fisika pada 2004 saat masih di SMA.
Sempat pula mengalami kesulitan finansial untuk melanjutkan sekolah namun di
tengah tantangan ini, moto "selalu ada jalan" membuatnya sampai menempuh
jenjang pendidikan seperti sekarang.
Sebagai ketua Lingkar Studi Papua, George bersama rekan-rekan dari Papua lain
ingin "membangun Papua dari segi pendidikan" karena masih tertinggalnya
provinsi ini dari target nasional dari sisi pendidikan.
Hak atas fotoVONI BLESIAImage captionVoni Blesia mengambil gelar doktor dengan
penelitian soal kelebihan zat besi yang menyebabkan diabetes tipe-2.
Mahasiswa asal Papua lain yang berprestasi termasuk Voni Blesia dan Simon
Tabuni.
Voni yang berasal dari Timika tengah menempuh gelar doktoral dalam bidang Life
Sciences dengan peneltian tentang kelebihan zat besi yang dapat menyebabkan
diabetes tipe-2.
"Setiap berangkat sekolah selalu jam 5 pagi. Ini hal yang biasa, namun yang
berbeda adalah jam segitu masih gelap dan saya sebagian besar waktu selalu
sendiri bersama dengan sang supir," tutur Voni.
"Saya terkadang berpikir tentunya saat berada di bangku perkuliahan, saya kok
dulu berani sekali sendiri bersama dengan sang supir yang bisa saja melakukan
hal-hal yang sadis."
"Sepanjang jalan saat itu masih penuh dengan hutan yang isu-isunya banyak
terjadi kejadian bengis seperti pemerkosaan dan pembunuhan," cerita Voni saat
bersekolah di Timika.
Sementara Simon Tabuni, yang saat ini menempuh studi di SOAS, London berkisah
tentang tantangan terberatnya belajar bahasa Inggris untuk meraih beasiswa.
Hak atas fotoSIMON TABUNIImage captionSimon Tabuni menempuh studi di SOAS,
London.
"Pencapaian saya hingga berakhir di SOAS University of London tidak terlepas
dari beberapa kegagalan, dalam peningkatan kompetisi bahasa Inggris, yang
menguras biaya, waktu dan tenaga," cerita Simon.