*Tidak dibubarkan, tetapi dipelihara dengan topeng dibubarklan.*.

http://www.suara-islam.com/read/kolom/surat-pembaca/25044/-Sia-sia-Bubarkan-HTI
Sia-sia Bubarkan HTI

10 Februari 22:15 | Dilihat : 2506

[image: Sia-sia Bubarkan HTI] Ilustrasi: Demonstrasi Muslimah menolak
Perppu Ormas. [foto: tribunnews.com]

Jumat 9 Februari 2018, saat berjalan menuju pintu gerbang Masjid Jami’
Babussalam, Kecamatan Kanigaran-Probolinggo, ada pemuda membagi-bagikan
selebaran kepada para jamaah. Ternyata selebaran berupa buletin "Kaffah".
Tidak saya baca halaman depan, langsung beralih ke bagian kesimpulan.
Disitu ada solusi khas ala Hizbut tahrir. "Jika syariah diterapkan secara
menyeluruh..." "hal itu bisa diwujudkan di dalam sistem Khilafah Rasyidah".
Apapun masalahnya, khilafah menjadi satu satunya obat mujarab.

Dibubarkan rezim Jokowi lewat Perppu nomor 2 tahun 2017, Kiprah Hizbut
Tahrir tak pernah berhenti dari dunia dakwah. Buletin Jumat yang kini
mereka sebarkan telah berganti nama dari Al-Islam ke Kaffah. Namanya boleh
beda, isinya tetap sama. "SK nya dari Allah swt, tak ada kata dakwah
berhenti," ujar Arman saat saya temui menjemput putrinya di TK 'Aisyiyah 20
Kota Malang. Arman mengatakan dakwah para syabab hanya berganti cover.
Ibarat bunglon, menyesuaikan dengan lingkungannya.

Di media sosial, kiprah mereka masih nyaring mengritik pemerintah dan rezim
yang mereka anggap diktator di luar negeri. Lewat fanpage "Harakatono" dan
"Kaffah Media". Dua fanpage ini cukup rajin membuat aneka meme. Ada pula
fanpage "Shautul Ulama Media" menggalang opini "Kyai Membela HTI". Isinya
menghimpun berbagai pandangan moderat kyai terhadap kiprah Hizbut Tahrir.
Entahlah mereka kyai betulan atau kyai jadi-jadian.

Selain buletin dan fanpage facebook, aktivitas dakwah mereka bersifat
seminar, pengajian dan training keislaman. Januari 2018, salah satu elite
Hizbut tahrir KH. Shiddiq al Jawi menggelar kajian fiqh muamalah. Beliau
menggandeng "Komunitas Tanpa Riba". Di Masjid  As-Syahriyah Jalan Pluto No.
5, beliau menerangkan hukum syirkah.

Bukan hanya KH. Shiddiq, Ustaz Felix Siauw aktif berdakwah menyasar remaja.
Beliau tidak koar-koar isu khilafah. Hanya mengritisi budaya pacaran dan
pergaulan bebas remaja. Bulan november 2017, kajian Felix batal digelar
karena di satroni Banser.

Lembaga pendidikan formal yang dikelola syabab Hizbut Tahrir tetap berjalan
seperti biasa. Mulai SDIT Insantama Kota Malang, SMPIT Al Amri Leces,
Probolinggo hingga STEI Hamfara Yogyakarta. Walau anti demokrasi, tapi
kampus yang berafiliasi ke Hizbut Tahrir ini mau mengurus akreditasi ke
Badan Akreditasi Nasional.

Menurut pandangan saya, sia-sia pemerintah membubarkan kelompok Hizbut
Tahrir. Karena pada hakekatnya, cuma tiga kelompok yang membahayakan
eksistensi negara ini: pemburu rente (koruptor), korporasi asing dan
pejabat yang masih punya pola pikir warisan Mafia Barkeley. Jadi harusnya
pemerintah fokus memerangi tiga kelompok tersebut.  Wallahu'allam.


*Fadh Ahmad Arifan **Pendidik di MA Muhammadiyah 2 Kota Malang*

Kirim email ke