https://fokus.tempo.co/read/1059766/penyerangan-di-gereja-st-lidwina-ancaman-serius-di-tahun-politik
Penyerangan di Gereja St Lidwina, Ancaman
Serius di Tahun Politik
Reporter:
Danang Firmanto
Editor:
Kodrat Setiawan
Senin, 12 Februari 2018 09:09 WIB
0 komentar
<https://fokus.tempo.co/read/1059766/penyerangan-di-gereja-st-lidwina-ancaman-serius-di-tahun-politik#comments>
513111
# Font:
# Ukuran Font: -
<https://fokus.tempo.co/read/1059766/penyerangan-di-gereja-st-lidwina-ancaman-serius-di-tahun-politik#font-decrease>
+
<https://fokus.tempo.co/read/1059766/penyerangan-di-gereja-st-lidwina-ancaman-serius-di-tahun-politik#font-increase>
#
#
Penyerangan di Gereja St Lidwina, Ancaman Serius di Tahun Politik
<https://fokus.tempo.co/read/1059766/penyerangan-di-gereja-st-lidwina-ancaman-serius-di-tahun-politik>
Suasana pasca-penyerangan Gereja Santa Lidwina, Sleman Yogyakarta.
Aparat kepolisian terlihat masih berjaga-jaga di sekitar lokasi.
TEMPO/Pribadi Wicaksono
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Sejumlah kalangan mendesak pemerintah agar
mengusut otak pelaku kekerasan bermodus penyerangan terhadap tokoh agama
termasuk penyerangan di Gereja St Lidwina
<https://www.tempo.co/tag/serangan-gereja> Sleman. Koordinator Komisi
untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Yati
Andriyani, mengatakan penyerangan terhadap tokoh agama tak bisa
dipandang terpisah hanya dari setiap kasus yang muncul.
"Ini ancaman serius. Dampaknya akan meluas jika hanya diselesaikan kasus
per kasus tanpa melihat dimensi politik," kata dia kepada Tempo, Ahad,
11 Februari 2018.
*Baca juga: Ketua DPR: Kasus Gereja Sleman Jangan Jadi Ajang Adu Domba
<https://nasional.tempo.co/read/1059758/ketua-dpr-kasus-gereja-sleman-jangan-jadi-ajang-adu-domba>*
Menurut Yati, sejumlah kekerasan yang menimpa tokoh agama tidak bisa
dilepaskan dengan situasi politik menjelang pemilihan kepala daerah
serentak pada 27 Juni 2018 dan Pemilihan Umum 2019. Ia yakin ada otak di
balik setiap kasus penyerangan terhadap sejumlah pemuka agama. Sebab,
dalam kontestasi pilkada, kata dia, pendukung akan menggunakan cara-cara
bermuatan suku ras dan agama untuk memecah belah masyarakat di akar rumput.
Dalam dua bulan terakhir terjadi empat penyerangan terhadap tokoh agama.
Pada 27 Januari lalu, pemimpin Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka,
Bandung, Kiai Umar Basri mendapat penganiayaan orang tak dikenal. Pada 1
Februari lalu, Komando Brigade Persatuan Islam di Bandung, Ustaz
Prawoto, tewas dianiaya orang yang diduga mengalami depresi. Enam hari
berselang, persekusi dialami Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di
Legok, Tangerang.
Kemarin, kekerasan menimpa Romo Edmund Prier, SJ, beserta jemaatnya di
Gereja St Lidwina Bedog Trihanggo, Sleman, Yogyakarta. Ia diserang
dengan pedang oleh Suliyono, yang berstatus mahasiswa asal Banyuwangi.
Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, mengatakan
kasus-kasus yang muncul menimpa tokoh agama merupakan bentuk serangan
kebebasan beragama lantaran terjadi ketika mereka sedang beribadah. Ia
menilai penyerangan terjadi karena ada kelompok yang merasa diuntungkan
secara ekonomi, politik, ataupun sosial dengan menggunakan isu keagamaan.
"Kalau terus dilakukan pembiaran dan tidak diselesaikan secara serius,
hal itu dikhawatirkan akan menjadi problem yang lebih besar lagi di
kemudian hari," ujar dia.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Muhammad
Iqbal, meminta semua pihak tidak berasumsi terlalu jauh perihal
banyaknya kasus penyerangan terhadap sejumlah tokoh agama termasuk
penyerangan di Gereja St Lidwina
<https://www.tempo.co/tag/serangan-gereja>. Ia memastikan kepolisian
setempat bakal menegakkan hukum. "Yang jelas, kami saat ini melakukan
proses penegakan hukum sesuai dengan fakta yang ada," kata dia sembari
meminta masyarakat agar tidak menganggap itu sebagai pengalihan isu.
*RIANI SANUSI PUTRI | M. YUSUF MANURUNG*
------------------------------------------------------------------------