Memang tidak mudah bekerja di suku2 di pedalaman Papua.
Perlu orang yang bisa serba guna, atau ada satu team dengan berbagai
keahlian. Anggota team bisa saling belajar satu sama lain, dan mungkin
setelah itu dua orang dengan berbagai keahlian  bisa disebar ke daerah
pedalaman.
Mereka harus tinggal bersama suku pedalaman, membantu kehidupan
sehari-hari, bisa kerja serba guna, dari memperbaiki gizi, menanam tanaman
yang berguna, menanam tanaman berkhasiat untuk obat, membantu
mencari sumber air, membantu meringankan beban hidup, jadi penghubung
dengan instansi lain dan atasannya dll., sampai dipercayai penduduk
setempat.
Kalau mereka berhasil dalam tugasnya, ya mesti ada promosi. Mereka sendiri
paling sedikit dikirimi bacaan2 yang berguna untuk tugasnya dan dapat kursus
penyegaran, dan dapat pengalaman praktek team lain.
Sebenarnya, kesempatan dari partai politik, untuk mentest kadernya,
memajukan
daerah pedalaman. Kecuali kalau hanya mau ngomong saja dan dapat jabatan
yang korupsi dapat dilakukan.


2018-02-09 4:47 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Laporan Langsung Evi Ariska dari Asmat Terungkap Pemicu Tingginya Angka
> Gizi Buruk dan Campak di Asmat Rendahnya Edukasi Kesehatan
>
> JUMAT, 09 FEB 2018 09:30 | EDITOR : ILHAM SAFUTRA
> [image: Warga Asmat ketika dilanda KLB Gizi buruk dan Campak beberapa hari
> lalu.]
> <https://www.jawapos.com/uploads/news/2018/02/09/terungkap-pemicu-tingginya-angka-gizi-buruk-dan-campak-di-asmat_m_187427.jpeg>
>
> Warga Asmat ketika dilanda KLB Gizi buruk dan Campak beberapa hari 
> lalu.*(Elfira/Cenderawasih
> Pos/Jawa Pos Group)*
>
> *JawaPos.com* - Menjadi seorang perawat di pedalaman bukanlah sesuatu
> yang mudah. Terlebih lagi tidak ada kehadiran seorang dokter sebagai
> pembimbingnya. Kala ada pasien yang kondisinya parah perawat harus bisa
> memutuskan tindakan medis lanjutan.
>
> Devi Dewiyana, 26, seorang perawat yang baru satu tahun ditugaskan di
> Puskesmas Kampung Yausakor, Distrik Siret, Kabupaten Asmat, Papua merasa
> mendapat banyak tantangan saat menghadapi pasien di daerah itu.
>
> "Saya sudah 1 tahun ditugaskan di sini, dari Makassar. Pengalaman banyak
> sekali, itu jadi tantangan juga buat saya," kata Devi saat ditemui
> *JawaPos.com* di Kampung Yausakor, Kamis (8/2).
> Berita Terkait
>
>    - Dinkes Solo Buka Lowongan 98 Pegawai Kontrak
>    
> <https://www.jawapos.com/read/2018/01/26/184118/dinkes-solo-buka-lowongan-98-pegawai-kontrak>
>    - Enam Rumah Sakit Dipersiapkan, Ribuan Tenaga Dibutuhkan
>    
> <https://www.jawapos.com/read/2017/12/08/173312/enam-rumah-sakit-dipersiapkan-ribuan-tenaga-dibutuhkan>
>    - Aroma Pungli di Penerimaan PTT, Setoran Hingga Mencapai Rp50 Juta
>    
> <https://www.jawapos.com/read/2017/09/12/156602/aroma-pungli-di-penerimaan-ptt-setoran-hingga-mencapai-rp50-juta>
>
> Di Puskesmas Yausakor terdapat 26 tenaga medis yang terdiri dari bidan,
> ahli gizi dan perawat tanpa kehadiran seorang dokter. Meski tanpa bantuan
> dokter, para tenaga medis selalu berkomunikasi melalui telepon seluler
> untuk berkonsultasi terkait keadaan pasien. "Kalau ada pasien gawat gitu
> kan kita konsultasi sama dokter di Agats via telpon atau via sms,"
> ungkapnya.
>
> Tantangan yang tidak kalah beratnya sambungnya, sulitnya mengajak warga
> sekitar untuk memeriksakan anak-anaknya. Hampir seluruh anak di distrik
> Siret takut dengna suntikan.
> [image: Tenaga medis di Puskesmas Sirek, Asmat, Papua]
>
> Tenaga medis di Puskesmas Sirek, Asmat, Papua *(Evi Ariska/JawaPos.com)*
>
> "Ya kemarin pas imunisasi kami panggil masyarakatnya, dia kadang tidak
> mau. Kadang kalau kami datang ke sana mereka berlarian kemana-mana. Dia kan
> takut disuntik, maksudnya selama ini kalau dia imunisasi kan deman, jadi
> dia takut habis disuntik deman," ucap Devi.
>
> Hal itu disinyalir menjadi bentuk rendahnya daya tubuh masyarakat di
> Distrik Siret. Ketika terpapar virus langsung kena penyakit. Di antaranya
> gizi buruk atau campak.
>
> Sebab warga sangat enggan ke rumah sakit. Buktiknya, kata Devi, ketika ada
> pasien di puskesmas dan harus dirujuk ke RSUD Agats, keluarga pasien
> menolak. Ketika ada penolakan seperti itu para perawat tidak memiliki
> pilihan, selain meminta keluarga pasien menandatangani surat penolakan
> rujukan.
>
> "Misalnya kami konsultasi, nah kadang kan pasien kalau sudah gawat itu
> dirujuk ke Agats. Nah, kadang pasien dia tidak mau dirujuk. Kalau tidak mau
> rujuk kami kasih tanda tangan penolakan tindakan rujukan," terangnya.
>
> Devi memahami perilaku tersebut. Hal itu dipicu kurangnya edukasi
> kesadaran kesehatan di Kampung Yausakor. Untuk itu pihaknya terus berupaya
> memberikan sosialisasi dan pendekatan agar warga sekitar dapat memerhatikan
> kesehatan.
>
> "Masyarakat di sini itu pemahamannya masih kurang. Dia kan pendidikannya
> masih rendah. Tapi kita edukasi beri pengertian, sekarang sudah ada
> kemajuan beberapa mau diperiksa," tandasnya.
>
> Senada dengan Devi, Kepala Puskesmas Kampung Yausakor mengaku kesulitan
> dalam merawat pasien. Pasalnya, keluarga pasien kerap kali menolak jika
> anak mereka diminta untuk rawat inap atau dirujuk ke RSUD Agats.
>
> "Masyarakat di sini begitu pola hidupnya, biar kita kasih penyuluhan tapi
> dia tidak punya kemauan. Banyak yang ngasih surat penolakan kalau mau kita
> rujuk, kalau kita paksa, marah dia," pungkasnya.
>
> *(eve/JPC)*
>
> 
>

Kirim email ke