Bagaimana kalau tanggal merah hari besar semua agama itu dihapus dan sebagai 
gantinya diadakan pemisahan agama dan negara?
---"Indonesia memiliki 17 tanggal merah hari besar semua agama. Para menteri, 
panglima, pejabat tinggi negara, legislator, kepala daerah di Indonesia juga 
banyak berasal dari agama minoritas yang tidak terjadi di negara-negara lain, 
termasuk Eropa yang demokratis," katanya.
....
MUI: Konflik antaragama akibat faktor non-agama


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
MUI: Konflik antaragama akibat faktor non-agama - ANTARA News

antaranews.com

Konflik antaragama lebih disebabkan pada berbagai faktor di luar agama, seperti 
ketimpangan ekonomi atau hak yan...
 |

 |

 |




 Rabu, 7 Februari 2018 19:13 WIB

Logo Majelis Ulama Indonesia (MUI). (mui.or.id)


Jakarta (ANTARA News) - Konflik antaragama lebih disebabkan pada berbagai 
faktor di luar agama, seperti ketimpangan ekonomi atau hak yang dipinggirkan, 
kata Ketua Komisi Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Manager 
Nasution.

"Jadi konflik bukan berasal dari doktrin agama. Justru agama itu mengajarkan 
kebaikan, menghargai orang lain dan toleransi," katanya dalam diskusi 
"Kemajemukan untuk Kerukunan Bangsa: Refleksi dan Proyeksi" di Universitas 
Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) di Jakarta, Rabu.

Dalam diskusi jelang Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa di 
Jakarta pada 8-10 Februari 2018 itu, ia mengatakan, pada dasarnya bangsa 
Indonesia hidup damai, rukun dan terbiasa dengan kemajemukan, meski terkadang 
ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan agama untuk memicu terjadinya 
gesekan demi kepentingan politik tertentu.

Karena itu, ujar dia, pihaknya menentang pihak asing yang memberi label bahwa 
bangsa Indonesia intoleran, karena kerukunan agama di Indonesia memang fakta.

"Indonesia memiliki 17 tanggal merah hari besar semua agama. Para menteri, 
panglima, pejabat tinggi negara, legislator, kepala daerah di Indonesia juga 
banyak berasal dari agama minoritas yang tidak terjadi di negara-negara lain, 
termasuk Eropa yang demokratis," katanya.

Selain itu rumah ibadah dari berbagai agama bisa ditemui dengan mudah, bahkan 
data resmi pada 1997-2004, pertumbuhan gereja Katolik tumbuh sebesar 153 
persen, gereja Protestan 131 persen, wihara 368 persen, pura 475 persen, 
sedangkan masjid hanya 64 persen, ujar dia. 

Menurut Manager, kalaupun ada konflik antaragama sifatnya lokal, misalnya ada 
penolakan pembangunan gereja di suatu daerah di Indonesia Barat, di sisi lain 
ada pula penolakan pembangunan masjid di suatu daerah di Indonesia Timur.

Untuk mengantisipasi konflik, ujar dia, caranya adalah hadirnya negara di 
tengah masyarakat dalam bentuk peraturan yang mengikat semua pihak, sehingga 
setiap konflik bisa diselesaikan di meja hijau. 

Sementara itu, Direktur Maarif Institute Abdullah Darraz mengatakan hal senada 
bahwa kasus konflik berlatar belakang agama di Indonesia berbeda-beda dari satu 
daerah ke daerah lain, termasuk konflik internal agama, misalnya Islam suni dan 
syiah atau dengan Ahmadiyah. 

"Negara harus membuat peraturan agar tidak terjadi persekusi dari suatu 
kelompok kepada kelompok lainnya. Hindari main hakim sendiri," kata tokoh 
Intelektual Muda Muhammadiyah itu.

Menurut dia, Indonesia memerlukan dialog antarumat beragama dan relasi 
antaraktor agama yang lebih efektif memberi dampak pada kerukunan. 

"Pancasila merupakan doktrin terbaik bagi bangsa Indonesia untuk menjaga 
kemajemukan dan kerukunan itu," katanya.

Sedangkan Wakil Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan 
Pengembangan Pengurus Pusat Muhammadiyah Zamah Sari mengatakan, pada dasarnya 
tidak ada yang salah dengan doktrin agama dan para penganutnya.

"Justru hubungan antaragama dalam tradisi lokal di Indonesia itu terjalin 
sangat indah. Malahan pernyataan penguasa itu yang jangan-jangan bisa memicu 
konflik di antara masyarakat yang damai ini," kata Wakil Rektor Uhamka itu..

Pewarta: Dewanti Lestari
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kirim email ke