Wuling Usik Hegemoni Pabrikan Jepang dengan Cortez dan ConferoGHULAM MUHAMMAD 
NAYAZRI
Kompas.com - 09/02/2018, 09:48 WIB
Wuling Cortez tampak depan.(Istimewa)

Jakarta, KOMPAS.com – Gelontorkan investasi sampai 700 juta dolar AS atau Rp 
9,6 triliunan (Rp 13.666,67), Wuling Indonesia tak main-main dan mau panjang 
umur di industri otomotif dalam negeri. Angka tersebut membuatnya jadi merek 
otomotif China pertama, yang berani head to head dengan pemain Jepang.

Setelah Confero yang datang hampir bersamaan dengan Xpander untuk melawan 
hegemoni Avanza-Xenia, kali ini giliran Cortez yang mencoba mengusik “zona 
nyaman” Innova, serta beberapa merek asal Jepang lainnya.

Melihat peta persaingan lewat data wholesales Gabungan Industri Kendaraan 
Bermotor Indonesia (Gaikindo), medium MPV dikuasai absolut oleh Innova dengan 
share sepanjang 2017 mencapai 73,35 persen. Total penjualannya pada tahun 
kemarin mencapai 61.775 unit, atau naik dari 57.491 di 2016.

Belum bergeser dari merek sama, Sienta menduduki posisi kedua dengan perolehan 
14.968 unit atau menguasai 17,77 persen pasar. Sayangnya MPV pintu geser Toyota 
ini harus turun 16,52 persen dibanding 2016.

Baca juga : Wuling Cortez Banjir Fitur, Ini Detail Lengkapnya



Segmen MPV (diolah dari data Gaikindo).(Ghulam/KompasOtomotif)Lalu ada Grand 
Livina dengan pangsa pasar 7,37 persen atau menjual sebanyak 6.204 unit, naik 
16,86 persen dari tahun sebelumnya. Terakhir ada Panther yang melenggang 
santai, hanya menjual 1.182 unit atau mendapat 1,4 persen jatah kue. Sementara 
Proton Exora nol sepanjang 2017. 

Tak Banyak Pilihan

Berbeda dengan segmen produksi massal lainnya seperti LCGC, mobil kota, LMPV, 
Upper MPV, LSUV, atau SUV, biasanya ada lebih dari lima model yang ditawarkan. 
Namun di medium MPV ini, sejak 2017 hanya ada lima model sebelum Cortez datang 
(Innova, Sienta, Grand Livina, Panther dan Exora).

Honda sudah menghentikan penjualan Freed di dalam negeri sejak 2016 lalu di 
mana data wholesales sudah kosong sejak Juni 2016. Sementara Exora belum jelas 
nasibnya, karena terakhir pada Juli 2017, pihak Proton sedang menyiapkan mesin 
baru tapi belum ada kabar lanjutan.

Peluang Cortez

Terlepas dari dimasukkannya Confero ke arena pertarungan “bersimbah darah” di 
segmen Low MPV, Cortez kali ini tampaknya lebih punya napas untuk bisa bermain 
di posisi atas. Pasalnya secara kasat mata, berdasarkan harga, bekal fitur dan 
kemewahan interiornya, harusnya tak sulit merangsek ke posisi-posisi atas.

Entah dengan merebut pasar dari pemain medium MPV yang ada, atau menyomot dari 
segmen lain dengan harga yang bersinggungan (rata-rata LMPV). Cortez sendiri 
punya harga jual termurah Rp 218 juta dan termahal Rp 264 juta, dilengkapi 
hampir 20 fitur keamanan dan kenyamanan.

Tidak bisa dipungkiri kalau konsumen Indonesia sudah terjajah merek Jepang, 
sampai hampir tak berani berpaling. Bagaimana tidak, selain eksistensinya, 
mereka juga sedikit banyak buktikan kualitas produk, pelayanan pasca pembelian 
atau aftersales service, dan ketersediaan suku cadang.

Mendapat kepercaraan lebih, itulah yang dilakukan Nippon, yang sudah mapan dari 
A sampai Z di industri otomotif. Meski begitu, bukan berarti tak ada kesempatan 
untuk bisa merebut hati konsumen Indonesia. Gelontoran investasi yang besar dan 
ketersediaan jaringan mencapai 54 titik, di awal eksistensinya sepanjang enam 
bulan, cukup untuk sebuah “gertakan” merek asal China, Wuling. 



Wuling Cortez.(Istimewa)

Kirim email ke