Putra-putri Papua dari ‘gubuk dan kurang makan’ sampai ke pendidikan bergengsi 
dunia http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42966268 58 menit lalu

 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42966268#  Bagikan artikel ini dengan 
Twitter http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42966268#  Bagikan artikel ini 
dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42966268#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Ftrensosial-42966268
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42966268#share-tools




 
 Hak atas fotoBILLY MAMBRASARImage captionBilly Mambrasar melanjutkan studi 
master of science di Universitas Oxford. Sejumlah mahasiswa Papua yang 
mendapatkan beasiswa di Inggris bercerita tentang kerja keras mereka, mulai 
dari provinsi asal dengan kondisi sangat terbatas sampai ke jenjang pendidikan 
bergengsi dunia.
 Kondisi terbatas yang mereka alami di Papua, termasuk "rumah gubuk tanpa 
listrik dan kurang makan" dan minimnya prasarana lain, tak menyurutkan kerja 
keras mereka untuk sampai ke perguruan tinggi.
 Dengan keberhasilan di perguruan tinggi di Inggris, mereka banyak mendorong 
dan membantu para siswa di Papua dan Indonesia pada umumnya yang juga "ingin 
melanjutkan studi lebih lanjut termasuk di luar negeri."
 #KabarDariInggris Putra-putri Papua yang berprestasi 
https://www.facebook.com/bbc.indonesia/posts/10160103539790434 Tim mahasiswa 
Indonesia yang ingin 'selamatkan ratusan ribu penderita TBC' 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42011389 George Saa, pemuda Papua 
dengan prestasi 'sangat spesial' 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-38897729 Cerita siswi Malaysia yang 
ditawari delapan universitas terbaik Amerika 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-39586088 Para mahasiswa ini termasuk Billy 
Mambrasar, Rio Albert, Voni Blesia, Simon Tabuni dan George Saa.
 Billy, yang berasal dari Serui saat ini tengah menempuh gelar Master of 
Science di Said Business School, Universitas Oxford, setelah sempat mendapat 
beasiswa di Australia dan ikut dalam pertukaran di Universitas Harvard, Amerika 
Serikat.
 "Orang tua saya kan cuma pekerja lepas dan ibu saya jual-jual kue di pasar ... 
siapa yang sangka, bayar SPP sering tertunda … makan kurang, rumah dari atap 
rumbia tanpa listrik dan untuk bertahan hidup harus berjualan kue di pasar, 
tapi akhirnya bisa bersekolah di salah satu sekolah bergengsi," kata Billy.
Hak atas fotoBILLY MAMBRASARImage captionTas yang dibagikan saat masuk 
Universitas Oxford mengingatkan Billy akan pembagian tas yang harus diambil 
ibunya saat masih SD di Papua. "Mengangkat keluarga dari kemiskinan" "Semoga 
ini bisa jadi inspirasi buat anak-anak miskin Indonesia dan Papua lain…bahwa ke 
institusi pendidikan tingkat dunia bukan tidak mungkin," kata Billy saat 
diterima di Universitas Oxford.
 Cerita lain dari Rio Albert yang berasal dari Wamena dan "sering terlambat ke 
sekolah karena kabut yang tak bisa diprediksi" di daerah pedalaman Papua itu.
 Rio yang saat ini mengambil program doktoral di Universitas Southampton 
Inggris, bidang sosiologi dan kebijakan sosial. bersekolah sampai SMP di Wamena 
dengan tantangan "mencari sekolah lanjutan yang lebih baik."
 "Saya mendengar dari kakak kelas saya yang melanjutkan sekolah di Jayapura 
karena relatif kualitas sekolah lebih baik ketimbang di pedalaman. Tantangannya 
yah jauh dari keluarga karena tidak punya famili di Jayapura."
 Baik Rio maupun Billy, secara individu dan berkelompok membantu para siswa di 
Indonesia, khususnya di Papua dan daerah terpencil lain dalam bidang pendidikan.
 Saat orang Madiun yang lama tinggal di Malang bertemu dengan 'orang Solo' 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42822228 Tempe: 'Makanan ajaib' yang 
(masih) dianggap murahan di Indonesia 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38529395 Seberapa besar kesempatan kerja 
bagi kelompok difabel di Indonesia? 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41495572 "Kami membentuk grup di sosial 
media antara lain Papua Scholarship (beasiswa Papua) ... dan juga pusat karir, 
kesempatan magang, kursus dan juga kami bagikan bahan belajar yang kami 
harapkan dapat membantu belajar, bisa memotivasi adik-adik belajar lebih giat, 
kemudian mengejar cita-cita lebih tinggi," kata Rio.
 Menurutnya, kelompok-kelompok ini dibuat bersama rekan lain termasuk Billy dan 
juga George Saa.
 Sementara Billy melalui organisasi yang dibentuk bersama profesional muda 
Indonesia lain, Kitong Bisa, memberikan pelatihan wirausaha untuk anak-anak 
muda di daerah terpencil, terutama di Papua dan Aceh.
 "Lembaga ini didirikan berdasarkan kisah hidup saya yang mampu mengangkat 
keuarga dari kemiskinan menjadi lebih baik karena akses terhadap pendidikan," 
kata Billy.
 "Pendidikan kewirausahaan ditujukan agar mereka punya semangat untuk bertahan 
hidup dengan keterampilan yang dia punyai," tambahnya.
Hak atas fotoRIO ALBERTOImage captionRio Alberto bersama para mahasiswa Papua 
lain di pinggir Sungai Thames, London. Membangun Papua dari pendidikanHak atas 
fotoGEORGE SAAImage captionGeorge Saa memimpin organisasi Lingkar Studi Papua. 
Mahasiswa lain George Saa, mahasiswa S2 teknik material di Birmingham, Inggris, 
banyak mendapatkan tawaran beasiswa setelah menang dalam kompetisi dunia First 
Step di Nobel Prize dalam fisika pada 2004 saat masih di SMA.
 Sempat pula mengalami kesulitan finansial untuk melanjutkan sekolah namun di 
tengah tantangan ini, moto "selalu ada jalan" membuatnya sampai menempuh 
jenjang pendidikan seperti sekarang.
 Sebagai ketua Lingkar Studi Papua, George bersama rekan-rekan dari Papua lain 
ingin "membangun Papua dari segi pendidikan" karena masih tertinggalnya 
provinsi ini dari target nasional dari sisi pendidikan.
Hak atas fotoVONI BLESIAImage captionVoni Blesia mengambil gelar doktor dengan 
penelitian soal kelebihan zat besi yang menyebabkan diabetes tipe-2. Mahasiswa 
asal Papua lain yang berprestasi termasuk Voni Blesia dan Simon Tabuni.
 Voni yang berasal dari Timika tengah menempuh gelar doktoral dalam bidang Life 
Sciences dengan peneltian tentang kelebihan zat besi yang dapat menyebabkan 
diabetes tipe-2.
 "Setiap berangkat sekolah selalu jam 5 pagi. Ini hal yang biasa, namun yang 
berbeda adalah jam segitu masih gelap dan saya sebagian besar waktu selalu 
sendiri bersama dengan sang supir," tutur Voni.
 "Saya terkadang berpikir tentunya saat berada di bangku perkuliahan, saya kok 
dulu berani sekali sendiri bersama dengan sang supir yang bisa saja melakukan 
hal-hal yang sadis."
 "Sepanjang jalan saat itu masih penuh dengan hutan yang isu-isunya banyak 
terjadi kejadian bengis seperti pemerkosaan dan pembunuhan," cerita Voni saat 
bersekolah di Timika.
 Sementara Simon Tabuni, yang saat ini menempuh studi di SOAS, London berkisah 
tentang tantangan terberatnya belajar bahasa Inggris untuk meraih beasiswa.
Hak atas fotoSIMON TABUNIImage captionSimon Tabuni menempuh studi di SOAS, 
London. "Pencapaian saya hingga berakhir di SOAS University of London tidak 
terlepas dari beberapa kegagalan, dalam peningkatan kompetisi bahasa Inggris, 
yang menguras biaya, waktu dan tenaga," cerita Simon.

 

Kirim email ke