Right or wrong, my countong..........

2018-02-11 2:38 GMT+01:00 [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
>
>
> Campak dan kelaparan di Asmat: ke mana APBD triliunan?
> <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42799894>
> Abraham UtamaBBC Indonesia
>
>    - 25 Januari 2018
>
>
>    - Bagikan artikel ini dengan Facebook
>    <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42799894#>
>    - Bagikan artikel ini dengan Twitter
>    <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42799894#>
>    - Bagikan artikel ini dengan Messenger
>    <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42799894#>
>    - Bagikan artikel ini dengan Email
>    
> <?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-42799894>
>
>    - Kirim <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42799894#share-tools>
>
> [image: Asmat]Hak atas fotoANTARA/REUTERSImage captionSeorang anak
> kekurangan gizi menjalani perawatan di RSUD Agats, satu-satunya rumah sakit
> di Kabupaten Asmat.
>
> Ribuan anak dilaporkan kekurangan gizi dan terpapar campak di Kabupaten
> Asmat, Papua, dalam empat bulan terakhir, sementara setidaknya lebih dari
> 60 anak lainnya telah meninggal dalam kejadian luar biasa (KLB) itu.
>
> Anak-anak di Asmat kekurangan gizi, meski anggaran pendapatan dan belanja
> daerah (APBD) kabupaten itu mencapai lebih dari Rp1 triliun pada 2017 dan
> mendapat jatah sekitar Rp106 miliar dari dana otonomi khusus Papua.
>
> Walau mengelola anggaran triliunan rupiah, Gubernur Papua Lukas Enembe
> menyebut masyarakat di sejumlah kabupaten dan kota tidak mendapatkan
> fasilitas dasar memadai, salah satunya di sektor kesehatan.
>
> "Sudah terjadi bertahun-tahun dan di mana-mana di Papua. Jangankan Asmat,
> tempat asal saya (Tolikara), daerahnya masih terbelakang. Ini bukan hal
> baru," kata Enembe di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/01) lalu.
>
>    - Gizi buruk dan campak, puluhan tewas di Papua: pemerintah lambat?
>    <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42646288>
>    - Korban jiwa akibat campak dan gizi buruk di Asmat terus meningkat
>    <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42685981>
>    - 'Kelaparan' dan wabah campak di Papua menyebar, korban jiwa hampir
>    100 orang <http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42758636>
>
> Dosen Ilmu Politik Universitas Cendrawasih, Marinus Maung, menilai
> penggunaan APBD di Papua tidak efektif dan tidak tepat sasaran karena
> persaingan politik pada pemilihan kepala daerah tidak berkesudahan.
>
> Dalam penelitiannya di beberapa kabupaten, kata Marinus, kepala daerah
> terpilih membatasi atau menghapus anggaran pelayanan publik, termasuk
> kesehatan, untuk daerah atau kelompok masyarakat yang menjadi basis lawan
> politik.
>
> "Politik anggaran semacam itu mendominasi kabupaten yang menjadi lokasi
> KLB," tutur Marinus kepada BBC Indonesia melalui sambungan telepon, Rabu
> (24/1).
>
> Krisis kesehatan yang melanda Asmat sebelumnya juga terjadi pada beberapa
> kabupaten lain di Papua, antara lain Yahukimo, Nduga, dan Pegunungan
> Bintang, yang juga memiliki APBD triliunan rupiah.
> [image: Asmat]Hak atas fotoANTARA/REUTERSImage captionSeorang ayah
> memeluk anaknya dalam perjalanan di atas perahu setelah berobat ke posko
> kesehatan di Kampung Jetsy, Asmat.
>
> Awal pekan ini, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebut Pemkab Asmat
> menganggarkan 10% APBD 2017 untuk kesehatan, sesuai anjuran pemerintah
> pusat.
>
> Tjahjo mengatakan kementeriannya tengah menginvestigasi hubungan
> sebab-akibat dalam alokasi anggaran dan krisis gizi di Asmat.
>
> Namun Marinus menduga penggunaan APBD tidak tepat sasaran karena
> kompetensi pejabat yang rendah. Menurutnya, kepala daerah di Papua
> cenderung mempolitisasi birokrasi.
>
> Para birokrat semacam itu disebut Marinus tidak dapat memaksimalkan
> anggaran yang tersedia.
>
> "Struktur pemerintahan dibangun atas dasar suka-tidak suka. Kepala dinas
> yang dulu berpihak ke kandidat lain digantikan 'orang-orang' kepala daerah
> baru, yang belum tentu punya kompetensi," ucapnya.
> [image: Asmat]Hak atas fotoANTARA/REUTERSImage captionSeorang ibu
> menemani anaknya yang kekurangan gizi di pusat penanggulangan KLB.
> Keterbatasan rumah sakit memaksa posko kesehatan didirikan di bangunan
> gereja di Agats.Kalau ke puskesmas, apakah ada minyak atau perahu?
>
> Kabupaten Asmat yang terdiri dari sembilan distrik (setingkat kecamatan)
> dan lebih dari 100 kampung. Luas kabupaten itu mencapai 29.000 kilometer
> persegi atau 48 kali luas DKI Jakarta.
>
> Pemuka agama di Asmat, Uskup Aloysius Murwito, menyebut akses transportasi
> menuju dan di dalam Asmat sangat buruk. Kampung terjauh dari Agats, ibu
> kota Asmat, berjarak tujuh jam perjalanan laut menggunakan perahu mesin.
>
> "Kampung-kampung itu tidak memiliki fasilitas listrik atau air yang
> memadai, alat komunikasi pun tidak ada.
>
> "Di tempat seperti itu fasilitas dasar sungguh rendah, terutama kesehatan
> dan pendidikan," ujar Aloysius kepada BBC Indonesia saat dihubungi dari
> Jakarta.
> [image: Asmat]Hak atas fotoANTARA/REUTERSImage captionAnak penderita
> kekurangan gizi melangkah di jalan papan usai berobat di posko kesehatan di
> Agats, ibu kota Asmat yang dijuluki kota papan karena jalanan di daerah
> rawa itu berbahan papan, bukan beton.
>
> Aloysius yang telah 15 tahun menetap di Asmat mengatakan, tenaga kesehatan
> di perkampungan, terbatas. Kalaupun ada, kata dia, petugas medis dari
> pemerintah itu jarang bersiaga di posko kesehatan.
>
> "Kalau ada orang sakit, siapa yang menangani? Kalau harus pergi ke
> puskesmas di distrik, apakah ada minyak atau perahu? Tidak ada penjual
> solar di kampung.
>
> "Karena tidak bisa pergi saat itu juga dan perjalanan pun tidak singkat,
> tidak heran kalau banyak anak tidak sembuh. Tidak ada obat dan pengobatan,"
> tutur Aloysius.
> [image: Asmat]Hak atas fotoANTARA/REUTERSImage captionAnak-anak
> kekurangan gizi di Asmat juga dilarikan ke posko kesehatan yang dibuka TNI
> di Agats.
>
> Menurut data Badan Pusat Statistik, setidaknya hingga 2013, Asmat hanya
> memiliki 12 puskesmas dan 12 dokter. Rumah Sakit Umum Daerah yang tergolong
> tipe C berada di Agats.
>
> Kementerian Kesehatan pekan lalu mengirim puluhan dokter ke Asmat untuk
> menanggulangi KLB. Presiden Joko Widodo pun memerintahkan TNI dan Polri
> mengerahkan tenaga medis dan membuka posko kesehatan.
>
> Namun Marinus Maung menyebut Pemprov Papua dan Pemkab Asmat menyediakan
> lebih banyak tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan dedikasi.
>
> "Tantangan melayani kesehatan warga di pedalaman memang berat. Pemerintah
> daerah harus memberikan jaminan kesejahteraan yang tinggi," tuturnya.
>
>
> 
>

Kirim email ke