Laporan Langsung Evi Ariska dari Asmat Terungkap Pemicu Tingginya Angka Gizi Buruk dan Campak di Asmat Rendahnya Edukasi Kesehatan JUMAT, 09 FEB 2018 09:30 | EDITOR : ILHAM SAFUTRA Warga Asmat ketika dilanda KLB Gizi buruk dan Campak beberapa hari lalu.(Elfira/Cenderawasih Pos/Jawa Pos Group)
JawaPos.com - Menjadi seorang perawat di pedalaman bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih lagi tidak ada kehadiran seorang dokter sebagai pembimbingnya.. Kala ada pasien yang kondisinya parah perawat harus bisa memutuskan tindakan medis lanjutan. Devi Dewiyana, 26, seorang perawat yang baru satu tahun ditugaskan di Puskesmas Kampung Yausakor, Distrik Siret, Kabupaten Asmat, Papua merasa mendapat banyak tantangan saat menghadapi pasien di daerah itu. "Saya sudah 1 tahun ditugaskan di sini, dari Makassar. Pengalaman banyak sekali, itu jadi tantangan juga buat saya," kata Devi saat ditemui JawaPos.com di Kampung Yausakor, Kamis (8/2). Berita Terkaita.. Dinkes Solo Buka Lowongan 98 Pegawai Kontrak b.. Enam Rumah Sakit Dipersiapkan, Ribuan Tenaga Dibutuhkan c.. Aroma Pungli di Penerimaan PTT, Setoran Hingga Mencapai Rp50 Juta Di Puskesmas Yausakor terdapat 26 tenaga medis yang terdiri dari bidan, ahli gizi dan perawat tanpa kehadiran seorang dokter. Meski tanpa bantuan dokter, para tenaga medis selalu berkomunikasi melalui telepon seluler untuk berkonsultasi terkait keadaan pasien. "Kalau ada pasien gawat gitu kan kita konsultasi sama dokter di Agats via telpon atau via sms," ungkapnya. Tantangan yang tidak kalah beratnya sambungnya, sulitnya mengajak warga sekitar untuk memeriksakan anak-anaknya. Hampir seluruh anak di distrik Siret takut dengna suntikan. Tenaga medis di Puskesmas Sirek, Asmat, Papua (Evi Ariska/JawaPos.com) "Ya kemarin pas imunisasi kami panggil masyarakatnya, dia kadang tidak mau. Kadang kalau kami datang ke sana mereka berlarian kemana-mana. Dia kan takut disuntik, maksudnya selama ini kalau dia imunisasi kan deman, jadi dia takut habis disuntik deman," ucap Devi. Hal itu disinyalir menjadi bentuk rendahnya daya tubuh masyarakat di Distrik Siret. Ketika terpapar virus langsung kena penyakit. Di antaranya gizi buruk atau campak. Sebab warga sangat enggan ke rumah sakit. Buktiknya, kata Devi, ketika ada pasien di puskesmas dan harus dirujuk ke RSUD Agats, keluarga pasien menolak. Ketika ada penolakan seperti itu para perawat tidak memiliki pilihan, selain meminta keluarga pasien menandatangani surat penolakan rujukan. "Misalnya kami konsultasi, nah kadang kan pasien kalau sudah gawat itu dirujuk ke Agats. Nah, kadang pasien dia tidak mau dirujuk. Kalau tidak mau rujuk kami kasih tanda tangan penolakan tindakan rujukan," terangnya. Devi memahami perilaku tersebut. Hal itu dipicu kurangnya edukasi kesadaran kesehatan di Kampung Yausakor. Untuk itu pihaknya terus berupaya memberikan sosialisasi dan pendekatan agar warga sekitar dapat memerhatikan kesehatan. "Masyarakat di sini itu pemahamannya masih kurang. Dia kan pendidikannya masih rendah. Tapi kita edukasi beri pengertian, sekarang sudah ada kemajuan beberapa mau diperiksa," tandasnya. Senada dengan Devi, Kepala Puskesmas Kampung Yausakor mengaku kesulitan dalam merawat pasien. Pasalnya, keluarga pasien kerap kali menolak jika anak mereka diminta untuk rawat inap atau dirujuk ke RSUD Agats. "Masyarakat di sini begitu pola hidupnya, biar kita kasih penyuluhan tapi dia tidak punya kemauan. Banyak yang ngasih surat penolakan kalau mau kita rujuk, kalau kita paksa, marah dia," pungkasnya. (eve/JPC)
